Gue Alumni Boedoet, SMA Lu di Mana?

Kolase gambar penulis sewaktu masih pelajar SMP (kanan) dan setelah SMA di Boodoet dengan insert gambar kartu OSIS. Foto: dokpri

Oleh Geisz Khalifa *)

Semarak.co – Gue kalau ditanya, “SMA lu di mana?” Gue jawab: SMA Negeri 7 Jakarta. Kartu OSIS masih ada. Foto zaman muda juga ada. Rambut masih lebat, muka masih polos, masalah hidup paling berat duit jajan kurang. Sekarang gue penasaran. Urusan ijazah SMA Gibran kok bisa sampai ke MK? DPR pun mulai bicara hak angket.

Gile, pertanyaan “SMA lu di mana?” sekarang levelnya sudah nasional! Gue jadi ingat Anies Baswedan. Alumni SMA 2 Yogyakarta, pernah jadi Ketua OSIS se-Indonesia. Riwayat masa sekolahnya punya cerita yang bisa ditelusuri. Orang kalau punya riwayat yang jelas, ditanya sekolah di mana, ya tinggal jawab. Nggak perlu bikin satu republik ikut mikir.

Gue kalau ditanya, “Ijazah lu mana?” ya gue tunjukin. Mau sekolah di luar negeri atau di dalam negeri, sama saja. Ijazah ya ijazah. Nama sekolah boleh beda, sistem pendidikan boleh beda, tapi kelulusan pasti punya dasar dan bukti yang bisa diperiksa.

Belum lagi teman-teman satu angkatan. Sekatro-katronya elu waktu sekolah, pasti ada saja yang masih ingat. Kecuali kalau sekolah lu cuma sampai warung, itu lain cerita! Tapi kalau sampai MK bersidang dan DPR mau bikin hak angket, itu bukan reuni tapi lu nipu yang bikin satu negeri jadi ribet.

Jangan-jangan nanti cuma mau masuk grup WhatsApp alumni, syaratnya bukan foto zaman sekolah, tapi legalisasi ijazah tiga rangkap. Gue cuma mau tanya satu hal: SMA lu di mana, sih?  Kok pertanyaan sederhana begini bisa bikin negara ikut ujian?

Saya sering menulis cerita zaman SMA. Lalu ada yang tanya, “SMP-nya di mana?” Nah, pertanyaan itu yang bikin ingatan zaman dulu balik lagi. Saya sekolah di SMPN 2 Budi Utomo. Seringnya dibilang alumni Boedoet. Di Jalan Budi Utomo itu ada SMA 1, STM 1, dan STM 5. Sekolah SMP saya sejajar dengan sekolah-sekolah itu.

Kalau mereka lagi tawuran, kami menonton dengan antusias. Anak-anak yang lagi belajar malah asyik melihat para petarung jalanan. Sekolah saya dekat Lapangan Banteng. Mau olahraga apa pun, kami tetap saja bawa bola sepak.

Tapi, kalau anak-anak Santa Ursula yang letaknya persis di depan Lapangan Banteng lagi latihan drumband, sebagian anak laki-laki berhenti olahraga. Sebabnya jelas. Biar umur masih bocah, ngeliat perempuan-perempuan cantik bermain alat musik drumband secara rapi. Ngalahin minat pada sepak bola.

Di Boedoet, anak SMP enggak diganggu. Para senior tetangga sebelah, baik SMA 1 maupun STM, kalau kami bubaran sekolah lalu jalan kaki ke terminal bus Lapangan Banteng, dijagain sampai kami masuk bus. Setelah itu, mereka kembali tawuran lagi.

Konyolnya, bukannya nurut masuk bus supaya selamat, kami malah cari tempat yang aman buat nonton mereka tawuran. Begitulah masa SMP di Boedoet. Sebagian teman masuk ke SMA 1 karena tetangga. Gue milih ke Gambir, masuk SMA 7. Sesama alumni SMP 2 Boedoet suka ngasih info. “Besok lu jangan ke Banteng!”

Maksudnya, saya jangan pulang lewat terminal Lapangan Banteng. Karena anak Boedoet, SMA 1, lagi perang dengan anak Gambir, SMA 7. Sekolah di Boedoet itu, yang gue ingat Bakmi Gang Kelinci di Pasar Baru dan es krim Ragusa dekat Istiqlal. Semua ditempuh cukup dengan jalan kaki.

Hal-hal sederhana seperti itu masih gue ingat sampai sekarang. Rasa-rasanya, kalau sekolah lu benar dan ijazahnya ada, semua orang bisa cerita hal-hal sederhana seperti ini. Kenapa soal ijazah SMA jadi ruwet banget sampai sidang MK segala? Makanya, hidup jangan suka nipu. Satu negeri jadi ikutan ruwet.

*) Pegiat Media Sosial dan Loyalis Anies Baswedan

 

Sumber: WAGroup KAHMI Nasional (postSenin26/10/2026/geisz)