Tuduhan Makar Danjen Kopassus Soenarko Bikin Geram Banyak Jenderal

Mantan Kepala Badan Intelijen ABRI Mayor Jenderal Purnawirawan (Purn) Zacky Anwar Makarim mengaku khawatir dengan perkembangan keamanan Indonesia ke depan.

Salah satunya, ia kecewa terhadap penetapan tersangka mantan Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal (Purn) Soenarko. Zacky mengaku mendapat kunjungan dari ratusan purnawirawan Kopassus yang tinggal dari sejumlah daerah.

“Saya dua puluh tahun berdinas di Kopassus, saya terpanggil ada komandan jenderal Kopassus akan diadili soal makar,” kata Zacky saat menghadiri konferensi pers yang digelar tim kuasa hukum mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus Mayjen (purn) Soenarko di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Jumat (31/5).

Ada yang dari Serang, rinci Zacky, Banten, Jawa Barat, Solo, Jawa Tengah, dan Jakarta. Zacky mengatakan ada pula purnawirawan Kopassus generasi yang amat senior, yaitu Trikora.

Menurut dia, mereka menyampaikan kerisauan luar biasa atas penangkapan dan penahanan Soenarko. “Ini ada Mayor Jenderal Heros Paduppai, kemarin dia bawa 60 orang dari Serang, yang mau datang 300 orang. Dia bawa nengok Soenarko,” kutip Zacky.

Zacky bercerita dirinya berada di rumah tahanan militer di Guntur, Jakarta Selatan, tempat Soenarko diterungku ketika para purnawirawan itu datang. Dia mengaku sampai harus menenangkan mereka dan para istri yang juga ikut dalam rombongan.

Sebab, kata dia, akhirnya jumlah pengunjung di rutan dibatasi hanya untuk 80 orang. “Terpaksa saya bicara untuk menenangkan situasi. Mereka marah, ibu-ibu lebih marah lagi,” ucap mantan Ketua Satgas Panitia Penentuan Pendapat Timor Timur.

“Mau diapakan kami punya komandan-komandan ini. Jadi kehadiran saya ini adalah untuk menenangkan situasi,” kutipnya lagi.

Berikutnya, Zacky juga mengaku mendapat pemberitahuan dari Aceh. Kata dia, para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka menyatakan ingin datang membesuk Soenarko.

Purnawirawan berdarah Minangkabau-Arab ini kemudian membujuk mereka agar tak usah datang, dan percaya pada proses hukum yang sedang diupayakan. “Ini akan menjadi mematangkan situasi, tidak bagus, karena itu saya bilang tidak usah datang. Kami akan selesaikan, kami akan menghargai jalur hukum yang ada,” ujar Zacky.

Berita terkait: http://semarak.co/sejumlah-jenderal-terjerat-makar-menhan-ryamizard-saya-sedih-kenapa-bisa-begitu/

Soenarko ditangkap dan ditahan atas tuduhan kepemilikan senjata ilegal, yang menurut versi polisi ialah senapan jenis M4 Carbine.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto sebelumnya mengatakan senjata itu berasal dari Aceh. Pemerintah juga menduga senjata tersebut ada kaitannya dengan rencana aksi 21-22 Mei 2019. Segala informasi versi pemerintah dibantah oleh tim kuasa hukum dan para purnawirawan sahabat Soenarko.

Beda pandangan di tubuh pemerintahan soal adanya gerakan rencana makar dan plot membunuh 4 pejabat, terus berlanjut. Beda pandangan itu antara lain terjadi antara Menhan Ryamizard Ryacudu dan Menko Polhukam Wiranto. Begitu pula di kalangan purnawirawan TNI.

Mantan Kepala Badan Intelijen ABRI Mayjen TNI (Purn) Zacky Anwar Makarim misalnya turut hadir menyampaikan pembelaan untuk mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus, Mayor Jenderal TNI (Purn) Soenarko yang dituduh mengincar empat pejabat.

Dia  mengaku khawatir dengan keamanan Indonesia ke depan pasca-penangkapan mantan Komandan Panglima Daerah Militer Iskandar Muda itu. Terlebih, sebelumnya ia mendapat kunjungan dari para purnawirawan Kopassus.

“Ratusan jumlahnya, apakah itu dari Serang, Batujajar, apakah itu dari Kandang Menjagan Solo, mereka mendesak datang menyampaikan kerisauan yang ada. Ingat ada ribuan pensiunan Kopassus,” tuturnya.

