Ilustrasi Bendera negara Republik Rakyat China dan negara Australia. Foto: internet

China telah melarang masuknya dua akademisi Australia yang diklaim anti China di tengah ketegangan yang meningkat antara Beijing China dan Canberra Australia. Surat kabar Global Times mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya menyebut keputusan itu diambil pemerintah China setelah Australia lebih dulu mencabut visa dua akademisi China atas dugaan penyusupan pada awal September 2020.

semarak.co– Surat kabar itu, seperti dikutip Reuters, Kamis (24/9/2020) yang diterbitkan media resmi Partai Komunis China yang berkuasa People’s Daily, mengidentifikasi kedua akademisi Australia tersebut sebagai Clive Hamilton dan Alex Joske. Pihak Australia belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Hubungan Australia dan China menjadi tegang karena berbagai masalah, mulai dari sengketa perdagangan hingga seruan Australia untuk penyelidikan internasional tentang asal-usul virus corona baru yang pertama kali ditemukan di China akhir tahun lalu, dan tuduhan campur tangan China untuk urusan dalam negeri Australia.

Dalam sebuah buku yang diterbitkan pada 2018, Hamilton, yang adalah seorang profesor etika publik di Universitas Charles Sturt di Canberra, menuduh Partai Komunis China melakukan kampanye untuk memberikan pengaruh dalam politik dalam negeri Australia.

Sementara Joske adalah seorang analis di Institut Kebijakan Strategis Australia, yang oleh Global Times disebut terkenal karena mengaduk-aduk propaganda anti China dan mengarang isu-isu anti China.

Sementara itu, Reuters melaporkan polisi Hong Kong menangkap pegiat demokrasi terkemuka Joshua Wong pada Kamis (24/9/2020) karena berpartisipasi dalam pertemuan tidak sah pada Oktober 2019 dan melanggar undang-undang anti-masker kota itu, menurut sebuah posting di akun Twitter resminya.

Penangkapan terbaru Wong menambah serangkaian tuduhan keterlibatan pada pertemuan yang melanggar hukum atau dugaan pelanggaran yang dia dan para pegiat lain hadapi terkait dengan protes pro-demokrasi tahun lalu, yang mendorong Beijing untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional pada 30 Juni 2020.

Polisi Hong Kong mengonfirmasi bahwa mereka menangkap dua pria, berusia 23 dan 74 tahun, pada Kamis karena berkumpul secara ilegal pada 5 Oktober 2019. Penangkapan Wong, 23 tahun, terjadi sekitar 6 minggu setelah taipan media Jimmy Lai ditahan karena dicurigai berkolusi dengan kekuatan asing.

Wong sering berkunjung ke Washington di mana dia menyeru Kongres AS untuk mendukung gerakan demokrasi Hong Kong dan melawan cengkeraman Beijing yang semakin ketat atas pusat keuangan global itu. Kunjungannya memancing kemarahan Beijing, yang mengatakan dia adalah tangan hitam kekuatan asing.

Wong membubarkan kelompok pro-demokrasi Demosisto pada Juni, hanya beberapa jam setelah parlemen China mengesahkan undang-undang keamanan nasional untuk Hong Kong tanpa melalui persetujuan legislatif lokal kota, sebuah langkah yang dikritik secara luas oleh pemerintahan Barat.

Rekan lamanya, Agnes Chow, dan dua pegiat lainnya juga termasuk di antara 10 orang yang ditangkap polisi pada Agustus karena dicurigai melanggar undang-undang baru.

Undang-undang baru itu menghukum apa pun yang dianggap China sebagai tindakan subversi, pemisahan diri, terorisme, dan kolusi dengan kekuatan asing, dengan hukuman penjara seumur hidup.

Wong baru berusia 17 tahun ketika ia menjadi wajah protes demokrasi Gerakan Payung yang dipimpin mahasiswa pada tahun 2014, tetapi ia bukanlah tokoh utama dari kerusuhan yang kerap disertai kekerasan yang mengguncang bekas jajahan Inggris yang semi-otonom itu tahun lalu.

Undang-undang anti-masker diperkenalkan tahun lalu dalam upaya untuk membantu polisi mengidentifikasi pengunjuk rasa yang mereka curigai melakukan kejahatan. Undang-Undang itu digugat di pengadilan. Sementara itu kini pemerintah Hong Kong telah mewajibkan masker wajah dalam banyak situasi karena pandemi virus corona. (net/smr)

LEAVE A REPLY