Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengklaim turunnya biaya haji tahun ini Rp4 juta jika dibanding 2024, yakni Rp93.410.286. Di mana biaya Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH) 2025 ditetapkan sebesar Rp89.410.258,79. Penurunan biaya ini adalah sesuatu yang jarang terjadi, mengingat sebagian besar pengeluaran haji justru naik setiap tahunnya.
semarak.co-Menag Nasaruddin menjelaskan, seharusnya biaya haji justru naik sekitar 40% karena sebagian besar belanja dilakukan di luar negeri. Kemudian diambil contoh pengeluaran seperti biaya hotel, transportasi, dan makan jemaah yang mayoritas dibayar dalam mata uang asing.
Di sisi lain, bantuan dari dana abadi umat yang disalurkan melalui Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) juga mengalami penurunan. Maka itu ongkos naik haji. Baru tahun ini turun. Aneh bin Ajaib. Karena tahun 2024, sebesar 15 ribu dolar ya kan? Belanja kita itu kan 80% itu belanja luar negeri.
Demikian paparan Menag Nasaruddin dalam rangka sosialisasi Asta Protas (8 Program Prioritas) 2025 – 2029 Kementerian Agama Berdampak dan Buka Puasa Bersama insan Media di gedung Kemenag, kawasan Thamrin Jakarta Pusat, Kamis sore (6/3/2025).
Dilanjutkan Menag Nasaruddin, “Kemudian bantuan dari dana abadi umat itu melalui BPKH itu hanya sudah turun, sekarang bantuannya ke ke jemaah haji. Tahun lalu masih 40%, sekarang ini hanya lebih 30% sedikit.”
Meski ada tekanan biaya, Menag Nasaruddin menyebut penghematan dilakukan dengan mengurangi tenaga kerja manual dan mengoptimalkan teknologi informasi (IT). Menurutnya, penerapan sistem IT ini membuat proses lebih efisien dan mengurangi kebutuhan sumber daya manusia.
“Yang tadinya dulu dikerjakan oleh manusia, orang banyak, sekarang kita menggunakan IT. Satu komputer dengan jaringan itu bisa menghemat tenaga kerja juga,” tutur Menag Nasaruddin yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal.
Selain penghematan, Menag Nasaruddin menekankan peningkatan kualitas layanan dengan sistem yang lebih transparan dan efisien. Ia berharap terobosan ini membuat jemaah haji merasa lebih nyaman dan terlayani dengan baik.
Menag Nasaruddin kemudian memastikan penyelenggaraan haji tahun ini lebih transparan dan efisien. Artinya tidak ada lagi monopoli dalam pengadaan layanan haji karena semua transaksi dilakukan langsung ke penyedia utama atau tangan pertama. Dulu orang belanja hotel, belanja kebutuhan-kebutuhan di sana itu seperti makanan.
Kemudian juga bus dan sebagainya, itu membelinya di tangan ketiga, tangan kedua. “Kami mencoba bersama tim kami, ini langsung masuk ke tangan pertama, dengan konsekuensi kita coba membuat satu sistem dan tidak ada lagi sistem monopoli sekarang,” kata Nasaruddin.
Pemangkasan jalur distribusi ini berhasil menurunkan biaya layanan haji. Dengan persaingan yang lebih sehat, penyedia jasa berlomba memberikan harga terbaik. “Jadi monopoli itu pasti mahal. Nah sekarang ini pemain di rebutan banting harga, bagaimana tidak turun,” jelasnya.
Rekrutmen petugas, pemilihan penyedia layanan seperti bus dan katering, hingga akomodasi dilakukan melalui sistem berbasis teknologi. “Rekrutmen petugas masuk ke sistem. Calon pendaftar bus yang dipakai di sana, kemudian makanan, segala macam itu masuk ke system,” tuturnya.
Jadi yang menentukan like and dislike bukan lagi, tapi yang menentukan adalah sistem. Dengan sistem ini, Nasaruddin berharap tercipta asas keadilan dalam penentuan petugas dan penyedia layanan. Kualitas dan kriteria menjadi tolok ukur utama, bukan kedekatan personal.
“Semua ditentukan oleh sistem. Sekalipun Anda hebat tahun lalu, tapi kalau tidak masuk krediterian dalam sistem apa boleh dibuat? You have to get out. Kamu tidak lolos ya, apa boleh dibuat?” pesan Menag Nasaruddin.
