Sebelum Hamas dilucuti, Menhan Israel Tolak Mundur dari Gaza Timur

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan pada Selasa (17/2/2026) bahwa militer Israel tidak akan mundur satu milimeter pun dari posisi mereka di Garis Kuning Jalur Gaza sebelum pelucutan senjata total Hamas tercapai.

Semarak.co Di sisi lain, mantan anggota Kabinet Perang, Gadi Eisenkot, melontarkan kritik tajam dengan menyebut bahwa tujuan penghancuran kekuatan militer Hamas belum tercapai meski perang telah berlangsung selama dua tahun tiga bulan.

Dalam konferensi yang diadakan surat kabar Yedioth Ahronoth, dilansir Arrahmah.id dan Reuters (18/2/2026), Katz menyatakan, tentara Israel akan tetap bertahan di Garis Kuning (zona penyangga di timur Gaza) dan menolak penarikan bertahap yang diatur dalam Fase Kedua rencana gencatan senjata.

“Kami tidak akan pernah membiarkan Hamas bertahan, baik dengan senjata maupun terowongan. Slogan kami sederhana: hingga terowongan terakhir,” tegas Menteri Pertahanan Zionis Israel, Israel Katz, di Tel Aviv, kemarin.

Pernyataan ini memerkuat ancaman Sekretaris Pemerintah, Yossi Fuchs, yang memberikan peringatan ultimatum 60 hari bagi faksi-faksi Palestina untuk menyerahkan senjata atau menghadapi kembalinya perang skala penuh.

Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich memperkeruh suasana dengan menyerukan pendudukan total atas Gaza, pembangunan kembali pemukiman Yahudi, dan mendorong migrasi sukarela bagi warga Palestina.

Namun, pemimpin oposisi Yair Lapid membalas pernyataan tersebut dengan menyebutnya sebagai halusinasi. Lapid mengingatkan bahwa kenyataan di lapangan menunjukkan masih adanya puluhan ribu pejuang bersenjata di Gaza.

Mantan Panglima IDF, Gadi Eisenkot, memberikan penilaian yang suram terhadap kinerja pemerintahan PM Benjamin Netanyahu. Ia mengungkapkan, rencana untuk membubarkan Hamas dalam waktu satu tahun yang disetujui pada Oktober 2023 gagal total.

Meski Israel telah menggunakan kekuatan militer yang masif dan membayar “harga yang sangat mahal”. Eisenkot menuding penolakan Netanyahu untuk membahas rencana “Hari Setelah Perang”.

Penolakan sebagai penyebab kegagalan mengubah pencapaian militer menjadi kesuksesan politik. Ia juga mencatat bahwa saat ini keputusan strategis Israel sangat dipengaruhi oleh kebijakan Washington di bawah kendali internasional yang luas.

Di lapangan, situasi kemanusiaan terus memburuk akibat adanya pelanggaran harian. Pada hari Selasa 17 Februari 2026, seorang anak berusia 14 tahun, Rasem Youssef Asalia, ditemukan tewas akibat serangan Zionis Israel di wilayah Jabalia.

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza melaporkan bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata terbaru diberlakukan, setidaknya sebanyak 603 warga Palestina ditemukan tewas akibat berbagai pelanggaran militer negara yahudi itu.

Krisis ini meletus sejak Oktober tahun 2023 dan telah merenggut lebih dari 72.000 nyawa warga Palestina, dengan kerusakan infrastruktur yang diperkirakan telah mencapai sebanyak 70 miliar dolar Amerika Serikat. (net/aid/rts/kim/smr)

Pos terkait