Maria Velez dari Orlando, Florida, memeluk nisan putranya Stephen di Ohio Western Reserve National Cemetery pada Memorial Day, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Seville, Ohio, Amerika Serikat, Senin (25/5/2020). Foto: internet

Pejabat senior penyakit menular Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci memperingatkan perubahan sementara peningkatan jumlah pasien rawat inap akibat terjangkit Covid-19 di sejumlah negara bagian bisa tak terkendali jika aturan pelacakan kontak yang kuat tidak diterapkan.

semarak.co– “Saat pembatasan pada kegiatan ekonomi dicabut, AS pasti mengalami kasus infeksi yang terus meningkat. Tapi kalau mulai lebih banyak orang dirawat-inap, itu menjadi tanda yang menyala bahwa kita berada dalam situasi bahwa kita sedang menuju arah yang salah kata Fauci kepada CNN, Jumat (12/6/2020).

Sejauh ini, lebih dari 114.000 orang meninggal akibat wabah virus corona jenis baru penyebab Covid-19 di AS, menurut hitungan Reuters. Sejumlah negara bagian AS sedang bergelut dengan peningkatan jumlah pasien COVID-19 yang mengisi tempat tidur rumah sakit.

Texas dan North Carolina melaporkan tingkat rawat inap tertinggi sejak pandemi Covid-19, pada Jumat (12/6/2020). Namun, para pejabat di kedua negara bagian tersebut juga menunjukkan tingkat terendah kematian COVID-19.

Fauci menyoroti bahwa peningkatan jumlah pasien rawat inap merupakan kecenderungan yang mengkhawatirkan sekaligus sebuah tanda bahwa “mungkin kita perlu memperlambat sedikit” pelonggaran.

Texas berada di garis depan upaya negara-negara bagian untuk membuka kembali ekonomi mereka dan Gubernur Greg Abbott mengatakan saat wawancara dengan KYTX TV, pada Jumat (12/6/2020) bahwa negara bagian tersebut akan tetap dengan rencana seperti demikian.  “Sebab kami mempunyai begitu banyak tempat tidur rumah sakit yang tersedia bagi siapa saja yang sakit.

Sementara itu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (13/6/2020) memperbarui data kasus virus corona, yakni total 2.038.344 kasus, yang mengalami penambahan 22.317 kasus dari jumlah sebelumnya.

Menurut CDC, jumlah kematian juga bertambah sebanyak 711 menjadi 114.625 kematian. CDC melaporkan data kasus penyakit pernapasan, yang dikenal COVID-19 dan disebabkan oleh virus corona jenis baru, pada 12 Juni pukul 16.00 ET versus laporan sehari sebelumnya.

Angka CDC tidak berarti mewakili jumlah kasus yang dilaporkan setiap negara bagian. Hingga saat ini AS, negeri yang melahirkan sastrawan kontemporer Jonathan Franzen merupakan yang teratas dalam jumlah penularan maupun korban meninggal akibat virus yang pertama kali muncul di pasar hewan liar Wuhan, China tengah.

Sampai saat ini, seperti dikutip Reuters, banyak negara berlomba-lomba melakukan uji klinis calon vaksin tapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakan ada  vaksin yang ampuh mengobati corona. (net/smr)

LEAVE A REPLY