Meski masih dalam tahap awal, Menag Nasaruddin membuka diri terhadap kritik dan masukan untuk penyempurnaan sistem ini. Ia berharap sistem berbasis IT ini bisa menjadi solusi jangka panjang dalam penyelenggaraan ibadah haji yang lebih baik dan transparan.
Diketahui sebelumnya, Menag Nasaruddin Umar memperkenalkan Asta Protas Kemenag Berdampak atau delapan program prioritas Kemenag berdampak. Program-program ini menjadi langkah konkret Kemenag dalam menyelesaikan Asta Cita serta 17 program prioritas yang telah ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.
“Asta Protas ini berisi delapan program besar, yang outputnya diharapkan berdampak langsung pada masyarakat serta berkontribusi terhadap penyelesaian Asta Cita dan 17 program prioritas Presiden dan Wapres. Ini insyaAllah akan kita kerjakan selama periode 2025 sampai 2029,” terang Menag Nasaruddin.
Delapan program prioritas Kemenag, meliputi: (1) Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan; (2) Penguatan Ekoteologi; (3) Layanan Keagamaan Berdampak; (4) Mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah, dan Terintegrasi; (5) Pemberdayaan Pesantren; (6) Pemberdayaan Ekonomi Umat; (7) Sukses Haji; dan (8) Digitalisasi Tata Kelola.
Paparan 8 Asta Protas Kemenag RI
- Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan
Terdapat lima hal penting yang dilakukan, antara lain adalah upaya peningkatan kualitas kerukunan, penguatan moderasi beragama pengembangan dan insersi kurikulum berbasis cinta kemanusiaan dan penghargaan terhadap perbedaan. Pemberdayaan dan pemeliharaan rumah ibadah terus dilakukan, diiringi penguatan pembinaan umat.
“Regulasi kerukunan umat beragama akan kita perkuat, termasuk penguatan peran KUA untuk mendeteksi dini potensi konflik berdimensi keagamaan. Kita akan lakukan pengembangan dan insersi kurikukum berbasis cinta kemanusiaan dan penghargaan terhadap perbedaan di lembaga pendidikan dan kediklatan binaan Kemenag,” rincinya.
- Penguatan Ekologi
Krisis iklim menjadi isu global. Indonesia harus terdepan dalam pelestarian lingkungan. Itu harus berangkat dari pemahaman dan kesadaran keagamaan akan pentingnya merawat bumi. Agama kaya akan nilai pelestarian lingkungan. Di Islam ada konsep khilafah yang harus dipahami manusia sebagai pelestari alam raya. Ada ajaran Tri Hita Karana dalam Hindu, dan Laudato Si’ dalam Katolik.
Terkait hal ini, Kemenag akan menginisiasi upaya pelestarian lingkungan di lembaga pendidikan agama dan lembaga keagamaan. Misalnya dengan penanaman satu juta pohon, penggalangan wakaf pohon dari calon pengantin, dan lainnya.
Kita akan terapkan green building untuk sarana prasana pendidikan agama dan keagamaan. Konsep ini baik terkait penggunaan sumber daya berkelanjutan, pengelolaan air dan limbah, hingga efisiensi energi Selain itu, Kemenag juga akan mengintensifkan diklat berbasis kesadaran lingkungan secara kolaboratif, melibatkan tokoh agama dan masyarakat.
- Layanan Keagamaan Berdampak
Kemenag harus hadir di setiap problem keagamaan umat. Relevansi progran menjadi penting agar ada dampak yang dirasakan langsung. Hal ini antara lain akan kita lakukan melalui penguatan Bimbingan Perkawinan, Pengarusutamaan Keluarga Maslahat, Pembangunan KUA Inklusif dan Ramah.
“Kita juga akan lakukan penguatan layanan keagamaan di wilayah 3T. Kemenag juga akan siapkan bantuan kitab suci dan bahan bacaan keagamaan ramah difabel untuk menguatkan literasi keagamaan umat,” sambungnya.
- Mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah dan Terintegrasi
Bagian tugas Kemenag adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemenag bersyukur lembaga pendidikan agama dan keagamaan makin kompetitif. Ke depan kita akan kembangkan agar lebih unggul lagi, terintegrasi dalam sistem, terdigitalisasi, relevan, serta didukung SDM berkualitas dan sarana prasarana yang memadai dan inklusif.
