Menko PMK Pratikno Tekankan Pentingnya Link and Match, Pastikan Kerja Sama Vokasi-Industri Berdampak Nyata

Penandatanganan Nota Kesepahaman antara politeknik negeri di Indonesia dan China untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan akademik.

Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya prinsip link, match, and meaning pada pendidikan vokasi, agar kerja sama vokasi – industri tidak hanya relevan dengan pasar kerja, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.

Semarak.co – Hal tersebut disampaikan Menko PMK dalam Konferensi Tahunan Ketiga Aliansi Cina–Indonesia TVET Industri – Pendidikan (CITIEA) 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada Senin (27/4/2026).

Bacaan Lainnya

“Kita harus benar-benar menyiapkan SDM unggul, yang bukan hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja atau peluang baru dan manfaat bagi masyarakat. Inilah yang kita dorong link, match, and meaning,” ujar Pratikno, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Media PMK, Selasa (28/4/2026).

Menko PMK mengapresiasi penguatan kerja sama antara Indonesia dan Cina di bidang vokasi dan industri sebagai langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan disrupsi global.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan vokasi dan industri, baik di dalam negeri maupun dengan mitra internasional, menjadi kunci dalam meningkatkan relevansi keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

“Kami pemerintah mengapresiasi atas kerja sama dari asosiasi pendidikan vokasi di Indonesia dengan pendidikan vokasi di Cina dan juga dengan perusahaan-perusahaan dari Cina dan Indonesia.,” imbuhnya.

Pratikno menyoroti berbagai disrupsi global, mulai dari perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, perubahan iklim, hingga dinamika geopolitik. Menurutnya, kondisi tersebut harus dimaknai sebagai peluang untuk mendorong inovasi dan kolaborasi yang lebih kuat antara dunia pendidikan dan industri.

“Disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan juga geopolitik harus kita lihat bukan hanya sebagai tantangan, tetapi sebagai peluang bagaimana lembaga pendidikan tinggi bekerja sama dengan industri untuk menemukan solusi yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.

Ia mencontohkan, pada sektor pertanian, inovasi sangat dibutuhkan untuk menjaga produktivitas di tengah perubahan iklim yang tidak menentu. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial juga harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, turut dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara politeknik negeri di Indonesia dan China untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan akademik.

Kerja sama ini mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian bersama, penyelenggaraan kegiatan ilmiah, serta program akademik dan budaya guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. (hms/smr)

Pos terkait