Terjebak Algoritma dan Doomscrolling, BKKBN Aceh Ajak Gen Z Kelola Layar Digital

Talkshow Radio "Realita Gen Z: Terjebak Algoritma dan Doomscrolling, Gimana Keluarnya?" Kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN Aceh dengan RRI Banda Aceh ini digelar di Klise Cafe, Sabtu (24/10/2026), dengan 60 peserta dari komunitas, mahasiswa, Duta Genre, mitra kerja, dan pendengar RRI.Foto: humas BKKBN

Generasi Z tumbuh di tengah banjir informasi digital yang masif. Kemudahan akses gawai dan media sosial melahirkan fenomena baru: doomscrolling, kebiasaan menggulir konten negatif tanpa henti yang perlahan menggerus fokus hingga memicu brain rot.

Semarak.co – Fenomena itulah yang dibedah dalam Talkshow Radio “Realita Gen Z: Terjebak Algoritma dan Doomscrolling, Gimana Keluarnya?” Kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN Aceh dengan RRI Banda Aceh ini digelar di Klise Cafe, Sabtu (24/10/2026), dengan 60 peserta dari komunitas, mahasiswa, Duta Genre, mitra kerja, dan pendengar RRI.

Dialog ini mengajak Gen Z tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi pengendali media sosial agar tidak dikendalikan algoritma.

Duta Genre Indonesia 2025 Fikrul Azka, menegaskan perbedaan mendasar. Scrolling adalah aktivitas mencari informasi dengan tujuan jelas, atau scrolling otomatis saat menunggu. Sementara doomscrolling adalah ketika seseorang terjebak pada konten-konten negatif dan terus ingin tahu lebih dalam.

“Algoritma terbentuk dari kebiasaan kita. Ketika kita terus membuka konten negatif, media sosial akan menganggap itu yang kita mau dan menyuguhkan hal serupa,” jelas Azka dalam diskusi.

Kondisi itu membuat banyak Gen Z merasa media sosial paling memahami dirinya, padahal sebenarnya mereka sedang dikunci algoritma.

Psikolog Wenny Aidina, S.Psi., M.Psi., menjelaskan Gen Z tumbuh di era serba instan. Keinginan serba cepat itu perlu dikelola, mulai dari kebiasaan kecil seperti makan sambil memegang ponsel.

Kebiasaan yang dianggap sepele itu jika dibiarkan akan membuat seseorang sulit lepas dari gawai dan cenderung reaktif terhadap informasi. “Tidak semua dalam hidup kita reaktif, tapi kita boleh responsif,” ujar Wenny, mengingatkan pentingnya merespons informasi dengan sadar, bukan impulsif.

Duta Genre Indonesia 2024, M. Dzaki Raihan, menekankan algoritma sangat mudah tercipta dari perilaku digital. Karena itu literasi dan verifikasi menjadi kunci. “Kita harus cek dua kali terhadap berita yang kita dapatkan,” tegas Dzaki.

Sikap kritis itu dinilai penting untuk menekan hoaks di tengah derasnya arus informasi. Senada, Duta Genre Indonesia 2025, Fikrul Azka, mengatakan pemahaman tentang doomscrolling dan kesehatan mental harus diikuti aksi nyata.

“Setelah terpapar tentang apa itu doomscrolling maupun mental health baru kita memahami dan harus berbuat apa. Forum Genre tentu sangat aktif agar kita terhindar dari isu-isu negatif dan lebih aware memberikan sosialisasi terutama kepada Gen Z,” ujar Fikrul.

Ia menambahkan Forum Genre Aceh aktif melakukan sosialisasi di 23 kabupaten/kota untuk mengurangi screen time dan mendorong aktivitas fisik remaja.

Sesi tanya jawab mengangkat isu pengawasan. Penanya Nadia menyoroti anak-anak yang bermedia sosial tanpa pengawasan orang tua. Dzaki menjawab, aturan platform sejatinya membatasi anak di bawah 16 tahun, namun peran keluarga tetap utama.

“Orang tua perlu lebih memahami kewajibannya sebagai penanggung jawab dalam menjaga anak dari doomscrolling. Peran serupa juga berlaku bagi kakak dan abang dalam keluarga,” jelasnya.

Menanggapi pertanyaan Duta Bahasa Aceh tentang cara meluruskan hoaks yang beredar di grup orang tua, Wenny mengingatkan pentingnya pendekatan santun.

“Jangan menghardik orang tua dengan nada berlebihan ketika meluruskan informasi yang keliru,” pesannya dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Minggu malam (25/10/2026).

Menutup diskusi, Wenny mengajak peserta mengambil kendali atas diri sendiri. “Kontrol 3P, pikiran, perasaan, dan perilaku. Jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh hal di luar diri,” ujar Wenny.

Dzaki menambahkan refleksi, “Manusia cenderung menyukai hal-hal yang mudah, padahal tanpa disadari hal itu dapat berdampak buruk. Kenapa kita tidak mengubah hal-hal buruk dalam hidup kita agar mempermudah kita ke depannya.”

Fenomena doomscrolling tidak hanya berdampak pada kecemasan dan stres, tetapi juga mengancam produktivitas, ketahanan mental, dan kesiapan remaja merencanakan masa depan.

Melalui kegiatan ini, berharap genrasi muda semakin bijak bermedia sosial, kritis terhadap informasi, dan mampu mengelola konsumsi konten digital.(hms/bkkbn/sam)