“Kita juga akan selesaikan PPG Guru Dalam Jabatan, insya Allah dalam dua tahun ke depan. Jika guru tersertifikasi, harapannya akan lebih profesional. Kesejahteraan juga bisa ditingkatkan melalui tunjangan profesi. Kemenag akan memberikan beasiswa pendidikan,” ujarnya.
Kemenag juga akan berikan beasiswa pendidkan, baik melalui skema Kartu Indonesia Pintar maupun Beasiswa Indonesia Bangkit. Ke depannya, harap Menag Nasaruddin, Kemenag akan melakukan akselerasi akreditasi unggul pada PTKN, serta pemguatan kualitas literasi keagamaan berbasis budaya digital dan media sosial.
- Pemberdayaan Pesantren
Pesantren berkontribusi, sejak sebelum Indonesia merdeka. Lahirnya UU Pesantren menjadi momentum rekognisi dan afirmasi. “Kemenag terus komitmen kembangkan pesantren sebagai tempat pembelajaran yang aman, ramah anak, dan inklusif. Bahkan, pesantren selama ini terbukti ikut menopang pertumbuhan ekonomi umat,” paparnya.
Kemenag ke depan akan menguatkan kemandirian pesantren melalui pemberiam bantuan inkubasi bisnis. “Kita harap jumlah Badan Usaha Milik Pesantren akan terus bertambah. Kita harap bisa sampai 5.000,” sebut Menag.
Nantinya, Kemenag juga akan mendirikan pesantren internasional serta melakukan penguatan kualitas dan rekognisi bagi lulusan pesantren. “Kita saat ini juga sedang menggodok pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren,” tuturnya.
- Pemberdayaan Ekonomi Umat
Masyarakat Indonesia dikenal religius dan peduli. Karenanya, potensi dana sosial keagamaan Indonesia mencapai ratusan triliun. Zakat misalnya, potensinya mencapai Rp327 triliun. Tapi yang terhimpun baru sekitar Rp41 triliun.
“Kita akan lakukan penguatan tata kelola untuk optimalisasi peran dana sosial keagamaan. Penghimpunan dana sosial harus maksimal dan distribusinya tepat sasaran sehingga berdampak pada pemberdayaan ekonomi umat,” tegasnya.
Kemenag akan melakukan penguatan regulasi tata kelola dana sosial keagamaan, serta integrasi data pemanfaatan dana sosial keagamaan berbasis wilayah atau komunitas.
- Sukses Haji
Haji 2025 kemungkinan menjadi haji terakhir dikelola Kemenag. Kemenag harus memberikan legacy terbaik. “Kita upayakan jemaah tersenyum di awal, saat persiapan, senyum di tengah saat menjalankan ibadah haji, dan senyum di akhir usai berhaji. Semoga semua mabrur,” harap Menag
Kemenag telah menyelesaikan buku manasik haji. Substansinya tidak hanya fiqih, tapi juga tasawwuf. “Kita akan terus lakukan penguatan ekosistem ekonomi haji. Insya Allah ekspor bahan makanan nusantara dan keperluan jemaah akan meningkat.
Kita akan kembali terapkan skema murur dan juga tanazul secara lebih sistematis. Terobosan Kemenag tahun ini adalah transparan daftar nama jemaah haji, baik reguler maupun khusus.
8.Digitalisasi Tata Kelola
Digitalisasi adalah kunci untuk layanan keagamaan yang murah, mudah, efisien dan transparan. “Kami ingin, digitalisasi di semua layanan. Beragam informasi disajikan dalam satu layanan data,” kata Menag Nasaruddin.
Menurutnya, layanan data ini penting karena dari tata kelola data yang akurat, dapat dilakukan berbagai intervensi kebijakan secara tepat dan transparan. “Mengapa satu layanan data ini menjadi penting? karena dari tata kelola data yang akurat, kita dapat melakukan berbagai intervensi kebijakan dengan tepat dan transparan. Ini jadi prioritas kami,” jelasnya.
Berbagai sistem informasi diintegrasikan dalam satu aplikasi. Sistem pengembangan SDM juga berbasis digital agar bisa diikuti secara masif oleh stakeholders Kemenag. “Kemenag terapkan manajemen talenta, sistem merit, dan reformasi birokrasi,” pungkasnya. (net/lin/smr)





