Ahlan Wa Sahlan Sang Mujahid Keadilan Kiai Shobri Lubis

Oleh Akbar Hussein *

semarak.co-“Berhati-hatilah dengan fikiranmu, karena dia bisa menjadi Ucapanmu.”

“Berhati-hatilah dengan ucapanmu karena dia akan menjadi Kebiasaanmu”

“Hati-hatilah dengan kebiasaanmu karena dia akan menjadi Karaktermu”

“Hati-hatilah dengan Karaktermu karena dia akan menjadi Takdirmu.”

(by Dalai Lama)

Alhamdulillah, Rabu tanggal 6 Oktober 2021 sosok ulama kharismatik Sang Mujahid Keadilan dan mantan Ketua Umum FPI Kiai Shobri Lubis telah bebas keluar setelah sekian waktu lamanya mendekam di penjara.

Di saat Sang Imam Besar Habib Riziek Shihab (IB HRS) yang tengah berada di Arab Saudi, maka tampuk kepemimpinan komando ulama langsung dipegang oleh Kiai Sobri Lubis bersama para ulama lainnya dalam rangka melanjutkan dakwah dan pergerakan amar ma’ruf nahi munkar di Indonesia.

Tentunya Komando Ulama yang dipegang oleh Kiai Shobri Lubis dalam rangka dakwah dan pergerakan amat ma’ruf nahi munkar selama ini telah berjalan sangat baik dan secara konsisten terus menerus menyuarakan kebenaran dan tegaknya keadilan di Bumi Indonesia.

Namun keberadaan Kiai Shobri Lubis yang memegang kendali komando ulama ini nampaknya tidak disenangi rezim saat ini sehingga dugaan kami meyakini bahwa hal itulah yang menjadikan Kiai Shobri Lubis dijadikan Target Operasi (TO) utama untuk ditangkap.

Maka setelah kepulangan Imam Besar Habib Riziek Shihab tahun lalu ke Tanah Air yang selanjutnya diadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus pernikahan putri Habib Riziek Shihab di markas FPI Petamburan.

Dimana imbas dari penyelenggaraan kedua acara tersebut yang dihadiri pula oleh Tokoh-tokoh Nasional, alim ulama dan habaib serta ribuan orang pengikut yang datang, pada akhirnya berujung pada penangkapan Habib Rizieq Shibab, Kiai Shobri Lubis, dan tokoh-tokoh FPI lainnya yang dituduh melakukan pelanggaran protokol kesehatan dan melanggar Undang-undang karantina kesehatan.

Seperti yang kita semua ketahui bahwa Kiai Shobri Lubis bersama Habib Riziek Shihab dan tokoh-tokoh FPI lainnya merupakan korban kriminalisasi hukum dan korban ketidakadilan di era pandemi saat ini.

Padahal dalam waktu yang nyaris bersamaan, pada kenyataannya banyak juga para pejabat baik di pusat dan di daerah bahkan termasuk presiden sendiri pada setiap kunjungannya ke daerah-daerah kerap kali menimbulkan kerumunan masyarakat yang luas dan diduga hal tersebut telah melanggar protokol kesehatan, akan tapi pada kenyataannya para pejabat negara tersebut aman-aman saja dan tidak pernah tersentuh hukum.

Pergerakan dan eksistensi kepemimpinan Kiai Shobri Lubis dalam melaksanakan Amar ma’ruf nahi munkar selama ini juga sangatlah diperhitungkan, sebagai sosok ulama kharismatik kepemimpinan Kiai Shobri Lubis yang tetap berada di garis massa bahkan Kiai Sobri Lubis juga menjadi Martir dalam setiap pergerakannya demi memperjuangkan tegaknya keadilan dan kebenaran, serta membela Dienul Islam di Indonesia.

Cerminan Kiai Shobri Lubis sebagai Sang Mujahid Keadilan yang selalu menyuarakan kebenaran dan keadilan saat ini, tak ubahnya juga seperti yang pernah dilakukan oleh Ulama-ulama Islam pendahulu, yang jejak sejarahnya berjuang melakukan perlawanan terhadap penjajah kolonial di Nusantara.

Sebut saja seperti Mohamad Syeikh Yusuf (Ulama Kharismatik dari Makassar, Sulawesi Selatan yang di buang kolonial Belanda ke Cape Town, Afrika Selatan), Pangeran Diponegoro dan Kiai Sentot Alibasha yang di tangkap Belanda lalu masing-masing dibuang ke daerah Makassar dan ke Minahasa.

Serta terakhir yaitu K.H Zainal Muttaqin, Ulama Kharismatik dari Tasikmalaya yang tidak mau tunduk dan hormat kepada bendera Matahari Terbit, Kolonial Jepang. Dalam catatan kami sebagai penulis, ada dua peristiwa penting yang pernah kami alami secara langsung bersama Kiai Shobri Lubis pada moment-moment peristiwa tahun 2019.

Moment pertama ketika Kiai Shobri Lubis menghadiri undangan kami untuk mengisi ceramah dalam acara Maulid Nabi Muhamad SAW di daerah Buntet, Kabupaten Cirebon. Dimana kedatangan Kiai Sobri Lubis pada saat acara maulid nabi tersebut disambut ribuan umat Islam yang ada di Cirebon.

Lalu yang tak disangka-sangka dan tanpa koordinasi kami sebelumnya bahwa kedatangan Kiai Shobri Lubis ke daerah Buntet, Cirebon itu langsung dijaga dan dikawal oleh ratusan anggota Laskar FPI yang berdatangan dari berbagai penjuru wilayah perwakilan FPI yang ada Cirebon, Kuningan dan Majalengka.

Dan moment peristiwa penting yang kedua, yaitu ketika kami bersama Kiai Shobri Lubis dan Tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya seperti Jumhur Hidayat, Munarman, Ustadz Benhard, Rijal KOBAR, Jalih Pitoeng dan lain sebagainya.

Turut serta ambil bagian memimpin aksi ribuan massa yang menolak kecurangan hasil Pilpres 2019 di depan kantor Bawaslu RI yang berujung bentrokan dan chaos di Ibukota. Begitupun pasca selesainya tragedi berdarah Bawaslu 21-22 Mei 2019.

Dimana sengketa hasil pilpres 2019 dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK), Kiai Shobri Lubis tetap berada digaris depan (front line) memimpin pergerakan ribuan massa aksi yang datang dari seluruh Indonesia dalam rangka menolak hasil pilpres 2019 yang diwarnai dengan penuh kecurangan.

Oleh karena itulah, pada kesempatan berbahagia ini sekali lagi kami mengucapkan Ahlan wa Sahlan “Sang Mujahid Keadilan” Kyiai Shobri Lubis, semoga setelah Bebas ini tetap berani dan tetap ‘lantang’ untuk menyuarakan kebenaran dan tegaknya keadilan, serta selalu Istiqomah dalam membela Dienul Islam di Indonesia.

Allohu Akbar

Jakarta, 7 Oktober 2021

Salam Djuang…!!!

*) penulis adalah aktivis Jalanan/Eks-TAPOL 2019

 

sumber: WAGroup Gerakan Amanah Sejahteram(postKamis7/10/2021/pilot)