Kolaborasi pemerintah pusat dan daerah menjadi salah satu kunci pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Dalam The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berbagi pandangan mengenai potensi Jakarta sebagai pusat kreativitas dan penyelenggaraan acara berskala internasional.
Semarak.co – Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf)/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Kabaekraf) Teuku Riefky Harsya mengungkapkan, WCCE 2026 menjadi momentum penting untuk memperjuangkan berbagai isu strategis ekonomi kreatif yang tidak hanya relevan bagi Indonesia.
Tapi juga, lanjut Menekraf Teuku Riefky, bagi komunitas kreatif dunia, terutama negara-negara berkembang. Isu tersebut mencakup perlindungan dan pembiayaan kekayaan intelektual, perluasan akses pasar, hingga tantangan pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Salah satu hasil WCCE 2026 adalah Jakarta Vision on Creative Economy, dokumen yang merangkum aspirasi para pemangku kepentingan ekonomi kreatif dunia. Dokumen ini telah didukung 38 kepala delegasi dan akan diperjuangkan Indonesia bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.
Tujuannya agar dapat diadopsi menjadi pemutakhiran resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2023, termasuk melalui pembahasan di Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly/UNGA) pada akhir 2026.
“Melalui Jakarta Vision on Creative Economy, kami ingin membawa aspirasi para kreator ke tingkat global, termasuk mengenai keadilan pembagian manfaat di platform digital, perlindungan kekayaan intelektual, akses pembiayaan, dan perluasan pasar,” ujar Menekraf Teuku Riefky disambutan.
Harapannya, sambung Menekraf Teuku Riefky, ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu agenda strategis pembangunan dunia setelah berakhirnya periode Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030.
Di tingkat daerah, Jakarta memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Pramono Anung menyebut sektor ini berkontribusi sekitar 11,16% terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jakarta, dengan nilai mencapai Rp410 triliun.
Seperti dirilis humas usai acara melalui WAGroup Kemenekraf Siaran Pers, Sabtu (24/10/2026), penyelenggaraan berbagai acara musik, olahraga, pameran, dan kegiatan kreatif turut menggerakkan aktivitas ekonomi sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, Jakarta ingin menjadi rumah bagi kreativitas sekaligus episentrum penyelenggaraan berbagai acara.Kami ingin para seniman internasional, investor, dan pegiat industri kreatif merasa diterima di Jakarta,” ujar Pramono.
“Sementara kreator lokal memiliki kesempatan untuk menjangkau pasar dunia dan pegiat usaha kecil mendapatkan peluang untuk tumbuh,” demikian Pramono saat dalam sesi Jakarta, Home for the Creative.
Sejumlah acara berskala besar turut memperlihatkan potensi tersebut. Jakarta Fair Kemayoran mencatat nilai transaksi sekitar Rp8,2 triliun dengan jumlah pengunjung mencapai 6,1 juta orang. Sementara itu, Jakarta Great Sale membukukan nilai transaksi sekitar Rp26,8 triliun.
Pemprov DKI Jakarta juga memberikan insentif berupa pengurangan pajak sebesar 50 persen bagi kegiatan perfilman Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Jakarta bukan hanya sebagai pasar penonton, tetapi juga sebagai lokasi produksi film.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong Jakarta menjadi hub baru bagi ekonomi kreatif untuk semua elemen, bidang, dan ruang. Kami ingin manfaat dari berbagai kegiatan kreatif tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara,” ujarnya.
Tapi juga masyarakat, hotel, restoran, UMKM, dan komunitas kreatif yang terlibat. Kolaborasi pemerintah pusat dan daerah juga diarahkan pada penguatan ekosistem kreatif melalui penyediaan ruang kolaborasi, pengembangan kawasan kreatif, peningkatan konektivitas transportasi.
Serta penyelenggaraan kegiatan yang memperluas akses pasar. Kawasan Blok M, misalnya, berkembang sebagai titik temu kuliner, musik, usaha lokal, dan komunitas kreatif yang didukung akses transportasi publik.
