Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping dalam satu kesempatan beberapa waktu lalu. Foto: internet

Duta Besar China untuk London Inggris melaporkan Amerika Serikat (AS) sedang berusaha menyulut perang dingin baru dengan negara komunis tersebut lantaran sedang mencari kambing hitam menjelang pemilu presiden November mendatang.

semarak.co– “Bukan China yang menjadi tegas. Ada sisi lain dari Samudera Pasifik yang ingin memulai perang dingin baru dengan China sehingga kami harus merespons itu,” kata Duta Besar China untuk London Liu Xiaoming kepada awak media, Kamis (30/7/2020).

Liu Xiaoming menambahkan, “Kami tidak tertarik dengan perang Dingin apa pun, kami tidak tertarik dengan perang mana pun. Kami semua menyaksikan apa yang sedang terjadi di Amerika Serikat.”

Mereka berupaya mengkambinghitamkan China, lanjut Liu, mereka ingin menumpahkan kesalahan terhadap China atas masalah mereka sendiri. Kami semua tahu bahwa tahun ini bakal digelar pilpres. “Mereka ingin melakukan apa saja termasuk memperlakukan China sebagai musuh,” kata Liu seperti dilansir Reuters.

Liu menambahkan lagi, “Mungkin mereka pikir mereka perlu musuh, mereka pikir mereka menginginkan Perang Dingin tetapi kami tidak berminat, kami selalu memberitahu Amerika bahwa China bukan musuh kalian, China teman kalian, mitra kalian.”

Peretas yang dicurigai terkait dengan Pemerintah China telah memasuki jaringan komputer Vatikan, termasuk di antaranya data milik perwakilan gereja Katolik Roma di Hong Kong, kata Recorded Future, perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, Rabu (29/7/2020).

Menurut Recorded Future, peretasan terjadi pada Mei. Vatikan dan China akan kembali berunding pada tahun ini untuk memperbarui perjanjian yang menjadi dasar relasi China dan otoritas Gereja Katolik Roma. Perjanjian itu pertama kali disepakati pada 2018.

Perusahaan keamanan siber asal AS itu dalam laporannya menyebut para peretas (hacker) menargetkan Vatikan dan perwakilannya di Hong Kong, termasuk kepala perwakilan Paus Francis di China.

Laporan Recorded Future menyebut informasi yang diretas antara lain jalur komunikasi antara perwakilan Gereja Katolik Roma di Hong Kong dan Vatikan. Peretasan itu diyakini memakai alat dan metode yang sama dengan kelompok hacker yang didukung Pemerintah China.

Namun, Kementerian Luar Negeri China sampai hari ini belum menanggapi pertanyaan terkait laporan tersebut. Beijing kerap menyangkal keterlibatannya dalam upaya peretasan yang disponsori negara. Pemerintah berdalih justru pihaknya jadi korban.

Juru bicara Vatikan juga belum dapat dihubungi. Misi Studi Hong Kong, perwakilan Vatikan di China, juga belum dapat dimintai tanggapan terkait masalah itu. Informasi mengenai peretasan dilaporkan saat perwakilan Pemerintah China dan menteri luar negeri Vatikan bertemu di Jerman awal tahun ini setelah lama tidak bertemu selama puluhan tahun.

Hubungan antara China dan Vatikan kian membaik, bahkan keduanya diperkirakan akan memperbaiki kesepakatan mengenai operasional Gereja Katolik Roma di China yang berlaku selama dua tahun pada September 2020.

Seorang delegasi Pemerintah China dijadwalkan mengunjungi Vatikan untuk membahas pembaruan kesepakatan itu, tetapi adanya pandemi membuat perjalanan itu jadi tidak pasti, kata seorang pejabat senior Vatikan. Sumber yang sama itu juga mengatakan sejauh ini masih belum jelas apakah kesepakatan tersebut akan diperpanjang dan untuk berapa lama. (net/smr)

LEAVE A REPLY