Luis de la Fuente Ungkap Rahasia Spanyol Juara Piala Dunia 2026: Setia pada Filosofi Jadi Kunci Sukses

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, menegaskan, kesetiaan terhadap filosofi bermain menjadi faktor utama di balik kesuksesan La Roja menjuarai Piala Dunia 2026. Kesuksesan itu melengkapi prestasi de la Fuente setelah sebelumnya membawa El Matador meraih gelar Euro 2024, sekaligus mengukuhkan era baru dominasi sepak bola Spanyol.

Semarak.co – Keberhasilan Spanyol dipastikan setelah menaklukkan Argentina 1-0 pada laga final yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Pertandingan berjalan sangat ketat dan baru ditentukan melalui gol pada babak tambahan waktu.

Bacaan Lainnya

Gol kemenangan Spanyol dicetak Ferran Torres pada menit ke-106 setelah menerima umpan matang dari Nico Williams Jr. Gol itu memecah kebuntuan dalam laga yang didominasi Spanyol sejak awal, tetapi selalu menemui kesulitan menembus pertahanan rapat Argentina.

Usai pertandingan, Luis de la Fuente menegaskan keberhasilan timnya bukan semata karena kualitas individu para pemain. Menurutnya, faktor terpenting adalah kesetiaan seluruh skuad terhadap filosofi permainan Spanyol yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

“Saya sangat bangga dengan generasi pemain sepak bola ini yang telah tumbuh dengan filosofi ini, tetap setia padanya, membuatnya lebih baik lagi, dan memberikan contoh sebagai sebuah tim dan keluarga,” ujar De la Fuente seperti dikutip dari Reuters, dilansir Bola.com (20/7/2026).

Pelatih berusia 65 tahun itu menilai keberhasilan itu merupakan hasil dari proses panjang pembinaan sepak bola Spanyol. Para pemain muda yang kini menjadi tulang punggung timnas disebut berhasil memertahankan identitas permainan sekaligus mengembangkannya sesuai tuntutan sepak bola modern.

De la Fuente juga mengaku sangat emosional melihat perjalanan timnya sepanjang turnamen. Ia menilai para pemain telah menunjukkan karakter luar biasa, baik ketika menghadapi tekanan maupun saat harus bangkit dari situasi sulit di setiap pertandingan.

Perjalanan Spanyol menuju gelar juara memang tidak sepenuhnya mulus. Mereka sempat kehilangan poin pada pertandingan pembuka setelah ditahan imbang Tanjung Verde, namun mampu bangkit dengan meraih kemenangan demi kemenangan hingga akhirnya melangkah ke partai final.

Menurut De la Fuente, perkembangan permainan timnya dari fase grup hingga laga puncak menjadi bukti bahwa para pemain terus belajar dan berkembang sepanjang turnamen. Mental juara yang mereka tunjukkan menjadi salah satu pembeda dibandingkan tim-tim lain.

“Mereka pemain sepak bola kelas dunia yang luar biasa dengan bakat yang luar biasa. Saya sangat terharu. Melihat ke belakang dan memikirkan mereka, kami telah memenangkan segalanya, benar-benar segalanya, dengan generasi pemain ini,” lanjutnya.

Kesuksesan itu sekaligus mengukuhkan generasi emas baru Spanyol yang dihuni pemain-pemain, Lamine Yamal, Nico Williams, Pedri, Gavi, Dean Huijsen hingga Ferran Torres. Mereka dinilai berhasil meneruskan tradisi sepak bola Spanyol yang mengandalkan penguasaan bola, pergerakan cepat dan kerja sama kolektif.

Pada laga final, Spanyol tampil lebih dominan dibanding Argentina. Mereka menguasai jalannya pertandingan, mencatat lebih banyak peluang berbahaya, serta memaksa lini belakang La Albiceleste bekerja keras sepanjang 120 menit pertandingan.

Meski demikian, De la Fuente menegaskan, final Piala Dunia selalu menghadirkan tantangan berbeda. Dominasi permainan tidak otomatis membuat sebuah tim mudah meraih kemenangan, terlebih menghadapi Argentina yang dikenal memiliki mental bertanding sangat kuat.

“Pertandingan seharusnya sudah ditentukan jauh lebih awal, tetapi ini adalah final Piala Dunia dan Anda harus berjuang keras bahkan melawan sepuluh pemain, dan kami siap untuk apa pun,” kata De la Fuente, pelatih yang betahun-tahun membesut timnas Spanyol kelompok umur.

Kemenangan di New Jersey memastikan Fuente mengukir sejarah sebagai pelatih yang sukses memersembahkan dua gelar mayor secara beruntun bagi Spanyol, yakni Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Prestasi itu mempertegas posisi La Furia Roja sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia saat ini. (net/bc/rts/kim/smr)

Pos terkait