Gelombang panas dan kekeringan ekstrem memicu kebakaran hutan di sejumlah negara Eropa pada Jumat, 14 Agustus 2026, memaksa ribuan warga serta wisatawan meninggalkan kawasan terdampak demi keselamatan di sekitar lokasi tersebut.
Semarak.co – Di Kroasia, kebakaran besar melanda sekitar Omis, pesisir Dalmatia, setelah api menyebar cepat akibat angin kencang dan vegetasi yang mengering selama gelombang panas berkepanjangan dalam pekan terakhir yang menyulitkan pemadaman.
Dilansir Reuters dan Associated Press (AP) pada 14/8/2026, melaporkan api telah membakar lebih dari 1.000 hektare dan menyebabkan 36 orang terluka. Sekitar 1.000 penduduk serta wisatawan dievakuasi menuju tempat aman untuk menghindari kepungan api sejak Kamis malam.
Sebanyak 14 korban harus menjalani perawatan di rumah sakit, sementara tujuh lainnya dilaporkan berada dalam kondisi mengancam nyawa. Petugas pemadam terus mendinginkan area terdampak sepanjang Jumat di rumah sakit setempat.
Prancis juga menghadapi kebakaran baru di wilayah Landes. Sedikitnya 525 warga Desa Luglon dievakuasi setelah api menghanguskan sekitar 1.100 hektare hutan pinus di kawasan tersebut, dekat kawasan hutan kering setempat.
Sekitar 500 petugas pemadam dan enam pesawat dikerahkan untuk mengendalikan kebakaran Prancis tersebut. Api berada sekitar dua kilometer dari pusat permukiman, menurut laporan Kantor Berita Inggris, Reuters pada Jumat (14/8) ketika angin bertiup kencang.
Di Inggris, kebakaran besar melanda West Midlands ketika suhu mencapai 38,1 derajat Celsius, menjadi hari terpanas negara Inggris sepanjang tahun 2026 hingga perkembangan hari Jumat, menurut laporan terbaru resmi di tengah gelombang panas.
Sedikitnya 19 orang dirawat di rumah sakit setelah kebakaran di kawasan West Midlands. Puluhan rumah mengalami kerusakan, sementara petugas terus menangani beberapa titik api yang masih membara dan warga mengungsi.
Jerman juga menghadapi kebakaran hutan di Nordrhein-Westfalen. Evakuasi dilakukan setelah api mendekati permukiman, sementara operasi pemadaman terkendala keberadaan amunisi sisa Perang Dunia kedua yang sangat berbahaya dan dapat meledak sewaktu-waktu.
Situasi tersebut, lapor Copernicus, menunjukkan bagaimana kombinasi suhu tinggi, kekeringan, vegetasi kering, dan angin kencang memperbesar risiko kebakaran. Para ilmuwan mengaitkan peningkatan ancaman dengan perubahan iklim global yang semakin sering terjadi kini.
Layanan pemantauan Copernicus memeringatkan kondisi kebakaran sangat ekstrem di berbagai wilayah Eropa. Gelombang panas juga meningkatkan tekanan terhadap pertanian, sumber air, dan infrastruktur energi kawasan regional akibat kondisi panas berkepanjangan.
Para petugas di berbagai negara kini berpacu menahan perluasan api sekaligus melindungi kawasan wisata. Musim panas ekstrem membuat ancaman kebakaran semakin serius bagi Eropa pada tahun ini, dengan kekeringan meluas. (net/rts/ap/cps/kim/smr)





