Festival Teater Pelajar (FTP) ke-43 yang diselenggarakan INDRAJA, di Grogol, Jakarta Barat, sudah berlangsung sukses pada awal Nopember 2016 kemarin. Dalam evaluasi global ketiga dewan juri, ada yang perlu disimpan jadi referensi.

Menurut juri Ediyan, bagaimana sutradara yang ikut FTP menangani pemain grupnya yang hidup dalam generasi 2000. Tapi memang terlihat pada karya-karya mereka, ada sutradara yang berpikir pada asyiknya diri sendiri dan sebagian kecil sudah berpikir pada generasinya sekarang. Justru yang hebat, nilai Edi, ada sutradara yang berada di generasi sekarang atau bisa disebut sutradara muda menjadi sutradara di generasinya, dan hasilnya terlihat lebih maju pula.

“Menurut hemat saya, walau ini subjektifitas saya, kalau generasi sebelum kalian (para pelajar yang berada di generasi sekarang, saya melihat lebih cenderug pada prosesnya. Proses itu penting sehingga latihan misalnya, jadi lebih panjang sebelum dipentaskan. Karena sebuah karya teater tidak ada ampun yang proses yang instan,” ujar Ediyan saat tampil pertama dengan moderator Ketua Panitia sekaligus Ketua Indraja Heryanto.

Tapi, lanjut Edi, generasi sekarang terasa bahwa namanya proses jadi tidak penting. Karena generasi sekarang sudah mendapatkan seluruh kebutuhan akan prosesnya. Fasilitas-fasilitas ini tidak ditemukan pada generasi peralihan. Artinya, sutradara-sutradara senior yang menggarap dengan anggota anak-anak pada generasi sekarang. Jadi, menurut Edi, justru yang bagus itu, bagaimana generasi sebelum yang sekrang bisa masuk proses berpikirnya ke generasi yang sekarang. Banyak sutradara yang asik dengan dirinya tanpa mau menyadari pemainnya,
Jadi prtunjukkan itu, akhirnya menjadi kereshan sutradara. Bukan  kereshan bersama. Sehingga tampak pertunjukkantidak mempresentasikan keresahan atau kegelisahan pemain yang para pelajar itu.
“Anak sekarang, begitu lahir, dihadapkan produk handphone. Dari dulu menggunakan lampu petromak ke listrik, televise hitam putih sekarang sudah warna. Ini semua tentu membawa dampak pada cara berpikir juga. Kalau dulu berpikirnya pada borjuis, sekarang serba instan. Mencari referensi misalnya, tidak lagi perlu baca buku, tapi klik ponsel nongol semua kebutuhan itu. Dampak buruknya, genrasi-generasi yang mau cepet proses seperti sekarang tidak terlalu mau mementingkan proses. Jadi karyanya terlihat  serba buru-buru,” urainya.

Dunia ini sudah berubah, lanjut Edi, dan bagaimana sutradara menangkap ini untu memadukan
generasi lama bisa beradaptasi dengan generasi sekarang. “Misalnya, kegelisahan jadi milik sutradara. Padahal harusnya kegelisahan bersama. Banyak proses adaptasi antara sutradara dengan pemain, tapi jadinya tidak kental,” sindirnya.

Untuk itu, Edi mendesak agar festival teater pelajar punya cirri khas. Cirinya tentu di area pelajar itu sendiri. “Saya harus menemukan sesuatu yang lain dari ajang ini. Estetika dan wacana-wacana jadi penting di teater lain, tapi di FTP ini beda. Jadi perlu seperti workshop kegelisahan ABG generasi sekarang. Sehingga pelajar tidak melulu jadi corong. Indraja harus membuat desain FTP  yang punya cirri itu. FTP Brat ini sudah 10 tahun lebih. Jadi haruss ada beda dengan FTP-FTP, termasuk dengan FTJ (festival teater Jakarta).

