Ilustrasi Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letnan Jenderal TNI Doni Monardo. Dok indopos.co.id

Hingga Sabtu (20/6/2020) pukul 12.00 WIB, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat data orang terkonfirmasi kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah 1.226 orang menjadi 45.029. Sedangkan pasien Covid-19 sembuh bertambah 534 orang. Kasus meninggal bertambah 56 orang jadi 2.429 orang.

semarak.co– Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, sebanyak 438 kabupaten dan kota di 34 provinsi di Indonesia terdampak wabah virus corona jenis baru penyebab Covid-19. Selain itu, sebanyak 13.150 pasien dalam pengawasan dan 37.336 orang dalam pemantauan.

Penambahan kasus positif, nilai Yurianto, disebabkan upaya pelacakan kontak yang dilakukan lebih agresif disertai pemeriksaan atau tes Covid-19 yang masif. Upaya-upaya itu bertujuan untuk menemukan kasus positif dan melaksanakan isolasi agar tidak menjadi sumber penularan di tengah masyarakat.

“Tidak ada penambahan kasus Covid-19 baru di tujuh provinsi di Indonesia dan sebanyak 19 provinsi melaporkan penambahan kasus Covid-19 yang sangat sedikit,” kilah Yurianto dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Kantor Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (20/6/2020).

Ada 19 provinsi yang hari ini Sabtu (20/6/2020) melaporkan penambahan kasus di bawah 10, rinci Yurianto, dan tujuh provinsi yang melaporkan hari ini tidak ada penambahan kasus sama sekali.

“Beberapa daerah melaporkan pertambahan jumlah orang sembuh Covid-19 signifikan atau lebih banyak daripada jumlah kasus baru positif Covid-19. Banten melaporkan 15 kasus baru positif Covid-19 dan 31 kasus sembuh,” ujarnya.

Kemudian Sulawesi Tenggara melaporkan tiga kasus baru positif COVID-19 dan 10 kasus sembuh. Kepulauan Riau melaporkan satu kasus baru positif COVID-19 dan 10 kasus sembuh.

Di bagian lain Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengingatkan, menjaga jarak fisik atau physical distancing sebagai bagian dari protokol kesehatan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 menjadi penting untuk dilakukan.

Sebagaimana menurut rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), jarak aman yang dianjurkan dalam physical distancing adalah satu hingga dua meter. Kendati protokol kesehatan seperti jaga jarak dan lainnya sudah sering disebar luaskan melalui berbagai media, namun hal itu masih sulit dilakukan.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (Gugus Tugas Nasional) Doni Monardo mengakui, jaga jarak mudah diucapkan, akan tetapi nyatanya masih sulit untuk dilaksanakan. Padahal apabila hal itu dilakukan, maka Covid-19 dapat dikendalikan.

“Jaga jarak mudah diucapkan, tapi masih sulit untuk dilakukan. Kedisiplinan menjadi kunci dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ujar Doni di Jakarta, Jumat (19/6/2020).

Menurut dia, penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 itu tidak akan mudah ditularkan apabila masyarakat disiplin. “Seperti yang saya sudah katakan, tiga kunci utama dalam memutus kunci penanganan Covid-19 adalah disiplin, disiplin dan disiplin,” tegas Doni.

Kemudian, ketika bicara mengenai puncak Covid-19, Doni mengatakan bahwa hal itu semestinya tidak akan terjadi dengan kedisiplinan yang tinggi. Menurut Tim Pakar Gugus Tugas Nasional, hingga hari ini belum ada ahli atau pakar yang dapat mengukur dan memastikan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

“Seluruh dunia saat ini sedang berlomba untuk membuat dan mendapatkan vaksinnya. Dalam hal ini, ada kemungkinan menurut pakar bahwa manusia akan hidup lebih lama dengan Covid-19,” kutip dia.

Sebagaimana beberapa jenis penyakit yang lain seperti HIV-AIDS, yang mana sampai hari ini belum ada obat atau vaksinnya. “Belum ada pakar yang bisa memastikan kapan akan berakhir. Bisa jadi manusia akan hidup lama dengan Covid-19. Vaksin bisa ditemukan atau tidak ditemukan, seperti HIV,” imbuhnya.

Melihat kondisi tersebut, dalam hal ini masyarakat harus dapat hidup berdampingan dengan Covid-19. Adapun berdampingan pada konteks ini bukan berarti menyerah, namun beradaptasi untuk tetap aman Covid-19 dan tetap produktif.

“Berdampingan dengan Covid-19, bukan berarti menyerah, akan tetapi kita harus beradaptasi. Bagaimana kita tetap melakukan aktivitas, tapi tidak terpapar Covid-19,” pungkasnya.(net/smr)

LEAVE A REPLY