Reforma Agraria Lahirkan Regenerasi dan Kreativitas Petani Muda di Desa Soso Blitar

Reforma Agraria di Desa Soso, Kabupaten Blitar, melahirkan gelombang baru generasi petani muda.

Pelaksanaan Reforma Agraria Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) di Desa Soso, Kabupaten Blitar, bukan hanya mengubah status kepemilikan tanah, tetapi juga melahirkan gelombang baru generasi petani muda.

Semarak.co – Setelah bertahun-tahun banyak pemuda bekerja sebagai buruh harian di tambang pasir atau perkebunan, sekarang mereka menggarap tanah hasil redistribusi dengan cara yang lebih mandiri, kreatif, dan berorientasi pada peningkatan ekonomi keluarga.

“Kalau dulu ya jadi buruh penambang pasir. Tapi sekarang, banyak yang bertahan jadi petani karena kalau ikut orang nambang itu kan cuma mengandalkan upah harian. Kalau bertani, pendapatan jadi lebih baik,,” kata petani muda Desa Soso, Aris Setiawan (37), dirilis humas usai acara melalui WAGroup Forum Mitra ATR/BPN, Minggu siang (21/12/2025).

Pada 2022, Kementerian (ATR/BPN) melalui Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar menerbitkan sertipikat hasil redistribusi tanah seluas 83,85 hektare. Aris Setiawan adalah satu di antara 528 keluarga yang menerima Sertipikat Hak Milik dari program turunan Reforma Agraria ini.

Kembalinya pemuda ke sektor pertanian tak hanya soal pendapatan, namun pembawa ide segar. Aris Setiawan melihat adanya perbedaan antara pola tanam petani. Kalau petani senior biasanya menanam singkong sama jagung, petani muda juga menanam cabai, tembakau, atau apa saja yang hasilnya lebih.

Petani lain dari Desa Soso, Catur Edy (39), menjadi salah satu contoh petani yang menciptakan inovasi pasca masuknya Reforma Agraria di Desa Soso. Berangkat dari keinginannya membuat perbedaan, ia membangun greenhouse dan berhasil menanam melon. Produk yang sebelumnya tidak pernah dibudidayakan petani Desa Soso.

Inovasi semacam ini menjadi bukti bahwa regenerasi petani tidak hanya menjaga keberlanjutan tanah, tetapi juga membuka peluang keberagaman produk dan peningkatan nilai jual. Dengan tanah kembali ke tangan rakyat, anak muda memiliki alasan kuat untuk menetap, mengolah, dan mengembangkan tanah mereka.

Bagi Catur Edy, program Reforma Agraria memberikan fondasi yang kuat untuk keberlanjutan ekonomi keluarga. “Saya merasa program Reforma Agraria ini sangat bermanfaat dan berkelanjutan. Mata pencaharian meningkat, dan bisa terus berlanjut ke depan, ke generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia juga berharap, kelompok petani Kelompok Petani Soso Bintang Bersatu, tumbuh solid dan profesional. “Karena, kelompok tani ini baru terbentuk, jadi masih perlu diperkuat, dan terus bertumbuh,” pungkas Catur Edy. (GE/JR/SMR)