Direktur Utama BTN Pahala N. Mansury (paling kanan) saat paparan kinerja perusahaan.foto: humas BTN

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Dirut BTN) Pahala Nugraha Mansury menyebutkan sektor perumahan tidak begitu terdampak pandemi COVID-19 karena merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

semarak.co-Pahala menyakini perumahan masih dibutuhkan mengingat rasio sektor perumahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih rendah yakni tiga persen, terendah dibandingkan beberapa negara utama di kawasan Asia Tenggara.

“Kami bersyukur bahwa produk atau segmen yang tidak begitu terpengaruh dengan pandemi itu adalah perumahan,” kata Pahala dalam webinar Infobank terkait strategi bangkit dari krisis di Jakarta, Selasa (1/12/2020).

Dalam paparannya ia menyebutkan Malaysia, misalnya rasio perumahan terhadap PDB mencapai 38,4%, Thailand 22,3%, Filipina 3,8% dan Singapura 44,8%. Rendahnya rasio di Indonesia itu, lanjut dia, mengindikasikan masih banyak ruang bisnis untuk dikembangkan sektor perumahan.

Dengan begitu, lanjut dia, menjadi peluang besar bagi BTN mengingat bank BUMN ini sekitar 75% berkutat di bisnis kredit pemilikan rumah (KPR). Apalagi, kata dia, berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bahwa masih terdapat kebutuhan 11,4 juta berdasarkan kepemilikan.

BACA JUGA :  Gelar Investor Gathering, BTN Tawarkan Aset Property Murah

Dan 7,6 juta berdasarkan hunian masih membuka peluang ekspansi bisnis properti dan menggerakkan subsektor ekonomi lainnya. BTN menguasai 40 persen pangsa pasar KPR Tanah Air dengan portofolio sebesar Rp196,50 triliun mencapai 1,778 juta unit.

Bank BUMN ini menyalurkan KPR sebesar Rp196,51 triliun atau naik 1,39% dibandingkan periode sama tahun 2019 mencapai Rp193,8 triliun. Secara total, BTN ini hingga kuartal III-2020 menyalurkan kredit dan pembiayaan di segmen perumahan sebesar Rp231,34 triliun dan nonperumahan mencapai Rp23,57 triliun.

“Dengan kinerja itu, BTN mencatatkan aset sebesar Rp356,97 triliun atau naik 12,89 persen dibandingkan posisi sama tahun 2019 mencapai Rp316,21 triliun,” rinci dia.

Saat ini, lanjut dia, fokus yang dilakukan korporasi adalah memperbaiki proses bisnis dan kebijakan risiko dan mempersingkat proses bisnis agar meningkatkan kepuasan kepada nasabah melalui peningkatan digitalisasi. “Bukan hanya mengakses produk tabungan tapi juga interaksi digital untuk memberikan produk lain dari KPR,” katanya.

Adapun sektor-sektor yang tidak begitu terdampak pandemic, rinci Pahala, di antaranya pertanian, pendidikan, hingga jasa kesehatan yang berpotensi mendapat kucuran pembiayaan. (net/smr)

LEAVE A REPLY