Iran kembali melontarkan ancaman keras terhadap seterunya, Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah. Teheran memeringatkan bahwa perang baru dapat memicu serangan terhadap aset AS dan infrastruktur negara-negara yang terlibat.
Semarak.co – Ancaman tersebut memerlihatkan rapuhnya situasi keamanan regional, terutama ketika perselisihan politik dan militer antara Republik Iran dan Washington berpotensi berkembang menjadi konfrontasi lebih luas.
Teheran Nilai Ancaman Washington Tidak dapat Dipercaya
Pejabat keamanan senior Republik Iran menyebut Teheran memerkirakan kemungkinan serangan baru Paman Sam dan Zionis Israel, sehingga pemerintahnya meningkatkan kesiapan menghadapi konflik militer yang lebih luas di kawasan itu.
Menurut laporan Anadolu Agency, yang mengutip kantor berita semi-resmi Fars, pejabat tersebut menilai langkah diplomatik Washington belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran Iran terhadap kemungkinan serangan berikutnya.
Dilansir Anadolu Agency dan CBS News (22/10/2026), Iran juga memandang blokade ekonomi dan laut Paman Sam serta pembatasan wilayah udara sebagai bagian dari tekanan militer yang telah berlangsung sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026.
Iran Siapkan Respons Jika Pejabat dan Warga Sipil Menjadi Korban
Pejabat tersebut menyatakan bahwa Republik Iran telah memberikan instruksi kepada sejumlah unit operasional untuk menghadapi kemungkinan perang berskala besar, terutama apabila pejabat Iran dibunuh atau warga sipil tewas akibat serangan.
Dalam skenario tersebut, Teheran mengancam akan menjadikan aset politik AS serta infrastruktur negara-negara yang ikut berperang sebagai sasaran. Pernyataan itu meningkatkan kekhawatiran mengenai meluasnya konflik lintas negara.
Ancaman tersebut belum berarti serangan terhadap sasaran-sasaran itu telah dilakukan. Pernyataan itu merupakan peringatan mengenai tindakan yang mungkin diambil Iran apabila konfrontasi militer kembali meningkat.
Selat Hormuz Menjadi Titik Rawan Ketegangan
Ketegangan semakin rumit karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi internasional. Gangguan pelayaran di kawasan tersebut dapat memengaruhi distribusi minyak, biaya pengiriman serta stabilitas pasar global.
Laporan CBS News menyebut pejabat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga memeringatkan kemungkinan serangan terhadap kabel internet bawah laut di jalur strategis Selat Hormuz apabila infrastruktur Iran kembali diserang.
Ancaman terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur komunikasi tersebut memperlihatkan bahwa dampak konflik berpotensi melampaui medan perang. Negara-negara yang bergantung pada perdagangan dan jaringan digital kawasan turut menghadapi risiko.
Jalur Diplomasi Masih Terbuka
Di tengah pernyataan keras itu, upaya diplomasi belum sepenuhnya berhenti. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pembicaraan tidak langsung dengan AS masih berlangsung melalui mediator untuk membahas usulan gencatan senjata.
Pakistan dan Qatar disebut berperan dalam memfasilitasi komunikasi kedua pihak. Namun, perbedaan mengenai blokade laut, sanksi ekonomi dan pengaturan keamanan masih menjadi hambatan utama bagi tercapainya kesepakatan.
Perkembangan berikutnya akan menentukan apakah ancaman militer itu menjadi alat tekanan dalam perundingan atau justru menandai persiapan menghadapi konfrontasi baru. Situasi ini masih memerlukan pemantauan ketat komunitas internasional. (net/aa/cn/frs/kim/smr)





