Sosok Anies Baswedan Gambaran Pewayangan Sang Wisanggeni untuk Perubahan Lebih Baik

Wisanggeni, nama tokoh pewayangan yang dianalogikan sama seperti kemunculan Capres Anies Baswedan. foto: parahiangannews

Oleh Kang Oos Supyadin SE *)

semarak.co-Dalam pagelaran wayang, rata-rata para dewa di khayangan sering digugat oleh rakyatnya sendiri karena ketidakadilan. Misalkan dalam lakon Wahyu Topeng Waja, sebenarnya wahyu itu diberikan kepada Gathutkaca lantaran jasanya kepada Khayangan Suralaya setelah ia berhasil meredam pemberontakan.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi, dewa-dewa di khayangan justru memberikan wahyu tersebut kepada Boma karena intrik politik Kresna. Wisanggeni geram dengan ulah para dewa yang terkesan inkonsistensi terhadap janjinya.

Kemarahannya diluapkan dengan menghajar beberapa dewa yang sengaja berkoalisi dengan Kresna. Bagi Wisanggeni, dewa sebagai panutan rakyat harus memberikan teladan yang baik. Dalam memberikan sesuatu anugerah harus kepada yang berhak menerimanya.

“Jika dalam istilah Jawa, jangan sampai para dewa bersifat emban cindhe emban siladan, jangan memandang sesuatu dari sebelah mata,” ungkap Fajar Pramono.

Pesan Wisanggeni Gugat dan sejenisnya dalam konteks menggugat ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan elit (dalam hal ini para dewa) yang mesti jadi teladan. Dalam kisah pewayangan, Wisanggeni dikenal sebagai putra Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Batari Dresanala, putri Batara Brama dan Dewi Saraswati.

Wisanggeni merupakan tokoh istimewa dalam pewayangan Jawa. Arjuna adalah anak ketiga dari Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti alias Dewi Prita. Nama lain Arjuna adalah Raden Janaka, Raden Premadi, Raden Pamade, Raden Dananjaya, dan Raden Pandhutanaya.

Dalam cerita pewayangan, sosok Arjuna dikenal sebagai ksatria di Madukara. Prabu Pandu Dewanata adalah putra Bagawan Abiyasa putra Bagawan Palasara. Sedangkan Dewi Kunti adalah putri Surasena putra Wangsa Yadawa.

Batara Brama dikisahkan juga memiliki puteri yang sangat cantik bernama Dewi Dresanala. Dewi Dresanala ini kelak menjadi istri Raden Arjuna dari keluarga Pandawa, dan menurunkan putera bernama Wisanggeni yang sangat sakti.

Konon ketika baru lahir, Wisanggeni dibuang ke dalam kawah gunung berapi oleh Batara Brama, kakeknya sendiri. Sebab kelahiran Wisanggeni yang sangat sakti dianggap menyebabkan kahyangan goncang sehingga Batara Guru memerintahkan Batara Brama untuk membunuh cucunya tersebut.

Batara Brama sebenarnya tidak tega melakukannya, tapi karena diperintahkan oleh Batara Guru maka dengan terpaksa Batara Brama melakukannya. Ketika dibuang ke dalam kawah gunung berapi, Wisanggeni tidak mati karena bagaimanapun dia adalah cucu dari dewa api.

Malah kesaktian Wisanggeni semakin hebat. Akhirnya Wisanggeni selamat dan berkat bantuan Semar dan Sang Hyang Wenang Wisanggeni bisa menuntut keadilan kepada kakeknya dan Batara Guru.

Pada akhirnya Batara Guru mau menerima kehadiran Wisanggeni dalam keluarga para dewa dan Batara Brama menyatakan penyesalannya karena telah berusaha membunuh cucunya itu. Setelah semua pihak berdamai, kahyangan kembali tenang. Dari kisah pewayangan di atas, kehadiran Anies Baswedan menggambarkan sosok Sang Wisanggeni.

Dimana penguasa negeri merasa khawatir dengan tampil karir politik setelah menjadi Gubernur DKI Jakarta, kini rakyat banyak mengharapkan Anies menjadi Presiden RI yang akan membawa perubahan untuk Indonesia yang lebih baik mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan untuk semua. AMIN

Salam Perubahan

*) Penulis adalah Ketua Barisan Relawan AMIN /BARA-24 dan Pemerhati Kesejarahan

 

sumber: parahiangannews.com/26/12/2023 di WAGroup AMAR MARUF NAHI MUNKAR (postSelasa26/12/2023/oossupyadin)

Pos terkait