WCCE 2026 mempertemukan pemerintah, pelaku industri, komunitas kreatif, dan pemangku kepentingan internasional untuk membahas masa depan ekonomi kreatif. Forum ini diikuti perwakilan lebih dari 80 negara, dengan jumlah mencapai 6.100 peserta, 38 kepala delegasi.
Serta sekitar 180 pembicara yang mewakili 21 subsektor ekonomi kreatif. Melalui forum ini, Kementerian Ekraf mendorong kerja sama lintas negara untuk memperkuat perlindungan kekayaan intelektual, memperluas akses pembiayaan, dan membuka pasar bagi pelaku ekonomi kreatif.
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen mengembangkan kebijakan dan infrastruktur pendukung agar Jakarta semakin kompetitif sebagai kota global sekaligus pusat kreativitas yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Di bagian lain dirilis humas Kemenekraf sebelumnya dilaporkan Para delegasi dari berbagai belahan dunia dijamu dalam Diplomatic Dinner: A Gathering in The Sky sebagai bagian dari rangkaian The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.
Momentum ini memperkuat diplomasi kreatif global melalui perpaduan gastronomi, seni pertunjukan, dan nilai-nilai arsitektur budaya Nusantara. Setidaknya hadir delegasi dari 68 negara dan 7 organisasi internasional dalam jamuan yang digelar di Treasury 78, Jakarta, Kamis (22/10).
Mengusung inspirasi Rumah Gadang dari Sumatra Barat, konsep jamuan ini merepresentasikan persatuan, kekerabatan, dan identitas kolektif. Nilai kebersamaan yang lekat dengan tradisi Minangkabau turut menjadi konteks budaya dalam pengalaman bersantap.
Ini sejalan dengan filosofi makan bajamba yang mengedepankan kebersamaan melalui hidangan yang dinikmati bersama. Gastronomi bukan hanya tentang makanan, tetapi juga cerita, tradisi, dan identitas bangsa yang diwariskan melalui setiap hidangan.
Melalui Diplomatic Dinner ini, kita dapat memperkenalkan kekayaan Nusantara kepada dunia sekaligus menunjukkan bagaimana budaya dan kreativitas dapat menjadi jembatan untuk membangun kolaborasi internasional,” ujar Menekraf Teuku Riefky.
Wamenekraf Irene Umar menyoroti kuliner Padang sebagai salah satu representasi Indonesia dalam jamuan tersebut. Ia menekankan nilai kebersamaan yang tercermin dalam pengalaman bersantap sebagai bagian dari upaya mempertemukan tamu dari berbagai latar belakang.
“Rumah Gadang memiliki filosofi yang dekat dengan kita. Malam ini, kita juga menghadirkan kuliner Padang sebagai representasi Indonesia. Ketika kita duduk bersama di meja makan, perbedaan latar belakang tidak menghalangi kita untuk terhubung. Semangat kebersamaan inilah yang ingin kita hadirkan melalui jamuan ini,” ujar Irene.
Para delegasi menikmati beragam sajian khas Nusantara, seperti Food Diplomacy Canapé, papeda, teh talua, hingga hidangan autentik rendang dan ayam pop. Keragaman menu tersebut memamerkan potensi subsektor kuliner Indonesia sebagai komoditas ekraf bernilai tinggi di pasar internasional.
Wali Kota Padang Fadly Amran menyampaikan bahwa diplomasi kuliner lokal dapat mendorong promosi pariwisata dan ekonomi kreatif daerah ke tingkat global. Ia mengajak para tamu menikmati cita rasa Padang sekaligus mengenal keramahan masyarakatnya.
Melalui jamuan ini, kami ingin memperkenalkan cita rasa autentik Padang sekaligus menunjukkan bahwa kuliner merupakan bagian dari budaya, komunitas, dan kreativitas masyarakat. Kami berharap pengalaman ini membawa cerita gastronomi Padang dari masyarakat ke panggung dunia,” ujar Fadly.
Pengalaman diplomasi budaya tersebut kian lengkap dengan penampilan Tari Pasambahan dan Tari Piring sebagai penyambutan tamu dari subsektor seni pertunjukan.
Melalui sinergi arsitektur, gastronomi, dan seni pertunjukan, Diplomatic Dinner WCCE 2026 tidak hanya memamerkan warisan budaya, tetapi juga membuka ruang jejaring ekonomi, perdagangan, dan investasi ekraf bagi Indonesia di panggung dunia.
Di bagian lain lagi masih dirilis humas Kemenekraf, Kamis sore (22/10/2026), WCCE 2026 menghasilkan Jakarta Vision on Creative Economy sebagai dokumen yang merangkum visi, prinsip, dan arah bersama negara-negara peserta dalam mengembangkan ekonomi kreatif global.
Dokumen yang didukung oleh 38 kepala delegasi dari berbagai negara ini akan dibawa ke New York untuk disampaikan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kemenekraf bersama Kemlu selanjutnya akan memperjuangkan agar dokumen tersebut.
Yaitu agar dapat diadopsi untuk pemutakhiran resolusi PBB 2023 yang akan dilakukan di akhir tahun ini. “Saya berharap Jakarta Vision on Creative Economy mampu menangkap esensi ekonomi kreatif yang ingin kita wujudkan bersama. Ini adalah kontribusi Indonesia dalam mendorong penguatan ekonomi kreatif di tingkat global.
Dengan bangga pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto berhasil menghasilkan sebuah dokumen yang akan disumbangkan untuk perkembangan pembangunan ekonomi kreatif global,” ujar Teuku Riefky.
Jakarta Vision on Creative Economy memuat empat pilar utama sebagai landasan pengembangan ekonomi kreatif global. Pilar pertama menekankan pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan ekonomi kreatif.
Pemanfaatan AI juga perlu didukung tata kelola yang baik (AI governance). Pilar kedua mencakup penerapan prinsip ekonomi sirkular, regenerative design, dan desain berkelanjutan untuk memperkuat peran ekonomi kreatif dalam menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.
Pilar ketiga berfokus pada pengembangan ekosistem kreatif yang inklusif dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, pilar keempat menekankan perlindungan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) dan hak-hak kreator (creative rights).
Serta penerapan prinsip ekonomi yang adil (fair economy) agar manfaat ekonomi kreatif dapat dirasakan oleh para pelakunya di seluruh dunia. “Saat ini, ekonomi kreatif global tengah mengalami perubahan yang signifikan.
Perkembangan teknologi yang pesat, termasuk kecerdasan buatan, turut membawa perubahan bagi sektor ekonomi kreatif. “Sebagai pembuat kebijakan di bidang ekonomi kreatif, kita perlu memperkuat kolaborasi dan kerja sama untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif,” kata Menekraf.
Serta meningkatkan perannya sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, inovasi, dan pengembangan budaya. Penyusunan Jakarta Vision on Creative Economy telah melalui serangkaian tahapan, mulai dari koordinasi lintas kementerian, pelibatan pemerintah daerah.
Dan konsultasi dengan perwakilan negara sahabat serta organisasi internasional, hingga penjaringan masukan dari pemangku kepentingan ekonomi kreatif melalui FCE Square. Pada rangkaian WCCE 2026, dokumen ini dibahas lebih lanjut dalam Friends of Creative Economy (FCE) Meeting.
Ini untuk menghimpun pandangan dan menyelaraskan arah pengembangan ekonomi kreatif global. Hasil pembahasan tersebut kemudian dibawa ke Ministerial Meeting WCCE 2026 hingga disepakati sebagai visi bersama bagi pengembangan ekonomi kreatif global. (hms/ekrf/smr)





