Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menemui transmigran di perkebunan sawit Desa Karya Harapan Mukti, Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo, Jambi. Dia mengatakan, kunjungan untuk melihat langsung keberhasilan program transmigrasi.
Semarak.co – Dikatakan Viva Yoga, mereka yang datang di Kuamang Kuning pada 1985 dengan perjuangan yang keras, kesabaran, dan ketelatenan yang akhirnya mampu membuka lahan-lahan kosong menjadi perkebunan sawit yang produktif.
“Sebelum mandiri, para transmigran kerja sama dengan perusahaan swasta dengaan sistem intiplasma. Setelah kerja sama usai, mereka menjadi petani sawit yang mengelola sendiri lahan yang dimiliki. Tanah dan pohon sawit menjadi miliknya,” ujarnya, dirilis humas melalui WAGroup ForWaTrans, Senin (8/12/2025).
Dari kisah sukses transmigran di Kuamang Kuning, Viva Yoga menyebut paradigma baru transmigrasi sekarang tidak sekadar memindahkan penduduk namun lebih berorientasi pada meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat yang mendiami kawasan transmigrasi.
“Bila transmigran sejahtera maka program ini sesuai dengan harapan semua”, ujarnya. Terciptanya kesejahteraan di Kuamang Kuning akan membuat kawasan itu sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.
Di Karya Harapan Mukti ada 1000 kepala keluarga. Mayoritas mereka sebagai petani sawit. Pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi menurut Viva Yoga disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah.
“Kalau di Bungo kita kembangkan sawit, sedang di daerah lain, misalnya di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat, potensi unggulannya adalah coklat, sedang di Gorontalo kelapa,” ujar mantan Anggota Komisi IV DPR itu.
Viva Yoga melihat pohon sawit yang ada di Kuamang Kuning sudah tua. Untuk itu Kementrans akan bersinergi dengan Kementan dan Pemerintah Bungo untuk peremajaan pohon sawit. Diungkap di lahan seluas 10.000 hektar are, perlu dilakukan replanting.
“Kita akan bersinergi dengan Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah”, ujarnya. Replanting dilakukan agar transmigran bisa berkelanjutan dalam mengelola lahan sawitnya. “Akan kita prioritaskan di TA 2026”, ujarnya.
Ditegaskan program Kementrans adalah turunan dari Asta Cita Presiden Prabowo. Salah satu dari Asta Cita itu adalah Membangun dari Desa dan dari Bawah untuk Pemerataan Ekonomi dan Pemberantasan Kemiskinan.
Erwin Taufan membayangkan dirinya akan menjadi pengangguran bila orangtua tidak ikut transmigrasi pada 1985 ke kawasan Kuamang Kuning, Desa Karya Harapan Mukti, Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo, Jambi.
Nasib keluarganya kini berubah. Sebagai generasi kedua transmigran, Erwin memiliki lahan sawit seluas 8 Ha (Hektare). Setiap bulan dari memanen buah sawit, dia mendapat Rp15 juta per 2 Ha. Hasil yang cukup membuat keluarga Erwin hidup sejahtera.
Kondisi demikian tidak hanya di rumah Erwin Taufan namun di kebanyakan rumah di Karya Harapan Mukti. Bahkan di beberapa rumah terlihat kendaraan roda empat, baik itu kendaraan pribadi maupun truk pengangkut buah sawit. Juga ada rumah terpasang parabola.
(ARW/SMR)