Di keaktoran, lanjut dia, hampir di sebagian besar secara teks aktor tidak bisa keluar dari dirinya atau keluar dari karakter tokohnya. “Contoh ketika tertawa. Bentuk tertawanya jadi sama semua. Padahal dari keseharian saja sudah terlihat berbeda. Waktu bayi tertawa terpingkal-terpingkal, sekarang kok jadi susah seperti itu,” sindirnya.
Lebih jauh Edi menyoroti bidang penyutradaraan. Ambil contoh pada ritme (ketukan), termasuk hidup. Setiap orang punya cara makan minum masing-masing. Ķetika itu dilatih ketika di pentas sudah jadi. “Idenya sih ada, tapi ketika jadi pertinjukkan jadi tidak pas,” ungkapnya.

Juri lainnya, Rini Samsi mengatakan, seperti pemain harus memahami artikulasi. Kalau tidak, maka pendengarnya bisa tidak mengerti apa yang diucapkan. “Dialog adalah informasi pada penonton.  Pemain harus menganggap penonton rata-rata datang dari kalangan awam. Jadi latihannya, bagaimana cara mengucapka huruf a i u e o. Dari grup pertama sampai akhir, saya menemukan kelemahan pokok pada artikulasi,” ungkap Rini, yang dosen IKJ (institute kesenian Jakarta).

Selanjutnya soal intonasi, lanjut Rini. Sebagian besar kebanyakan terdengar memakai intonasinya diayun. “Dialog diucapkan dengan ada nada ayunan. Harusnya dialog yang terdengar pengucapannya tegas. Misalnya kalau emosi marah, karena dialognya terdengar mengayun, jadi tidak seperti marah,” paparnya.
Selain itu, kata dia, bidang emosi. Ketika artikulasi dan intonasi betul, maka emosi bisa betul. “Emosi berkaitan dengan tokoh apa yang dibawakan di atas panggung. Kalau tidak paham akan emosi, maka pemain jadi main seperti diri sendiri. Untuk itu perlu bedah naskah lalu, observasi. Peran ibu atau anak orangtua, saya paham seusia pelajar belum punya pengalaman batin akan itu. Jadi perlu observasi untuk dapat bagaimana gesture, cara bicara, dan lainnya. Jadi pemain harus punya kelihaian dan kreatif untuk memperkaya diri menjadi tokoh di atas panggung,” ujarnya.

Terakhir juri CH Cheme Ardi yang meminta sutradara jangan asik sendiri dalam memilih naskah. Karena nanti jadi tidak berbunyi atau ada hal yang khas di atas panggung. Karena banyak yang harusnya sutradara sampaikan dengan bener. “Pemain-pemain di grup peserta FTP ini selalu kondisinya berganti yang baru sesuai tahun ajaran baru. Jadi sutradara jangan buru-buru menggarap. Sutradara haruss sabar melakoni proses latihan untuk sampe mendapatkan bunyinya di atas panggung. Jad jangan sampai salah memberi naskah pada pemain karena bisa membunuh potensi pemain,” ujar Cheme, sutradra senior yang juga aktifis INDRAJA.
Pemain, pinta Cheme, harus mau berlatih dengan sabar juga. Jangan buru-buru mau cepet pentas. Bahkan pemain harus mau latihan sendiri, jika sutradara belum dating. Jadi tidak semangat main ada, cuma malas. Ini tidak  jadi apa-apa juga nantinya,” sindirnya.

Pada generasi sekarang, kata dia, diuntungkan bagi sutradara maupun pemain. Karena mengungkap ekspresinya, tanpa tedeng aling-aling lagi. “Tapi sayang itu ssemua tidak di panggung. Nahkan yang dirahasiakan muncul di dunia maya. Ekspresi di diri  pelajar itu tidak salah karena dipengaruh sistem pendidikan kita juga. Di mana guru jadi monolog. Jadi murid hanya mendengar, Ketika murid yang kritis, dia dianggap melawan. Padahal proses belajar mengajar murid juga belajar bertanya. Terbukti pelajar jadi takut bertanya dan tidak berani berekspersi,’ pungkasnya. (lin)

LEAVE A REPLY