Tim Ekspedisi Patriot Undip Bekali Produsen Kerupuk Ikan Rempang Teknik Produksi hingga Branding Produk

Kementerian Transmigrasi dan Tim Ekspedisi Patriot Undip.

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (Undip) memberikan pendampingan kepada kelompok pengolahan kerupuk ikan ‘Rempang Bersemi’ untuk meningkatkan kualitas produksi, pengemasan, serta strategi pemasaran produk.

Semarak.co – Acara menghadirkan dua narasumber, yakni mahasiswa Undip Lydia Primawati dan Ketua PKK Rempang Dian Nurhuda. Keduanya memberikan materi terkait teknik produksi kerupuk ikan yang higienis dan sistematis, branding, hingga pemasaran digital melalui media sosial.

Bacaan Lainnya

“Selama ini kami membuat kerupuk berdasarkan kebiasaan saja. Setelah dijelaskan soal komposisi dan teknik pengulenan yang tepat, kami jadi lebih paham bagaimana menghasilkan kerupuk yang lebih rapi dan tahan lama,” kata Sumarni, salah satu peserta, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Selasa (10/3/2026).

Kerupuk ikan berkualitas ditandai dengan tekstur rapi dan tidak retak. Retakan pada adonan biasanya disebabkan ketidakseimbangan kadar air atau proses pengulenan yang kurang optimal. Selain varian original, kelompok juga diperkenalkan pada inovasi rasa seperti udang dan sotong untuk meningkatkan nilai jual produk.

Pada sesi produksi, peserta mendapatkan penjelasan tahapan pembuatan kerupuk ikan yang baik dan benar. Proses dimulai dari pencucian ikan segar, pembersihan sisik, pemotongan, hingga pemisahan daging dari tulang (fillet). Daging ikan lalu dihaluskan hingga berbentuk pasta sebelum dicampur garam, penyedap, serta tepung kanji sebagai pengikat.

Semua komposisi bahan secara terukur. Umumnya, adonan menggunakan perbandingan 1:1 antara daging ikan dan tepung, atau menyesuaikan kebutuhan produksi. Adonan yang telah kalis kemudian dibentuk lonjong, diberi pewarna makanan, lalu dikukus selama kurang lebih dua jam hingga mengeras sebelum masuk tahap pengeringan.

Selain aspek produksi, peserta juga mendapatkan materi mengenai pentingnya branding dan legalitas produk. Dalam pemaparan dijelaskan identitas produk meliputi logo, label, dan kemasan yang menarik serta informatif.

Label produk perlu memuat informasi penting seperti nama produk, komposisi bahan, berat bersih, nama dan alamat produsen, tanggal kedaluwarsa, kode produksi, informasi nilai gizi, label halal (jika telah tersertifikasi), nomor izin edar seperti BPOM atau PIRT, serta petunjuk penyimpanan.

Peserta juga dikenalkan dengan berbagai pilihan kemasan, mulai dari plastik polos yang ekonomis, standing pouch yang lebih modern, toples plastik atau kaca untuk kesan premium, hingga kemasan aluminium foil yang mampu memperpanjang masa simpan produk.

Salah satu anggota kelompok, Juliarti mengatakan materi mengenai kemasan dan label produk membuka wawasan baru bagi para anggota kelompok. Menurutnya, kemasan yang menarik dan informasi produk yang lengkap dapat meningkatkan kepercayaan konsumen.

“Kami jadi sadar kalau kemasan itu sangat memengaruhi minat beli. Kalau tampilannya lebih menarik dan informasinya lengkap, pembeli pasti lebih percaya,” kata Juliarti.

Pada sesi akhir, peserta mendapatkan pelatihan dasar pemasaran digital melalui Instagram dan WhatsApp Business. Materi yang diberikan meliputi cara membuat akun bisnis, mengoptimalkan profil, serta memanfaatkan fitur seperti feed, stories, dan reels sebagai media promosi.

Peserta didorong membuat jadwal unggahan secara konsisten dan menggunakan tagar yang relevan agar jangkauan promosi produk semakin luas. “Produk yang bagus harus didukung promosi yang baik. Media sosial sekarang menjadi etalase utama. Kalau kita tidak mulai belajar, kita akan tertinggal,” kata Dian Nurhuda.

Melalui kegiatan pendampingan ini, Kelompok Rempang Bersemi diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas pasar. Pengembangan usaha kerupuk ikan di Rempang diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat dan mendorong tumbuhnya usaha mikro yang lebih berdaya saing. (AAF/SMR)

Pos terkait