Rilis Album Hikayat Cinta Negeri Melayu Ramaikan Gelaran Jakarta Melayu Festival

Niken Astri tampil dalam pagelaran musik Jakarta Melayu Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat malam 22 Agustus 2014. Pagelaran tersebut mengusung tema Melayu Menyatukan Kita. TEMPO/Nurdiansah.

Pertunjukan musik bertajuk Jakarta Melayu Festival yang akan diadakan di Ancol Beach City, pada 19 Agustus 2017 besok diharapkan bisa menjadi daya tarik anak muda. Pagelaran tahun ini agak berbeda dari tahun lalu, yang hampir semuanya musisi local. Tahun ini, Danny Lerman, seorang pemain saksifon dari Amerika Serikat, akan tampil di festival yang digelar rutin tahunan.

Promotor acara ini, Geisz Chalifah mengatakan, festival musik ini memasuki pagelaran ketujuh sejak pertama kali diadakan sekitar 2012 lalu. Selain untuk melestarikan budaya Melayu, juga untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72. Jakarta Melayu Festival kali ini akan dimeriahkan penampil lintas genre music. Antara lain, Erie Suzan, Shena Malsiana, Kiki Ameera dan Konsentra Sumut.

“Ada juga musisi Melayu seperti Hendri Lamiri (biola), Butong (akordeon), Fahad Munif (gitar oud), Saleem Abdullah (keyboard) juga akan tampil di panggung festival,” ujar Geisz dalam jumpa wartawan, di Jakarta, Jumat (11/8). Ikut hadir Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan, lalu Ferry Mursyidan Baldan, yang sejak awal memang mendukung festival ini.

Menurut Anies, tahun ini, selain mengadakan acara, Jakarta Melayu Festival, rencana merilis sebuah album berjudul Hikayat Cinta Negeri Melayu, berisi sembilan lagu lama yang diaransemen ulang. Pemilihan kata dalam lagu-lagu Melayu mencerminkan budi pekerti. “Dan disampaikan dengan cara yang halus,” kata Anies, mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Anies menjelaskan bahwa musik Melayu memiliki keindahan tersendiri. Utamanya, kekuatan kata yang terdapat di syair-syairnya. “Betapa pemilihan kata dalam syair lagu Melayu menggambarkan cita rasa dan budi pekerti yang luar biasa,” ujar Anies yang memegang rekor belum terpecahkan sebagai rector termuda di Indonesia.

Keindahan tersebut seharusnya dapat dinikmati juga oleh generasi muda dan menjadi daya tarik bagi mereka, terlebih kini generasi muda lebih menyukai produk musik dari luar dibandingkan musik otentik nusantara. “Kami berharap generasi muda kita diekspose lagi pada tradisi musik Melayu sehingga menjadi daya tarik bagi mereka untuk lebih mengenal dan menikmati musik melayu,” jelas Anies, mantan Rektor Universitas Paramadina.

Anies juga berharap generasi muda bukan hanya mempertahankan musik melayu melainkan juga mengembangkan. Salah satunya, mengenal genre musik ini dengan mendatangi langsung Jakarta Melayu Festival 19 Agustus nanti. “Jelas ke depan anak muda bukan hanya mempertahankan tetapi juga mengembangkan musik melayu agar lebih mendunia, salah satunya dengan datang ke Jakarta Melayu Festival,” pungkasnya. (lin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *