Mendukbangga Wihaji Serahkan Bantuan Rehabilitasi Rumah dan Jamban Sehat bagi Keluarga Berisiko Stunting di Aceh Tenggara

Mendukbangga Wihaji menghadiri Temu Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Penguatan Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Rabu (3/6/2026).

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (Mendukbangga/BKKBN) Wihaji mengunjungi Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di Kabupaten Aceh Tenggara sebagai upaya pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting melalui berbagai program langsung.

Semarak.co – Menteri Wihaji menyerahkan bantuan rehabilitasi rumah layak huni kepada tiga keluarga berisiko stunting serta bantuan pembangunan jamban sehat yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara.

Bacaan Lainnya

“Bantuan tersebut merupakan bentuk kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan hunian yang sehat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnaliskemendukbangga/BKKBN, Kamis (4/6/2026).

Penyerahan bantuan dilakukan dengan meninjau langsung rumah penerima manfaat di sejumlah lokasi. Wihaji memastikan intervensi yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek gizi, tetapi juga memperhatikan faktor lingkungan dan sanitasi yang menjadi salah satu penyebab tidak langsung terjadinya stunting.

“Penanganan stunting harus dilakukan menyeluruh. Anak-anak membutuhkan asupan gizi yang baik, tetapi mereka juga harus tinggal di lingkungan yang sehat dan layak. Karena itu, perbaikan rumah dan penyediaan sanitasi yang memadai menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan keluarga berkualitas,” ujarnya.

Wihaji juga berdialog dengan keluarga penerima manfaat serta Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang selama ini mendampingi keluarga berisiko stunting. Ia mengapresiasi peran aktif para kader dalam memastikan berbagai program pembangunan keluarga dapat berjalan dengan baik hingga ke tingkat desa.

Bupati Aceh Tenggara Salim Fakhry menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat Aceh Tenggara, khususnya keluarga yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga.

Rangkaian kunjungan kerja kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bersama Forkopimda, OPD, dan mitra pembangunan keluarga guna memperkuat sinergi percepatan penurunan stunting serta pembangunan keluarga di Kabupaten Aceh Tenggara.

Kunjungan langsung kepada masyarakat ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Menteri Wihaji Temui 1.440 Kader TPK di Aceh Tenggara

Mendukbangga Wihaji juga menghadiri Temu Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Penguatan Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Rabu (3/6/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 1.440 kader TPK tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran kader dalam mendampingi keluarga sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting di daerah.

Menurut data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) Prevalensi balita stunting di Aceh pada tahun 2024 tercatat sebesar 28,60 persen. Sedangkan di Kabupaten Aceh Tenggara sebesar 30,9 persen.

Wihaji menegaskan bahwa TPK merupakan ujung tombak pembangunan keluarga karena berhadapan langsung dengan calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga yang memiliki balita.

Menurutnya, keberhasilan berbagai program pembangunan keluarga sangat ditentukan oleh kualitas pendampingan yang dilakukan kader di lapangan. Pencegahan stunting, perlu dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan sejak dini.

Ia mengingatkan bahwa terdapat empat faktor utama yang perlu menjadi perhatian, yakni pemenuhan gizi yang baik, pola asuh yang tepat, akses terhadap layanan kesehatan, serta lingkungan yang sehat dan didukung sanitasi yang memadai.

Keempat faktor tersebut merupakan area yang bersentuhan langsung dengan tugas Tim Pendamping Keluarga. Karena itu, kader TPK memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi, melakukan pendampingan, serta membantu memastikan keluarga sasaran memperoleh informasi dan layanan yang dibutuhkan untuk mencegah stunting sejak dini.

Pendekatan langsung kepada masyarakat dinilai menjadi kunci agar berbagai program pembangunan keluarga berjalan efektif dan tepat sasaran. “Jangan banyak diskusi, jangan banyak seminar. Terjun ke lapangan, cek lapangan seperti apa pelaksanaannya,” ujarnya.

Selain memperkuat kapasitas kader melalui pendampingan keluarga, upaya percepatan penurunan stunting juga dilakukan melalui intervensi langsung kepada keluarga berisiko stunting.

Pada kesempatan tersebut diserahkan bantuan melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) berupa renovasi tiga unit rumah yang didukung oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) Kutacane serta bantuan pembangunan jamban sehat dari Bank Aceh Syariah KCP Kutacane.

Penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari Program GENTING yang mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam membantu keluarga berisiko stunting melalui dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat. (hms/smr)

Pos terkait