Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan, stimulasi dan pemenuhan gizi sejak masa kehamilan merupakan fondasi utama dalam membangun kecerdasan anak.
Semarak.co – Wamen Isyana menjelaskan bahwa kecerdasan anak tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dimulai sejak dalam kandungan. Kondisi kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak di masa depan.
“Kecerdasan anak tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari tubuh ibu yang sehat dan kebutuhan gizinya terpenuhi dengan baik,” tegasnya, saat membuka kegiatan TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak) dalam KERABAT (Kelas Orang Tua Hebat) Seri 1 Tahun 2026, dirilis humas melalui WAGroup Jurnalis Kemendikbangga/BKKBN, Kamis malam (5/2/2026).
Dia menguraikan, nutrisi penting seperti asam folat, zat besi, dan omega-3 berperan besar dalam pembentukan sel-sel otak janin. Kekurangan gizi pada masa kehamilan berpotensi menimbulkan gangguan tumbuh kembang yang dampaknya bersifat jangka panjang.
Selain aspek gizi, Wamen Isyana menekankan pentingnya kondisi psikologis dan emosional ibu hamil. Ibu yang merasa tenang, aman, dan mendapatkan dukungan akan menciptakan lingkungan biologis yang lebih kondusif bagi perkembangan otak janin. Dalam konteks ini, peran ayah menjadi sangat krusial.
Wamen Isyana menambahkan, stimulasi sejak dini tidak berhenti saat anak lahir. Anak membutuhkan interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten dari orang tua untuk membentuk kecerdasan kognitif, emosional, dan sosial.
Melalui program TAMASYA di KERABAT, Kemendukbangga/BKKBN terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat bahwa perlindungan dan pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami berharap TAMASYA di KERABAT menjadi ruang belajar yang aman, inklusif, dan menginspirasi dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Wamen Isyana. (hms/smr)





