Mendikdasmen Mu’ti Apresiasi KICAU 2025, Bentuk Penguatan Karakter Anak Usia Dini

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyerahkan penghargaan kepada tiga pemenang utama Karya Cipta Lagu Pembelajaran Anak Usia Dini (KICAU) 2025.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menyerahkan penghargaan kepada tiga pemenang utama Karya Cipta Lagu Pembelajaran Anak Usia Dini (KICAU) 2025.

Semarak.co – Ia menyampaikan, program KICAU merupakan langkah strategis memperkuat pendidikan anak usia dini, khususnya Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB). Tahun 2024, program ini berhasil meluncurkan 10 lagu yang masuk album KICAU Volume pertama.

Bacaan Lainnya

“Lagu merupakan media yang tidak hanya menumbuhkan rasa percaya diri, namun juga mengembangkan kemampuan untuk mengekspresikan rasa seni dan bakat seni,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Sabtu (30/8/2025).

Serta yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mereka menjadi anak-anak yang dapat menjadikan lagu dan lirik-liriknya itu sebagai pemandu dan juga sebagai pemantik imajinasi mereka tentang dirinya dan kehidupan masa depan sebagai anak-anak Indonesia yang hebat.

Mu’ti menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari upaya mengatasi minimnya lagu anak di Indonesia serta memperkenalkan nilai-nilai kehidupan seperti kecintaan pada alam, kebersihan, dan kesantunan kepada anak-anak sejak dini.

“Ini adalah bagian dari usaha kami untuk memperkuat pendidikan pada jenjang anak usia dini. Kita semua melihat sebuah kenyataan bahwa sekarang ini kita kekurangan lagu anak-anak,” ungkapnya.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG) Nunuk Suryani, menekankan pentingnya KICAU sebagai terobosan kreatif bagi para pendidik PAUD. KICAU merupakan sebuah terobosan yang mendorong pendidik PAUD dan PNF dalam menunjukkan kreativitasnya menciptakan lagu pembelajaran.

Nunuk menjelaskan bahwa tema lagu KICAU tahun ini menjadi sarana yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, gotong royong, dan cinta tanah air sejak dini. Ia menekankan pentingnya tema lingkungan, sebab anak perlu sejak awal diajarkan untuk mencintai alam, menjaga kebersihan, dan menjalani hidup berkelanjutan.

Tema sains diambil untuk menumbuhkan rasa ingin tahu anak sehingga dapat berpikir kreatif dan menambah wawasan anak dengan cara yang ceria, sederhana, dan sesuai dengan dunia mereka. “Lagu menjadi cara yang sederhana untuk menyenangkan, namun kuat dalam menubuhkan kesadaran akan pentingnya cinta lingkungan,” imbuh Nunuk.

Direktur Guru PAUD dan Pendidikan Nonformal, Suparto, menyoroti dimensi mendalam dari lagu sebagai media pembelajaran anak usia dini. Ia menjelaskan bahwa lagu bukan sekadar hiburan, melainkan media pendidikan yang menumbuhkan afeksi, estetika, harmoni, dan kehalusan rasa.

Lagu juga membangun imajinasi tentang nilai kehidupan, memperkaya literasi bahasa, serta melatih motorik, kesehatan jiwa, dan keeratan sosial anak melalui ekspresi senyum, tawa, dan gerak yang tercipta saat bernyanyi.

“Lagu itu mengajarkan sisi afeksi, estetika, harmoni, dan kehalusan rasa. Lagu membangun imajinasi anak tentang nilai-nilai kehidupan. Anak yang bernyanyi mengekspresikan senyum, tawa, dan gerak; itu semua bagian dari aktivitas motorik, kesehatan jiwa, serta keeratan sosial,” ungkapnya.

Tahun ini, KICAU mencatatkan antusiasme pendaftar yang tinggi yakni 592 pendaftar. Dari jumlah tersebut, terkumpul 156 karya terbaik. Setelah melalui proses seleksi ketat terpilihlah 20 finalis dan akhirnya ditetapkan 3 juara utama.

Capaian ini menunjukkan semangat besar para pendidik dalam memperkaya khasanah lagu anak Indonesia dan menjadi bukti bahwa KICAU terus berkembang sebagai ajang kreasi yang berkelanjutan. (hms/smr)

Pos terkait