Seorang pejabat tinggi Arab Saudi, pada Ahad (1/2/2026), membantah laporan media Amerika Serikat (AS) yang menyebut adanya desakan Riyadh kepada Washington untuk melancarkan serangan militer terhadap Republik Iran.
Semarak.co – Ia menegaskan, Arab Saudi tetap mendukung upaya penyelesaian damai atas konflik antara kedua negara yang tengah berseteru tersebut. Bahkan, salah seorang pejabat tinggi Kerajaan Arab Saudi menyebut, negaranya tak sudi udara wilayahnya dilintasi penerbangan militer AS.
Dalam pernyataan yang dimuat surat kabar Al-Sharq Al-Awsat milik Saudi, dan dilansir Republika.co.id pada 2/2/2026, pejabat tersebut menyebut laporan media AS mengenai perubahan sikap kerajaan terkait kemungkinan serangan AS terhadap Teheran sebagai tidak benar.
“Arab Saudi mendukung upaya untuk menemukan solusi damai atas semua isu yang diperselisihkan antara Amerika Serikat dan Iran melalui dialog dan jalur diplomatik,” kata sebuah sumber yang enggan disebutkan namanya tersebut.
Ia menegaskan penolakan kerajaan atas penggunaan wilayah udaranya untuk tindakan militer apa pun terhadap Iran. Sebelumnya, portal berita AS Axios mengklaim Riyadh telah mendesak Washington untuk menyerang Iran dengan peringatan, kegagalan melakukan serangan dapat memerkuat rezim Iran.
Pada Selasa, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, melalui percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, kembali menegaskan dukungan kerajaan terhadap upaya penyelesaian perselisihan melalui dialog demi menjaga stabilitas kawasan.
Sementara itu, pada hari Rabu kemarin lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa armada besar sedang menuju Iran. Ia mendesak Teheran segera memulai perundingan.
Pernyataan tersebut tentu saja memicu spekulasi mengenai kemungkinan serangan militer Paman Sam dan memunculkan reaksi keras dari para pejabat Republik Islam Iran, serta meningkatkan aktivitas diplomatik di kawasan.
Pada Juni 2025, Israel dengan dukungan AS melancarkan perang selama 12 hari melawan Iran. Konflik tersebut memicu serangan balasan berupa drone dan rudal dari Teheran sebelum Washington mengumumkan gencatan senjata. (net/rci/a/kim/smr)