Ia melihat situasi ini tidak bagus untuk perkembangan situasi keamanan nasional ke depan nantinya. “Kami menghargai jalur hukum yang ada,” imbuhnya.

Zacky mengingatkan, Soenarko punya jasa sangat besar dan mendapat pujian dari dunia internasional. Ia prihatin, kini Soenarko justru dituduh ingin makar. “Jangan sampai kita mengalami perang saudara karena persoalan ini. Sekarang Pak Sunarko yang merupakan seorang patriot dituduh makar,” katanya.

Mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen (Purn) Johannes Suryo Prabowo juga tidak terima mantan Danjen Kopassus, Mayjen TNI (Purn) Soenarko dituduh makar.

Bagi purnawirawan, tuduhan makar itu tak ubahnya hinaan. “Jangan hina kami para purnawirawan dengan makar. Kami punya apa? Saat ini persis menjelang 1965. Para ulama ditangkapi, dibunuh, dan muncul Dewan Jenderal yang ujungnya para jenderal Angkatan Darat dibunuh dan dibuang di lubang buaya,” ujar Suryo Prabowo.

Dia meminta media jangan mudah menuduh dengan mengutip pernyataan orang. “Saya sakit hati dengan pemberitaan soal penangkapan Pak Soenarko,” tegasnya.

Menurut dia, tidak ada jenderal yang pengalaman tempurnya menyamai Soenarko. Sekalipun itu Menkopolhukam, Wiranto. “Mungkin kakinya (Menkopolhukam) belum pernah berlumpur,” cetusnya.

Suryo Prabowo membantah kabar Soenarko ditangkap di bandara, apalagi menggunakan senjata rakitan. “Boleh Pak Narko dibilang bersalah tetapi jangan dibilang makar. Jangan mudah menggunakan kata makar. Jangan sekali sekali,” ucapnya.

Pemberitaan mengenai kasus Soenarko jelas dinilainya bukan hanya menyakiti hati keluarga bersangkutan, tapi juga korps baret merah. “Kalian keji! Supaya anda tahu, Soenarko punya anak tiga, belum sekali pun ia tunggui kelahirannya,” kata Suryo Prabowo.

Berita terkait: http://semarak.co/pemberitaan-tak-berimbang-dinilai-rugikan-mayjen-tni-soenarko/

Soenarko terus bergelut membela negara hingga tak punya waktu untuk keluarganya sendiri. “Saya kira dengan Menkopolhukam pun lebih banyak jam terbangnya Soenarko berjuang membela negara di medan tempur,” katanya lagi.

Soenarko kini ditahan di Rutan Guntur bersama Praka BP yang juga ditangkap atas kasus serupa. Soenarko diduga melanggar UU 1/1946 Pasal 110 jo 108 KUHP, dan UU 1/1946 Pasal 163 bis Jo 416 mengenai keamanan negara atau makar.

Tuduhan makar terhadap mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Mayor Jenderal Purnawirawan Soenarko membuat marah kerabatnya, Letnan Jenderal TNI Purn Yayat Sudrajat.

Yayat yang merupakan mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI itu mengaku sangat mengenal betul Soenarko. “Agak anek bagi saya kalau seandainya diberitakan Pak Narko (Panggilan Soenarko-red) ini mau makar, membawa penyelundupan senjata, masya Allah ya kan. Kalau Pak bilang marah, saya marah sekali,” ujar Yayat dengan nada tinggi.

Setiap prajurit TNI disumpah siap mati untuk bangsa dan negara ini. “Jadi, masak seorang Soenarko, kopassus lagi, kemudian mau memberontak, dan yang lucunya kok menyelundupkan senjata hanya satu, ini masuk akal enggak ini, dan itu senjata busuk, itu senjata dimodifikasi,” ungkap Yayat yang juga mantan Sekretaris Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Sesmenko Polhukam).

Prajurit Kopassus selalu ditugaskan oleh negara ini, lanjut Yayat, dan siap mati untuk kepentingan bangsa dan negara ini. “Kalau TNI tidak siap mati untuk negara dan bangsa ini, itu TNI abal-abal,” ungkapnya.

Tuduhan makar terhadap Soenarko itu pun dianggap berbau kepentingan politik. “Saya tidak pernah lihat selama tugas, Pak Narko itu berbuat hal aneh-aneh, dia selalu berada di dalam koridor yang seharusnya dilakukan oleh seorang TNI,” tuturnya. (tpc/dut/lin)

 

sumber: tempo.co/duta.co

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *