Serangan Houthi Guncang Pasar Energi, Harga Minyak Dunia Tembus 113 Dolar AS

Harga minyak mentah dunia menguat pada hari Kamis, 22 Oktober 2026, setelah serangan kelompok Syiah Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran baru mengenai pasokan energi dari Timur Tengah bagi pasar energi global.

Semarak.co – Kontrak Brent ditutup naik 4,35 dolar AS atau sekitar 4% menjadi 113,17 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah Amerika Serikat (AS) jenis WTI berakhir di 99,47 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis di pasar internasional.

Menurut media Thailand, The Nation Thailand, kenaikan itu membawa Brent ke penutupan tertinggi sejak 4 Mei 2026. Bloomberg juga melaporkan bahwa Brent bertahan di atas 113 dolar AS, sementara WTI diperdagangkan mendekati 99 dolar AS pada Kamis.

Dilansir The Straits Times, situs Bloomberg dan The Nation Thailand (23/10/2026), serangan Houthi yang bersekutu dengan Iran menyasar sejumlah lokasi di Arab Saudi pada Rabu, 21/10. Laporan menyebut korban jiwa dan luka-luka di bandara sipil Dammam serta ladang minyak Saudi.

Ketegangan tersebut mendorong Saudi Aramco meminta pegawai meninggalkan kantor pusatnya di Dhahran dan bekerja dari rumah. Langkah itu memerkuat kekhawatiran pasar terhadap keselamatan fasilitas energi utama kerajaan Saudi di tengah konflik.

Risiko pasokan tidak hanya datang dari Arab Saudi. Di Libya, penutupan katup pipa yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara ke pelabuhan Zawiya menyebabkan produksi kedua ladang berkurang secara langsung.

Investor juga mencermati jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Gangguan pada jalur itu berpotensi memerlambat pengiriman minyak, meningkatkan ongkos kapal dan memerbesar premi risiko geopolitik di pasar.

Meski ekspor minyak kawasan Teluk dilaporkan pulih mendekati tingkat sebelum perang, risiko keamanan dan persoalan logistik masih menahan harga. Pasar kini menunggu apakah ketegangan akan meluas atau mereda di waktu ke depan.

Kenaikan harga minyak dapat menambah tekanan bagi negara pengimpor energi melalui biaya bahan bakar, transportasi dan produksi. Namun, dampak akhirnya bergantung pada lamanya gangguan serta respons produsen dan pemerintah masing-masing. (net/tst/blbg/tnt/kim/smr)