Oleh Jinan Muslim
Semarak.co – Nama Zohar Regev Chamberlain kini menjadi sorotan dunia internasional, sebagai satu‑satunya aktivis dalam rombongan Armada Ketabahan (Freedom Flotilla) yang ditahan dan ditolak pembebasannya oleh pihak berwenang Israel.
Kisah hidup dan perjuangannya menjadi bukti nyata keberanian melawan arus, sekaligus membongkar sisi kemanusiaan di tengah konflik yang memecah belah. Zohar adalah wanita berusia 54 tahun, beragama Yahudi, lahir dan besar di Israel.
Tepatnya di sebuah kibbutz bernama Kfar HaHoresh, dekat Nazaret. Sejak muda ia hidup dalam sistem dan budaya negara itu, hingga pada tahun 2004 ia memutuskan meninggalkan tempat asalnya, berpindah ke Spanyol, lalu menetap lama di Belanda dan Jerman.
Titik balik besar dalam hidupnya terjadi pada 2006, saat ia secara terbuka menyatakan masuk Islam dan mengubah pandangan hidupnya sepenuhnya. Perhatiannya tertuju penuh pada nasib rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza.
Pada 2008, ia ikut serta dalam pelayaran kapal bantuan pertama untuk memecahkan pengepungan. Dan baru‑baru ini, ia kembali berlayar dalam misi Armada Ketabahan yang dibajak militer Israel di perairan internasional.
Karena ia masih memegang paspor dan kewarganegaraan Israel, nasibnya berbeda dari rekan‑rekannya: semua aktivis asing dipulangkan, namun Zohar ditahan, diseret ke pengadilan, dan didakwa dengan tuduhan berat: pengkhianatan terhadap negara.
Dalam penuturannya, Zohar mengaku sesungguhnya ia memiliki kehidupan yang sangat nyaman, aman, dan makmur di Eropa. Ia bisa saja diam dan menikmati hidupnya. Namun hatinya tak kuat menahan rasa sakit melihat apa yang terjadi: pembunuhan beramai‑ramai, kehancuran bangunan.
Serta penderitaan berkepanjangan yang menimpa warga Gaza setiap hari. Demi nurani dan kemanusiaan, ia rela naik kapal, menembus risiko, dan mengirimkan bantuan makanan serta obat‑obatan ke wilayah yang dikepung rapat itu.
Kisah ini pun menjadi cermin tajam bagi banyak pihak. Masih banyak orang Arab maupun Muslim yang justru berpihak pada kebijakan Perdana Menteri Netanyahu, berusaha melemahkan gerakan solidaritas, atau diam saja di tengah penderitaan Palestina.
Sementara itu, seorang wanita berdarah Yahudi, warga asli Israel, rela mempertaruhkan kebebasan dan nyawanya demi membela hak rakyat Gaza. Kini, Zohar masih mendekam di penjara, menjadi simbol bahwa solidaritas sejati tidak mengenal batas agama, bangsa, atau kewarganegaraan.
Sumber: Unggahan IG Jinan Muslim, Data Perjalanan Aktivis di WAGroup 1# AMPERA~IND.PUSAT (postKamis28/5/2026/utimurniwati)





