Buntut Kebijakan Luar Negeri AS, 5 Negara Besar Berpotensi Boikot Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko menghadapi bayang-bayang krisis politik internasional. Turnamen akbar yang seharusnya menjadi pesta, kini justru terseret ke pusaran ketegangan geopolitik. 5 negara dirumorkan akan memboikot turnamen itu.

Semarak.co – Hal ini terjadi menyusul arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang kian kemari tidak semakin tidak komdusif. Sejumlah negara mulai gerah dan menyuarakan kemungkinan boikot.

Situasi ini memicu kekhawatiran serius di internal FIFA. Pasalnya, Piala Dunia 2026 akan melibatkan jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah yakni 48 negara — yang membutuhkan jaminan akses, keamanan dan netralitas politik.

Namun kebijakan luar negeri AS yang agresif dan memberi tekanan ekonomi langsung kepada negara-negara di dunia, selain pembatasan Visa belakangan kebijakan tarif 10 hingga 25% terhadap 8 negara Eropa, dinilai berpotensi mengiris semangat tersebut.

Pembatasan Visa yang diberlakukan AS  bikin masalah makin kompleks. Salah satu pemicu masalah adalah kebijakan pembatasan visa Amerika Serikat terhadap warga dari sedikitnya 75 negara di dunia, termasuk Eropa. Demikian dilansir Sindonews.com pada 22/1/2026.

Pemberlakuan pembatasan visa tersebut mencakup negara-negara yang secara realistis berpeluang dan bahkan memastikan tampil di Piala Dunia 2026, seperti Brasil, Uruguay, Maroko, Iran, Senegal hingga Pantai Gading.

Meski pemerintah AS menyatakan akan memberi pengecualian bagi pemain dan ofisial tim, larangan tetap diberlakukan bagi suporter, pejabat federasi, dan delegasi non-teknis — sebuah keputusan yang dinilai diskriminatif dan bermuatan politik.

Tarif, ambisi teritorial dan operasi militer bayangi Piala Dunia 2026. Di luar isu visa, kebijakan luar negeri AS yang mencakup ancaman tarif impor terhadap Eropa, wacana pencaplokan Greenland, serta keterlibatan militer di Amerika Latin dan Timur Tengah turut memperkeruh situasi.

Langkah-langkah tersebut menciptakan ketegangan diplomatik yang merembet ke sektor olahraga, termasuk Piala Dunia 2026. Sejumlah pemerintah menilai AS tidak lagi menunjukkan sikap netral yang layak bagi tuan rumah ajang olahraga global.

Kondisi ini menempatkan FIFA pada posisi sulit: mempertahankan prinsip non-politik, atau menghadapi potensi boikot dari negara-negara besar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap daya tarik komersial dan prestise turnamen.

5 Negara yang berpotensi memboikot Piala Dunia 2026

1. Spanyol

Spanyol menjadi salah satu negara paling vokal dalam menyuarakan ancaman boikot. Pemerintah Kota Madrid sebelumnya menyatakan tidak akan mengirim tim nasional jika Israel lolos ke Piala Dunia 2026, sebagai bentuk protes atas konflik di Palestina.

Meski Israel akhirnya tak lolos, sikap tegas itu membuka preseden, Spanyol tidak ragu memboikot. Absennya matador akan menjadi pukulan besar bagi Piala Dunia. La Furia Roja bukan hanya juara dunia 2010, tapi juga kandidat kuat peraih gelar 2026 dengan skuad muda yang kompetitif.

5 Negara yang Berpotensi Boikot Piala Dunia 2026.

1. Spanyol

Spanyol menjadi salah satu negara paling vokal dalam menyuarakan ancaman boikot. Pemerintah Kota Madrid sebelumnya menyatakan tidak akan mengirim tim nasional jika Israel lolos ke Piala Dunia 2026, sebagai bentuk protes atas konflik di Palestina.

Meski Israel akhirnya tak lolos, sikap tegas membuka preseden, Spanyol tidak ragu memboikot acara. Absennya Spanyol akan menjadi pukulan besar bagi Piala Dunia. La Furia Roja bukan hanya juara dunia 2010, tetapi juga kandidat kuat peraih gelar 2026 dengan skuad muda yang kompetitif.

2. Jerman

Ancaman boikot dari Jerman muncul seiring memanasnya isu Greenland. Sejumlah politisi Jerman menyebut keikutsertaan di Piala Dunia 2026 bisa ditinjau ulang jika AS benar-benar merealisasikan ambisi teritorialnya.

Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan Berlin terhadap arah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai unilateral dan berbahaya bagi stabilitas global, terutama negara-negara yang tergabung dalam NATO.

Sebagai negara dengan raihan empat gelar Piala Dunia, ketidakhadiran Der Panser Jerman akan secara signifikan dipastikan mengurangi daya tarik historis dan komersial turnamen paling bergengsi di seantero jagat raya.

3. Inggris

Meski dikenal sebagai sekutu dekat AS, Inggris justru ikut terseret konflik akibat ancaman tarif impor sebesar 10 persen yang dilontarkan Washington. Tekanan ekonomi ini memicu reaksi keras dari Pemerintah Inggris, yang disebut mempertimbangkan segala opsi diplomatik, termasuk melalui jalur olahraga.

Dukungan antusias suporter Inggris yang sangat masif membuat potensi boikot dari The Three Lions Inggris akan menjadi ancaman serius bagi penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Kanada dan Meksiko.

4. Skotlandia

Seruan boikot juga menggema di Skotlandia, seiring kebijakan tarif AS yang berdampak luas ke Eropa. Tekanan politik domestik mendorong wacana agar Timnas Skotlandia tidak berpartisipasi jika Piala Dunia 2026 terus dibayangi kepentingan geopolitik.

Bagi kesebelasan Skotlandia, turnamen Piala Dunia 2026 merupakan peluang yang amat sangat langka untuk bisa kembali tampil di panggung turnamen kasta tertinggi sepak bola dunia itu setelah terakhir kali berlaga pada 1998.

5. Iran

Iran menjadi negara dengan konflik paling nyata. Federasi Sepak Bola Iran secara resmi memboikot acara drawing Piala Dunia 2026 setelah AS menolak visa sejumlah delegasinya. Teheran menilai tindakan tersebut sebagai intervensi politik yang melanggar komitmen FIFA.

Meski belum menarik diri dari turnamen utama, Iran menegaskan semua opsi terbuka jika diskriminasi visa terus berlanjut. Sebagai tim Asia yang konsisten lolos ke Piala Dunia dalam satu dekade terakhir, potensi absennya Iran akan menciptakan preseden berbahaya.
(net/snc/kim/smr)

Pos terkait