SPMB PJJ Kemendikdasmen Bawa Harapan Baru bagi Jutaan Anak Tidak Sekolah

Diluncurkan melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) dirancang sebagai paradigma baru layanan pendidikan pada kebutuhan anak.

Diluncurkan melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) dirancang sebagai paradigma baru layanan pendidikan pada kebutuhan anak, khususnya bagi sekitar 2,4 juta anak tidak sekolah (ATS) usia 16–18 tahun.

Semarak.co – Sekjen Kemendikdasmen Suharti saat membuka Webinar Pencanangan SPMB PJJ Jenjang Pendidikan Menengah Tahun 2026, mengatakan negara harus mengubah cara pandang dalam menghadirkan layanan pendidikan.

Bacaan Lainnya

“Selama bertahun-tahun kita terbiasa dengan anak yang datang ke sekolah. Hari ini kita harus perubahan paradigma untuk anak-anak yang mengalami hambatan akses pendidikan bahwa negara harus hadir mendekati dan menjemput mereka,” kata Suharti, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, jutaan ATS perlu segera dijangkau agar tidak semakin jauh dari layanan pendidikan. “Tugas kita adalah untuk menjangkau mereka kembali ke sekolah dan memastikan mereka menyelesaikan pendidikannya sehingga mereka tidak kehilangan kesempatan untuk memperbaiki masa depan,” ujarnya.

Suharti menambahkan, transformasi melalui PJJ membuat sekolah tidak lagi dibatasi oleh ruang fisik, melainkan menjadi ekosistem pembelajaran yang mampu hadir sesuai kondisi setiap anak. “Kita ingin memastikan tidak ada anak yang terlalu jauh untuk dijangkau, tidak ada mimpi anak Indonesia yang terhenti karena keterbatasan layanan pendidikan,” tegasnya.

Dirjen ektur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa SPMB PJJ merupakan gerakan pengembalian ATS ke pembelajaran, bukan sekadar proses pendaftaran.

“Karena pendidikan yang berkeadilan adalah bukan memberikan layanan yang sama persis, melainkan memberikan dukungan yang sesuai agar peluang sukses mereka sama,” ujar Tatang.

Ia menambahkan, keberhasilan SPMB PJJ diukur dari keberlanjutan belajar peserta. “Target akhir dari SPMB PJJ ini adalah bukan hanya banyaknya pendaftar atau anak yang kembali aktif belajar, melainkan seberapa banyak anak yang mampu bertahan dan lulus,” pesannya.

Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, mengatakan SPMB PJJ menjadi momentum perubahan dari layanan yang menunggu menjadi layanan yang aktif menjangkau. “ATS tidak menunggu layanan, tetapi layanan yang mendatangi ATS,” katanya.

Menurut Saryadi, strategi yang disiapkan juga menjamin keberlanjutan pendidikan anak. “Tujuan akhirnya bukan hanya sekadar meningkatkan APS (angka partisipasi sekolah). Tujuan akhirnya adalah setiap anak bisa menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pengakuan secara formal, dan melanjutkan kehidupannya,” ujarnya.

SPMB 2026 di Balikpapan, Sekolah Negeri dan Swasta Bersinergi Menampung Murid

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengimbau pemda memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan melalui pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Menurutnya, kolaborasi  menjadi kunci agar tidak ada anak yang tertinggal.

Pesan tersebut disampaikan Fajar saat meninjau pelaksanaan SPMB di SMA Negeri 5 Balikpapan. Dia mengapresiasi praktik baik yang diterapkan Pemerintah Kota Balikpapan bersama satuan pendidikan dalam menghadirkan SPMB Ramah yang berlangsung transparan, berkeadilan, inklusif, dan tanpa diskriminasi.

“Kita ingin memastikan apakah aturan-aturan SPMB selama ini yang sudah kita tetapkan, kita sepakati, dilaksanakan. Dan tadi saya lihat alhamdulillah cukup baik ya pelaksanaannya, tidak ada riak-riak. Tadi saya lihat juga kesiapan dari para staf juga kelihatan terlatih,” ujar Fajar.

Fajar menuturkan, keterbatasan daya tampung sekolah negeri masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Di Balikpapan, dari sekitar 12 ribu lulusan SMP, sekitar 7.500 murid dapat tertampung di SMA dan SMK negeri.

Ia mengapresiasi langkah Balikpapan yang melibatkan sekolah swasta sebagai mitra penyelenggaraan SPMB sehingga akses pendidikan dapat menjangkau lebih banyak peserta didik.

Selain memastikan pelaksanaan SPMB berjalan sesuai ketentuan, Fajar juga mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) sesuai pedoman Kemendikdasmen.

“Kami titip dalam proses MPLS besok, itu betul-betul ngikuti panduan dari kami. Saya percaya di sini tidak ada pembulian, tidak ada kekerasan. Kita harapkan anak-anak kita tumbuh dalam ekosistem sekolah yang aman, nyaman sesuai dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2024 budaya sekolah aman dan nyaman,” kata Fajar.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMA Negeri 5 Balikpapan, Murti, mengatakan pelaksanaan SPMB mengacu pada petunjuk teknis dengan membagi panitia ke dalam tim informasi, pelayanan, dan verifikasi agar masyarakat memperoleh layanan yang cepat dan ramah.

“Praktik baiknya itu adalah kita selalu melihat dari arahan juknis, kita harus melayani dengan ramah mulai dari memberikan informasi, peran verifikator, dan lainnya,” ujarnya.

Murti menambahkan seluruh kepala SMA dan SMK di Balikpapan juga berkomitmen menjaga integritas SPMB. “SPMB harus transparan. Kesepakatan antara kepala sekolah semua se-Balikpapan SMA dan SMK bahwa apapun kendalanya, titipan itu betul-betul ditiadakan,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ketua Panitia SPMB SMA Negeri 5 Balikpapan, Sulkifli, mengatakan panitia aktif mendampingi masyarakat selama proses pendaftaran. “Kalau ada kesulitan untuk mendaftar, orang tua bisa datang langsung ke ruang IT di sekolah supaya bisa kita bantu,” katanya.

Dukungan terhadap perluasan akses pendidikan juga ditunjukkan sekolah swasta mitra. Kepala SMP PGRI 2 Balikpapan, Rinawati, menyampaikan, “Tahun ini kami mengalami peningkatan kuota, sehingga sekarang seluruh kuota sudah terpenuhi,” ungkapnya.

Sementara Ketua Panitia SPMB, Antonia, mengatakan, “SPMB tahun ini berjalan sangat lancar. Sebelum jam tutup kita sudah tutup duluan karena kuotanya sudah penuh,” jelas Antonia.

Tingginya antusiasme masyarakat tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi pemerintah daerah dengan sekolah swasta menjadi bagian penting untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan bermutu.

SPMB Ramah bagi Murid PAUD, Ciptakan Rasa Nyaman Saat Anak Belajar lewat Dunia Bermain

Tawa anak-anak terdengar memenuhi ruang orientasi di TK ‘Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus. Alih-alih mengikuti tes membaca atau berhitung, mereka diajak bermain, berinteraksi, dan mengenal lingkungan sekolah.

Bagi para guru, itulah cara terbaik mengenali karakter setiap anak. Bagi orang tua, pengalaman tersebut menjadi awal yang menenangkan dalam mengantarkan buah hati memasuki jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Eni Uswati merasakan pengalaman itu saat mendaftarkan putri bungsunya melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Menurutnya, proses berlangsung sederhana sekaligus memberi ruang bagi sekolah untuk mengenal anak sejak awal.

“Persyaratannya cukup membawa akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan pas foto. Setelah diverifikasi, kami mengikuti orientasi bersama anak. Anak-anak diajak asesmen awal agar guru mengenal karakter mereka sejak awal,” tutur Eni.

Pengalaman serupa dirasakan Fathur Rohman. Setelah putranya mengikuti Kelompok Bermain di sekolah tersebut, ia kembali memilih melanjutkan ke jenjang TK karena meyakini bahwa pendidikan usia dini bukan tentang mengejar kemampuan akademik.

“Kami merasa prosesnya sangat baik. Orang tua diberikan penjelasan, sementara anak-anak dikenalkan dengan lingkungan sekolah melalui kegiatan yang menyenangkan. Harapan kami, anak menjadi lebih mandiri, lebih bertanggung jawab, dan semakin berkarakter,” katanya.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan, usia dini merupakan fondasi bagi perkembangan anak pada jenjang pendidikan berikutnya. “Hampir semua teori pendidikan menyebutkan bahwa tujuh tahun pertama kehidupan merupakan masa yang paling menentukan. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi bagi seluruh proses pendidikan selanjutnya,” ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah memasukkan PAUD ke dalam program Wajib Belajar 13 Tahun, sekaligus memperluas dukungan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bagi peserta didik TK dari keluarga sasaran serta peningkatan kompetensi guru PAUD.

“Jangan membebani anak-anak TK dengan tuntutan akademik yang berlebihan. Pendidikan di usia dini adalah ruang bagi anak untuk bermain, bersosialisasi, membangun rasa percaya diri, melatih motorik, menanamkan kebiasaan baik, dan membangun karakter,” pesannya.

Semangat tersebut diterapkan dalam pelaksanaan SPMB di TK ‘Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain. Kepala sekolah, Ami, mengatakan seluruh informasi pendaftaran disampaikan secara terbuka, sekaligus menjadi ruang membangun kemitraan dengan orang tua.

“Kami ingin memastikan setiap orang tua memahami sejak awal visi sekolah, kurikulum, hingga pola kolaborasi yang akan dibangun. TK bukan tempat berlomba agar anak cepat bisa membaca, tetapi tempat membangun fondasi akhlak, karakter, dan kesiapan belajar,” jelas Ami. (hms/smr)

Pos terkait