Putra paling terkemuka dari pemimpin Libya yang terbunuh, Muammar Gaddafi, Saif al-Islam Gaddafi, telah ditemukan tewas di kota Zintan, Libya barat. Kematiannya yang tragis dikonfirmasi pada Selasa 3 Februari 2026 kemarin.
Semarak.co – Saif al-Islam, yang berusia 53 tahun saat terbunuh, adalah putra kedua Gaddafi dan telah menetap di Zintan sejak 2011. Dia pernah mendekam di penjara dan kemudian, setelah 2017, sebagai orang bebas, merencanakan kembali ke dunia politik.
Tokoh-tokoh yang dekat dengannya, termasuk penasihat politiknya, Abdullah Othman, dan pengacaranya, Khaled el-Zaydi, mengonfirmasi kematiannya pada hari Selasa,3 Februari 2026 kemarin, kendati kondisi pastinya masih belum jelas.
Sebelum pemberontakan 2011, Saif al-Islam dipandang oleh banyak orang sebagai pewaris tahta ayahnya dan orang kedua paling berpengaruh di Libya. Ia tetap menjadi tokoh penting di tengah kekerasan yang melanda Libya setelah protes Musim Semi Arab, yang menyebabkan perang saudara.
Terdapat banyak tuduhan terhadapnya mengenai penyiksaan dan kekerasan ekstrem terhadap lawan-lawan pemerintahan ayahnya. Pada Februari 2011, ia masuk dalam daftar sanksi (cekal) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan dilarang bepergian.
Pada Maret 2011, NATO mulai membombardir Libya setelah PBB mengizinkan “semua tindakan yang diperlukan” untuk melindungi warga sipil dari pasukan Gaddafi dalam perang saudara yang berkecamuk di negara kaya minyak itu.
Pada Juni 2011, Saif al-Islam mengumumkan ayahnya bersedia mengadakan pemilihan dan akan mengundurkan diri jika ia tidak memenangkannya. Namun, NATO menolak tawaran tersebut, dan pembombardiran Libya terus berlanjut.
Pada akhir Juni, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Saif al-Islam, tetapi ia tetap buron hingga setelah kematian ayah dan saudara laki-lakinya, Mutassim, di Sirte, pada 20 Oktober 2011.
Setelah negosiasi panjang dengan ICC, yang telah menyerukan ekstradisinya, para pejabat Libya diberikan wewenang mengadili Saif al-Islam di Libya atas kejahatan perang yang dilakukan selama pemberontakan sepanjang tahun 2011.
Pada saat itu, pengacara pembela Saif al-Islam khawatir persidangan di Libya tidak akan dimotivasi oleh keadilan, tetapi keinginan untuk balas dendam. PBB memerkirakan hingga 15.000 orang tewas dalam konflik tersebut.
Sementara Dewan Transisi Nasional Libya memerkirakan angka tersebut mencapai 30.000. Pada tahun 2014, Saif al-Islam muncul melalui tautan video di pengadilan Tripoli tempat persidangannya diadakan, lantaran ia dipenjara di Zintan pada saat itu.
Pada Juli 2015, pengadilan Tripoli menjatuhkan hukuman mati kepadanya secara in absentia. Namun, pada tahun 2017, ia dibebaskan oleh Batalyon Abu Bakr as-Siddiq, milisi yang menguasai Zintan, sebagai bagian dari amnesti yang dikeluarkan otoritas Libya timur, yang tidak diakui secara internasional.
Tetapi ia tidak muncul kembali di depan umum selama bertahun-tahun dan terus dicari oleh ICC. Pada Juli 2021, Saif al-Islam memberikan wawancara langka kepada The New York Times yang dilansir Sindonews.com (3/2/2026) di mana ia menuduh otoritas di Libya “takut akan … pemilu”.
Menjelaskan identitasnya yang tersembunyi, ia mengatakan bahwa ia telah “menjauh dari rakyat Libya selama 10 tahun”. “Anda perlu kembali perlahan-lahan. Seperti pertunjukan striptease,” tambahnya. Ia kemudian melakukan penampilan publik pertamanya setelah bertahun-tahun pada November 2021.
Pemunculannya di kota Sebha, di mana ia mendaftarkan diri untuk mencalonkan diri sebagai presiden Libya, dalam upaya membangkitkan kembali ambisi para pendukung ayahnya yang masih menyebar di masa lalu.
Awalnya ia dilarang untuk berpartisipasi, tapi kemudian ia diizinkan kembali, tetapi pemilihan tidak berlangsung karena situasi politik Libya yang bergejolak, dengan dua pemerintahan yang bersaing memerebutkan kekuasaan. (net/snc/tnyt/kim/smr)





