Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto memberikan keterangan terkait perkembangan kasus COVID-19 dalam konferensi pers secara online di Jakarta, Sabtu (28/3/2020). Foto: internet

Hingga Senin (1/6/2020) pukul: 12.00 WIB, ada penambahan 329 orang yang sembuh sehingga 7.637 pasien Covid-19 dari 26.940 orang yang terkonfirmasi positif. Sedangkan pasien yang meninggal sebanyak 1.641 orang.

semarak.co– Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan, jumlah pasien dalam pengawasan yang masih diawasi sebanyak 13.120 orang dan orang dalam pemantauan sebanyak 48.358 orang.

“Data tersebut menunjukkan penambahan bila dibandingkan sehari sebelumnya, yaitu jumlah kasus positif bertambah 467 orang dan pasien meninggal bertambah 28 orang,” ungkap Yurianto dalam jumpa pers di Graha BNPB yang dipantau di laman medsos BNPB di Jakarta Pusat, Senin (1/6/2020).

Sebelumnya pada Minggu (30/5) terdata 7.308 pasien sembuh dari 26.473 kasus positif dan 1.613 orang meninggal dunia. Kenaikan kasus tersebut merupakan gambaran dari keseluruhan wilayah Indonesia.

Namun bila dirinci lebih lanjut, angka yang masih cukup tinggi didapatkan di DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan Kalimantan Selatan. Karena itu, kata dia, pemerintah akan terus berupaya semaksimal mungkin pada provinsi-provinsi yang masih tinggi angkanya untuk bisa ditekan.

Hal itu tentunya dilakukan dengan berbasis pada masyarakat setempat dalam mengubah perilakunya. “Sementara itu, untuk hari ini terdapat 15 provinsi yang tidak ada laporan kasus positif baru,” ujarnya.

Seluruh provinsi di Indonesia sudah terpapar Covid-19, sedangkan kabupaten dan kota yang terdampak sebanyak 416. Jumlah daerah terdampak ini tidak mengalami peningkatan dari hari sebelumnya.

Secara keseluruhan, pemerintah telah melakukan pemeriksaan usapan rongga mulut dengan berbagai jenis spesimen mencapai 333.415 spesimen, baik itu menggunakan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) ataupun Tes Cepat Molekuler (TCM).

Khusus untuk pemeriksaan hari ini diselesaikan sebanyak 10.039 spesimen. Sementara itu terdapat pula 6.525 spesimen yang masih sedang diverifikasi dengan laboratorium, rumah sakit yang mengirim dan beberapa sedang dalam proses untuk pemeriksaan.

Perkembangan epidemologi, lanjut Yurianto, sistem kesehatan serta surveillance atau sistem pengawasan kesehatan daerah-daerah yang menerapkan normal baru dalam pandemi COVID-19 akan terus dipantau.

“Sepanjang penerapan tatanan kehidupan baru ini akan dilakukan pemantauan terkait perkembangan epidemologi daerah, sistem kesehatannya dan sistem surveillance kesehatannya,” kata dia.

Beberapa hal terkait bagaimana menerapkan normal baru secara keseluruhan dalam sistem masyarakat di Tanah Air untuk kehidupan yang baru akan sangat ditentukan oleh kondisi wilayah itu sendiri.

Sejak awal, kata dia,  gugus tugas penanganan Covid-19 memberikan masukan kepada pemerintah daerah, kemudian dilakukan kajian epidemologi tentang penyakit di wilayah-wilayah tersebut.

Selain itu juga disampaikan data-data tentang sistem kesehatan yang ada di daerah termasuk sistem surveillance kesehatan. “Atas dasar inilah maka kita bisa melihat bahwa memang ada beberapa kabupaten dan kota di Tanah Air yang tidak terdampak COVID-19,” ujarnya.

Daerah-daerah itulah yang kemudian semestinya sudah bisa melaksanakan tata kehidupan yang baru. Hal itu sudah menjadi keputusan pemerintah daerah yang diambil bersama-sama dengan seluruh pemangku kepentingan serta tokoh yang ada di kabupaten dan kota.

Langkah itu dilakukan sebab tahapan selanjutnya ialah harus menciptakan kondisi serta upaya prakondisi yang diberikan dan disampaikan pada masyarakat agar mereka memahami betul apa yang harus dilakukan.

Bahkan, tidak hanya berupa sosialisasi melainkan juga edukasi pada semua aspek kehidupan. Selanjutnya dilakukan simulasi di berbagai tempat termasuk fasilitas umum dengan tatanan hidup yang baru. “Bagaimana mengimplementasikan tatanan hidup yang baru misalnya di pasar dan sekolah,” ujarnya.

Untuk sekolah tentunya juga perlu diperhatikan stratanya yakni bagaimana di tingkat perguruan tinggi, SMA, SMP serta SD. Hal tersebut harus benar-benar dipahami oleh masyarakat agar meyakini bahwa mereka mampu melaksanakan normal baru dengan baik.

Ia berharap dengan adanya pemantauan atas perkembangan epidemologi serta sistem kesehatan tiap-tiap daerah, maka akan terlihat bahwa peran yang paling menentukan adalah masyarakat dan diharapkan mereka menyikapinya dengan benar. “Inilah yang kita harapkan tatanan baru dalam kehidupan kita bisa menjadi cara bagi kita untuk menjaga aman dari COVID-19,” katanya. (net/lin)

LEAVE A REPLY