Kemendikdasmen berkomitmen meningkatkan fasilitas di sekolah luar biasa (SLB). Komitmen ini ditunjukkan melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran serta penguatan pendidikan vokasional di SLB, termasuk untuk SLB-SLB di wilayah Indonesia Timur.
Semarak.co – Sekolah Luar biasa Negeri (SLBN) Pulau Morotai, Maluku Utara, merupakan salah satu sekolah di wilayah timur Indonesia yang mendapatkan bantuan revitalisasi dengan total bantuan Rp1,39 miliar.
Puluhan murid kini lebih antusias dalam belajar dan mengembangkan potensi diri sejak ruang kelas dan ruang keterampilan mereka di rehab total. Sebelumnya, pembelajaran tidak maksimal disebabkan kondisi gedung yang rusak dan tidak pernah diperbaiki sejak sekolah dibangun pada 2013.
“Dulu ruang keterampilan rusak parah sehingga kami jarang gunakan karena kondisinya tidak layak. Saat ini ruang keterampilan telah aktif kembali untuk mengajar kompetensi anak-anak,” kata Kepala SLBN Pulau Morotai Nilla Timbuleng, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Jumat (20/2/2026).
Selain mendapatkan bantuan revitalisasi, sekolah ini juga menerima bantuan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) yang mendukung digitalisasi pembelajaran di sekolah.
“Wah, murid kami sangat antusias sekali mereka belajar menggunakan PID, apalagi di ruang kelas barunya nyaman sekali. Kami banyak mencari ide untuk bahan belajar termasuk bagaimana mengembangkan keterampilan kerajinan tangan atau musik dari PID ini,” tambah Nila.
Selain itu ada SLBN Raja Ampat, Papua Barat Daya, yang sejak September 2025, juga berbenah melalui program revitalisasi. Hasilnya, sejak Januari 2026 sekitar 20-an ABK kini bisa mengakses layanan pendidikan khusus dengan mudah. Sebelumnya, banyak ABK yang tidak bisa sekolah lantaran akses SLB yang jauh, yakni di Kota Sorong.
“Banyak murid kami yang sudah besar-besar, tapi baru masuk sekolah karena memang sebelumnya tidak ada SLB di Raja Ampat. Namun, sekarang ABK bisa sekolah, mendapatkan pendidikan, dan mendapatkan terapi serta keterampilan di SLBN Raja Ampat,” kata Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SLBN Raja Ampat, Fandy Dawenan.
Tidak hanya sekolah negeri, SLB swasta di wilayah Indonesia Timur juga terus ditata agar dapat memberikan layanan pendidikan khusus dan vokasional yang unggul. Salah satunya seperti di SLB ST. Elisabeth Pupung, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala SLB ST Elisabeth Pupung Vinsensius Wandu mengatakan, terpilihnya sekolahnya menjadi penerima bantuan telah memberikan kesempatan bagi sekolahnya untuk berbenah dalam hal penyediaan fasilitas ruangan belajar yang sebelumnya hanya menumpang di salah satu rumah warga di Kampung Pupung, Desa Rondo Woing.
“Sekolah kami di pedalaman, SLBN hanya ada di kota sehingga kami menampung ABK yang tidak terjangkau sekolah negeri dan jumlahnya cukup banyak di daerah kami,” kata Vinsensius.
Dari program revitalisasi, perwajahan sekolah berubah total, dari awalnya hanya menyewa rumah warga, kini SLB ST. Elisabeth Pupung memiliki ruang kelas, perpustakaan, ruang administrasi, serta selasar yang mendukung aktivitas para murid yang sebagian besar berasal dari desa di Kecamatan Rana Mese.
Sepanjang 2025, Kemendikdasmen melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) telah menyalurkan bantuan program Revitalisasi Satuan Pendidikan terhadap 382 SLB di seluruh Indonesia.
Wilayah Indonesia timur menjadi salah satu daerah prioritas. Program revitalisasi untuk SLB setidaknya telah menyasar sedikitnya 65 SLB di wilayah Indonesia timur mulai dari Sulawesi, Maluku, NTT, hingga Papua, dengan total anggaran Rp 90 miliar lebih.
Perkuat Dukungan Pendidikan 3T, Kolaborasi Keluarga dan Guru Dorong Pembangunan SDM
Pemerintah terus memperkuat kehadiran negara dalam mendorong transformasi pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Dukungan tersebut tidak hanya menyasar peningkatan kompetensi guru, tetapi juga pemerataan fasilitas dan akses teknologi pembelajaran.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa praktik baik para guru di wilayah 3T menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang menghadirkan pembelajaran bermakna.
“Cerita praktik baik dari para guru menunjukkan keterbatasan bukanlah penghalang menghadirkan pembelajaran bermakna. Pemerintah memastikan dukungan lebih merata, mulai peningkatan kompetensi, penguatan distribusi guru, serta dukungan teknologi pembelajaran seperti Papan Interaktif Digital dan akses internet,” ujar Nunuk.
Sebagai bentuk keberpihakan nyata, pemerintah terus menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi pendidik di daerah 3T. Pada 2025, tercatat sebanyak 43.393 guru menerima TKG dengan total anggaran yang disalurkan mencapai Rp636.7 miliar. Setiap guru penerima memperoleh tunjangan Rp2 juta per bulan.
Komitmen tersebut sejalan dengan semangat para pendidik, salah satunya guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Risky Jalil. Sejak 2024, ia mengabdikan diri di wilayah 3T dengan berbagai dinamika dan tantangan.
“Tantangan terbesar dalam proses pembelajaran di wilayah tersebut adalah transportasi menuju sekolah terutama saat cuaca buruk seperti keras ombak. Fasilitas belajar seperti buku, dan jaringan internet juga terbatas. Selain itu, kemampuan literasi dasar sebagian murid masih rendah, sehingga proses pembelajaran membutuhkan waktu lebih lama,” ungkapnya.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, dukungan pemerintah dan berbagai pihak menjadi penguat bagi guru untuk terus berinovasi. Risky menyampaikan bahwa keterbatasan alat peraga dan teknologi tidak menghalanginya untuk tetap kreatif dalam mengajarkan Matematika.
“Khusus pembelajaran matematika saya sering berinovasi dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar karena keterbatasan alat peraga. Misalnya, mengajarkan operasi hitung dasar, saya menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan,” ucap Risky.
Ia berharap ada pemerataan kualitas pendidikan, baik dari segi fasilitas, distribusi guru, maupun akses teknologi. “Semoga murid di wilayah 3T memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” jelasnya.
Risky menilai, kebijakan Tunjangan Khusus bagi guru di daerah 3T telah memberikan dampak nyata dalam mendukung keberlanjutan pembelajaran. “Program pemerintah melalui pemberian Tunjangan Khusus bagi guru di daerah 3T telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesejahteraan dan motivasi kerja guru,” jelasnya. (hms/smr)






