Operasi militer pemerintah Yaman terhadap kelompok Houthi memasuki fase intensif setelah militer mengumumkan 780 serangan dalam 24 jam, dengan klaim 512 petempur dan komandan dilumpuhkan serta lebih dari 330 kendaraan militer dihancurkan atau dirusak.
Semarak.co – Pengumuman yang disampaikan 22/10/2026 itu merupakan bagian dari operasi bernama Dawn of Yemen. Serangan ditujukan untuk menghambat pergerakan pasukan Houthi, menghancurkan persenjataan dan memutus jalur pengiriman bala bantuan menuju garis depan pertempuran.
Dilansir Sindonews.com dari Anadolu Agency, Arab News, Yemen Monitor dan Reuters (23/10/2026), angka-angka itu belum diverifikasi secara independen. Karena itu, jumlah korban dan kerusakan peralatan militer masih harus dipahami sebagai klaim pihak berperang, bukan angka korban yang telah dikonfirmasi secara terpisah.
Serangan Menyasar Beberapa Wilayah Strategis
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Kolonel Majed Abdullah al-Nuzayli, mengatakan serangan menyasar komandan lapangan, konsentrasi pasukan, posisi senjata berat, benteng pertahanan, kendaraan militer serta jalur logistik kelompok Houthi.
Menurut laporan Anadolu Agency dan Arab News, operasi mencakup sejumlah front di wilayah utara, selatan dan barat Yaman, termasuk Al-Jawf, wilayah barat Marib serta Al-Bayda. Serangan juga dilaporkan menargetkan bala bantuan menuju garis pertempuran di Taiz, Yaman.
Militer pemerintah menyatakan serangan tersebut menghambat kemampuan Houthi memerkuat posisi di garis depan. Mereka juga mengklaim sejumlah persenjataan berat dan kendaraan pengangkut personel dihancurkan atau dilumpuhkan dalam operasi tersebut.
Di Taiz, televisi pemerintah Yaman sebelumnya melaporkan serangan udara terhadap peluncur rudal, sistem radar, peralatan komunikasi militer dan gudang persenjataan Houthi. Informasi tersebut menambah gambaran mengenai sasaran operasi, tetapi hasil kerusakannya belum diverifikasi secara independen.
Angka Serangan Berubah dalam Laporan Militer
Operasi ini muncul usai militer Yaman mengumumkan gelombang serangan lain sehari sebelumnya. Pada 21/10, menurut Arab News dan Yemen Monitor, militer mengklaim melancarkan 835 serangan, melumpuhkan 285 petempur dan komandan dan menghancurkan sekitar 190 kendaraan dan aset militer.
Sehari kemudian, angka yang diumumkan berubah menjadi 780 serangan dan 512 petempur serta komandan yang diklaim dilumpuhkan. Kedua laporan merujuk pada periode operasi 24 jam yang berbeda sehingga tidak dapat dijumlahkan begitu saja sebagai total korban atau serangan 2 hari.
Yemen Monitor juga memberitakan operasi pemerintah yang diklaim berhasil menahan upaya Houthi merebut kembali posisi di Taiz. Namun, perkembangan di medan perang masih membutuhkan konfirmasi dari sumber independen, terutama mengenai penguasaan wilayah dan besarnya kerugian masing-masing pihak.
Konflik Meluas, Serangan Houthi Menambah Tekanan
Di sisi lain, konflik tidak hanya berlangsung melalui serangan pemerintah Yaman. Reuters dan Gubernur setempat melaporkan pada 19/10, serangan rudal Houthi terhadap kamp pelatihan pasukan pemerintah di Provinsi Shabwa menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa kedua pihak masih memiliki kemampuan menyerang sasaran lawan. Intensitas pertempuran juga meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan personel militer maupun warga sipil yang berada di sekitar kawasan konflik.
Reuters pada 23/10 turut melaporkan kekhawatiran pasar energi setelah serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan evakuasi kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran. Harga minyak Brent tercatat sekitar 112,96 dolar AS per barel dalam perdagangan awal Asia, setelah melonjak sekitar 4% di sesi sebelumnya.
Kondisi tersebut memerlihatkan, konflik Yaman berpotensi berdampak melampaui medan pertempuran. Ancaman terhadap fasilitas energi dan jalur pelayaran strategis dapat meningkatkan biaya transportasi, premi asuransi kapal serta ketidakpastian pasokan minyak internasional.
Latar Belakang Konflik Yaman
Konflik Yaman berakar pada perebutan kekuasaan setelah kelompok Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa pada tahun 2014. Pada Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Pertempuran berkepanjangan telah memerburuk krisis kemanusiaan dan menghambat pemulihan ekonomi negara itu. Jalur pelayaran Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, turut menjadi perhatian internasional karena perannya dalam perdagangan global.
Dalam perkembangan terbaru, militer pemerintah menyatakan akan melanjutkan Operasi Dawn of Yemen dengan menyasar kemampuan tempur serta pergerakan pasukan Houthi. Militer juga menyatakan operasi harus mengikuti hukum humaniter internasional dan memerhatikan perlindungan warga sipil.
Meski demikian, efektivitas operasi, jumlah korban dan perubahan penguasaan wilayah belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pernyataan militer. Verifikasi independen serta keterangan dari Houthi tetap diperlukan untuk memperoleh gambaran lebih utuh. (net/snc/aa/an/ym/rts/kim/smr)





