Selain meningkatkan konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sejumlah ruas jalan tol yang dibangun Kementerian PU juga dipersiapkan agar dapat dimanfaatkan sebagai landasan darurat pesawat tempur TNI Angkatan Udara (TNI AU) pada kondisi tertentu.
Semarak.co – Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan infrastruktur tidak hanya ditujukan untuk melayani mobilitas masyarakat dan distribusi logistik, tetapi juga harus mampu memberikan nilai strategis bagi kepentingan nasional.
Karena itu, sejumlah ruas jalan tol dirancang memiliki fungsi ganda (dual use), yakni tetap beroperasi sebagai jalan tol dalam kondisi normal, dan difungsikan sebagai landasan darurat pesawat tempur untuk mendukung operasi pertahanan negara.
“Pemanfaatan ruas tol sebagai landasan darurat ini menunjukkan bahwa infrastruktur yang dibangun Kementerian PU memiliki fungsi ganda, tidak hanya untuk mobilitas masyarakat dan logistik, tetapi juga untuk mendukung kesiapsiagaan nasional,” kata Menteri Dody, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis PU608, Kamis (23/7/2026).
Empat ruas jalan tol yang disiapkan sebagai landasan darurat pesawat tempur TNI AU, yakni Jalan Tol Banda Aceh–Sigli, Jalan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japek II Selatan), Jalan Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung, serta Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi.
Menurut Dody, panjang lintasan yang disiapkan beragam. Pada ruas Jalan Tol Banda Aceh–Sigli akan diperpanjang 1 kilometer, pada ruas Jalan Tol Japek II Selatan dari semula 2,8 kilometer akan diperpanjang menjadi 3,5 kilometer dan pada ruas Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi disiapkan lintasan 3 hingga 3,5 kilometer.
“Banda Aceh–Sigli juga sedang kita siapkan. Dalam kondisi normal ruas tersebut tetap digunakan sebagai jalan tol. Namun dalam kondisi darurat dapat dibuka dan dimanfaatkan untuk pendaratan maupun lepas landas pesawat tempur TNI AU,” ujar Menteri Dody.
Kesiapan pemanfaatan jalan tol sebagai infrastruktur strategis telah dibuktikan melalui uji coba pendaratan dan lepas landas pesawat tempur TNI AU di Jalan Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (Terpeka) pada 11 Februari 2026 lalu.
Uji coba dilaksanakan pada segmen Gerbang Tol Lambu Kibang hingga Gerbang Tol Simpang Pematang dan berlangsung sukses dengan pendaratan dan lepas landas dua pesawat tempur TNI AU, yakni EMB-314 Super Tucano dan F-16 pada ruas KM 228 hingga KM 231. Kegiatan tersebut menjadi pendaratan pesawat tempur pertama yang dilakukan di ruas jalan tol di Indonesia.
Keberhasilan uji coba tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur jalan tol yang dibangun Kementerian PU telah memenuhi standar yang diperlukan untuk mendukung kepentingan strategis negara.
Konsep pemanfaatan ganda ini juga mencerminkan optimalisasi investasi infrastruktur sehingga memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi pembangunan ekonomi maupun penguatan sistem pertahanan nasional.
Kementerian PU Terapkan Asbuton A30, Perkuat Kemandirian Material Konstruksi Nasional
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai menerapkan penggunaan campuran Aspal Buton (Asbuton) sebesar 30 persen (A30) pada sejumlah ruas jalan tol strategis sebagai langkah memperkuat kemandirian material konstruksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap aspal impor.
Kebijakan tersebut merupakan implementasi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10 Tahun 2026 tentang Pengolahan Aspal Buton Olahan untuk Pembangunan dan Preservasi Jalan, yang menjadi landasan pemanfaatan asbuton olahan di Indonesia.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, pemanfaatan asbuton merupakan bagian dari strategi pemerintah memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional, sekaligus menjaga efisiensi belanja infrastruktur di tengah dinamika harga komoditas global.
Menurut Menteri Dody, penerapan A30 dilakukan secara bertahap dengan pendekatan yang serupa dengan kebijakan pencampuran biodiesel, seperti B10 hingga B20. Persentase campuran asbuton akan terus ditingkatkan sesuai kesiapan industri, hasil evaluasi teknis, serta mempertimbangkan aspek keekonomian.
“Jadi secara gradual kita naikkan kadar dari aspal Butonnya, tapi tetap memperhatikan nilai keekonomiannya. Sehingga kemudian APBN yang biasa digunakan untuk membangun dan preservasi jalan tidak membengkak,” ujarnya.
Selain mendukung penguatan industri nasional, penggunaan asbuton juga diharapkan mampu mengurangi dampak fluktuasi harga aspal dunia terhadap pembiayaan pembangunan infrastruktur.
Selama ini Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan aspal nasional, padahal Pulau Buton di Sulawesi Tenggara memiliki cadangan aspal alam yang sangat besar.
Sebagai tahap awal implementasi, campuran A30 akan diterapkan pada sejumlah ruas jalan tol strategis yang juga dirancang memiliki fungsi ganda sebagai landasan darurat pesawat tempur TNI Angkatan Udara.
Jalan tol tersebut, yaitu Jalan Tol Banda Aceh–Sigli, Jalan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japek II Selatan), Jalan Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung, serta Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi.
Pemanfaatan asbuton pada ruas-ruas tersebut diharapkan dapat menunjukkan bahwa material dalam negeri mampu memenuhi standar teknis untuk infrastruktur strategis nasional, termasuk infrastruktur yang memiliki fungsi sipil dan pertahanan.
Melalui penerapan Permen PU Nomor 10 Tahun 2026, Kementerian PU menegaskan komitmennya untuk memperluas penggunaan asbuton secara bertahap pada pembangunan dan preservasi jalan di seluruh Indonesia.
Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan rantai pasok material konstruksi, meningkatkan daya saing industri aspal nasional, sekaligus menjaga kualitas infrastruktur yang dibangun dengan tetap memperhatikan efisiensi penggunaan anggaran negara. (hms/smr)





