Epstein Files kembali menjadi perbincangan global setelah Kementerian Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen terkait Jeffrey Epstein pada akhir Januari 2026. Rilis ini menambah dimensi baru dalam upaya transparansi kasus kejahatan seksual yang melibatkan Epstein.
Semarak.co – Yaitu terpidana kekerasan seksual terhadap perempuan di bawah umur yang meninggal dunia pada 2019. Dalam kumpulan berkas tersebut, nama Indonesia juga ikut muncul. Namun, berbeda dengan polemik yang terjadi di Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara lain.
Di mana penyebutan tokoh Indonesia dalam Epstein Files memiliki konteks yang beragam dan tidak serta-merta menunjukkan keterlibatan dalam tindak pidana. Dokumen yang dirilis pada pekan terakhir Januari merupakan publikasi terbesar sejak Kongres Amerika Serikat mengesahkan undang-undang transparansi berkas Epstein pada November 2025.
Total rilis mencakup sekitar tiga juta halaman dokumen, disertai 180.000 foto dan 2.000 video. Di dalamnya, nama figur publik dunia seperti Donald Trump, Elon Musk, hingga Andrew Mountbatten-Windsor disebut berulang kali dalam berbagai konteks.
Bersamaan dengan itu, penelusuran katalog menggunakan kata kunci Indonesia menemukan sedikitnya 902 berkas yang memuat rujukan terhadap Indonesia maupun individu asal Tanah Air.
Konteks Penyebutan Nama Indonesia
Keberadaan nama Indonesia dalam Epstein Files tidak memicu kontroversi besar di dalam negeri. Hingga kini, tidak ditemukan bukti yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara individu Indonesia yang disebut dengan aktivitas kriminal Epstein.
Penting digarisbawahi bahwa keberadaan nama dalam arsip ini tidak otomatis berarti keterlibatan. Banyak dokumen bersifat kliping berita, laporan analisis, korespondensi institusi, atau catatan administratif yang dikumpulkan dalam proses hukum dan penyitaan dokumen. Berikut sejumlah nama tokoh Indonesia yang disinggung dalam Epstein Files:
Hary Tanoesoedibjo
Nama Hary Tanoesoedibjo muncul dalam dokumen FBI berlabel unclassified bertajuk Federal Bureau of Investigation CHS Reporting yang bertanggal Oktober 2020. Laporan ini merupakan dokumen resmi yang mencatat informasi dari confidential human sources (CHS).
Dalam laporan tersebut, Hary disebut terlibat dalam pengembangan hotel-hotel bermerek Trump dan dikenal sebagai seorang miliarder. Dokumen itu juga menyinggung rencana proyek Trump Residences Indonesia yang direncanakan di Bogor dan Bali.
Selain itu, laporan FBI mencatat bahwa Hary disebut memperkenalkan Donald Trump kepada sosok yang digambarkan sebagai “CIA Indonesia”, yang diduga merujuk pada individu dari Badan Intelijen Negara, meskipun identitasnya tidak dijelaskan.
Disebut pula bahwa Hary membeli kediaman Trump di Beverly Hills dengan harga yang dinilai tinggi dalam laporan tersebut. Konteks dokumen ini berkaitan dengan penyelidikan pengaruh domestik atau asing yang tidak semestinya terhadap proses pemilu Amerika Serikat, dan terunggah sebagai bagian dari kumpulan berkas yang memiliki keterkaitan tidak langsung dengan jaringan Epstein.
Eka Tjipta Widjaja
Nama pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, tercantum dalam dokumen yang membahas transaksi properti mewah Donald Trump pada 2009. Disebutkan bahwa sebuah rumah dijual seharga US$ 9,5 juta kepada entitas Swiss yang terhubung dengan keluarga Widjaja.
Transaksi tersebut dilakukan secara tunai melalui perusahaan cangkang, dengan pengurusan administratif yang dibantu oleh Michael Cohen, mantan pengacara Trump. Penyebutan nama ini berkaitan dengan catatan transaksi properti, bukan interaksi personal dengan Epstein.
Joko Widodo dan Sri Mulyani
Nama Joko Widodo juga muncul dalam Epstein Files, namun sifatnya murni informatif. Penyebutannya terdapat dalam pembaruan berita dan laporan situasi politik Indonesia yang dikirim sebagai bagian dari kliping atau ringkasan informasi.
Tidak terdapat komunikasi langsung maupun tidak langsung antara Joko Widodo dan Jeffrey Epstein. Nama Jokowi muncul semata sebagai subjek pemberitaan, bukan pihak yang berinteraksi. Sementara itu, dokumen yang memuat nama Sri Mulyani berasal dari arsip internal World Bank Group bertanggal 18 Juni 2014.
Dokumen tersebut merupakan email dan materi komunikasi internal institusi keuangan internasional, bukan dokumen pribadi milik Epstein. Dalam arsip tersebut, Sri Mulyani disebut dengan jabatannya saat itu sebagai managing director and chief operating officer World Bank Group.
Penyebutan namanya berkaitan dengan peluncuran President’s Delivery Unit (PDU), unit strategis untuk memantau pencapaian target pembangunan secara real-time. Sri Mulyani menekankan fungsi PDU sebagai pelengkap sistem pengukuran kinerja yang sudah ada, termasuk corporate scorecard World Bank.
Ia juga menyoroti peran unit ini dalam memastikan target pembangunan tercapai, serta indikator terkait International Development Association yang dinilai mencerminkan efektivitas reformasi internal. Seluruh isi dokumen berada dalam kerangka tata kelola institusi dan tidak menunjukkan keterkaitan apa pun dengan Jeffrey Epstein.
Soeharto
Nama presiden kedua RI, Soeharto, muncul secara tidak langsung dalam Epstein Files. Penyebutannya terdapat dalam dokumen yang memuat usulan penulisan buku tentang dirinya, yang diajukan oleh Gregory Brown kepada Epstein.
Kafrawi Yuliantono
Kafrawi Yuliantono digambarkan dalam dokumen sebagai seorang hotelier yang terkait dengan jaringan JW Marriott. Ia disebut berupaya menjalin kerja sama dengan Epstein setelah pertemuan di Bali.
Kemunculan nama-nama tokoh Indonesia dalam Epstein Files mencerminkan luasnya cakupan dokumen yang dirilis, bukan indikasi keterlibatan dalam kejahatan Jeffrey Epstein. Sebagian besar penyebutan bersifat kontekstual, administratif, atau berupa kliping informasi. (egi/amk/smr)
Sumber: WAGroup Platform AMKI (postKamis5/2/2026/sp)





