Gus Menteri Abdul Halim Iskandar memberi sambutan. foto: humas Kemendes PDTT

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengimbau warga desa yang saat ini berada di tanah rantau untuk kembali menunda mudik. Uang lebaran yang terkena larangan mudik untuk keluarga di desa saja.

semarak.co-Mendes PDTT mengatakan, uang yang ditransfer oleh perantau kepada keluarganya di desa akan membantu meningkatkan perputaran ekonomi dalam suasana hari raya Idul Fitri di tengah pandemi Covid-190 ini.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 yang terjadi sejak pertengahan Maret 2020 ini memberikan dampak pada penurunan aktivitas ekonomi secara nasional. Mendes PDTT mengajak warga desa untuk mengisi kegiatan di bulan Ramadan dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

“Saya imbau tolong jangan mudik. Kirimkan saja duitnya lewat pos, wesel, atau bank ke keluarga di desa. Yang penting semuanya sehat,” ujar Gus Menteri, sapaan akrab Mendes PDTT di Jakarta, Kamis (15/4/2021) seperti dilansir humas melalui WGroup Rilis Kementerian Desa (Kemendes) PDTT.

Pandemi Covid-19 yang kembali dialami di bulan Ramadan, harap Gus Menteri, tidak menjadi penghalang bagi produktifitas ekonomi dan produktifitas sosial masyarakat di desa.

BACA JUGA :  Gerakan Sosial SolidLawanCovid, CIMB Niaga Salurkan Bantuan APD ke RSUI dan RS Marinir

“Ayo seluruh warga desa untuk bersama-sama mengimbau kepada keluarga yang di rantau, agar jangan pulang dulu. Saling mengikhlaskan, mendoakan biar yang di desa tenang, yang dirantau juga tenang,” ujarnya.

Kebijakan larangan mudik menjadi upaya yang harus dilakukan untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Meski demikian, lanjutnya, upaya-upaya pemerintah tetap dijalankan agar perputaran ekonomi di hari raya dapat tetap berjalan.

“Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi terus melakukan pengecekan terkait dana desa yang sudah tersalur dan yang sudah termanfaatkan supaya ekonomi menggeliat. Supaya Ramadan ini, bisa dinikmati oleh siapapun dia, termasuk yang kekurangan akibat Covid-19,” ujarnya.

Di lain kesempatan, Gus Menteri meminta desa yang telah menerima pencairan dana desa untuk segera menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa. Menurutnya, percepatan penyaluran BLT Desa penting dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga di Bulan Ramadan.

“Saya sangat berharap, tolong kepada kepala desa, perangkat desa, yang dana desanya sudah ada, plotting BLT Desa yang sudah disiapkan, segera salurkan. Supaya bisa dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan warga desa di Bulan Ramadan ini,” ujar Gus Menteri di Jakarta, Kamis (15/4/2021) terpisah.

BACA JUGA :  PT SMI dan Bloomberg Philanthropies Perkuat Komitmen Pencapaian SDGs

Per 12 April, kutip dia, sebanyak Rp11,361 triliun dari total Rp72 Triliun dana desa tahun 2021 telah cair dan masuk ke rekening desa. Terkait hal itu, Kemendes PDTT terus melakukan upaya percepatan penyaluran, agar dana desa dapat segera dimanfaatkan oleh desa.

“Dari Rp72 Triliun dana desa tahun ini, yang sudah cair masuk ke desa sebanyak Rp11,361 Triliun yang tersalur ke 34.053 desa dari 74.961 desa. Jadi sekitar 45 persen desa di Indonesia sudah menerima pencairan dana desa,” ungkapnya.

Gus Menteri mengingatkan, aturan larangan mudik akan berdampak pada penurunan aktivitas ekonomi warga desa di hari raya. Mengatasi hal tersebut, Kemendes PDTT berupaya mengoptimalkan dana desa untuk BLT dan Padat Karya Tunai Desa (PKTD).

Di samping adanya berbagai program jaring pengaman sosial lainnya seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai, Bantuan Sembako, dan sebagainya.

“Alhamdulillah, berkat kebijakan Presiden, dana yang ada di APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja) ini digelontorkan sedemikian rupa ke desa. Ada PKH, bantuan pangan non tunai, ada sembako. Nah terkait program dana desa ada BLT dan padat karya tunai desa,” ujarnya.

BACA JUGA :  Targetkan Pemasaran CWLS Rp5 Miliar, BNI Syariah Edukasi dan Sosialisasi Sukuk Ritel Seri SWR001

Menurut Gus Menteri, BLT dan PKTD menjadi salah satu andalan Kemendes PDTT untuk dapat meningkatkan daya beli masyarakat di desa. Meski ia mengakui, dua program tersebut belum dapat menggantikan totalitas perputaran uang desa di masa mudik lebaran sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

“Meskipun belum bisa menggantikan totalitas perputaran duit pada saat musim mudik lebaran di waktu sebelum pandemi Covid-19 dengan kondisi sekarang. Pasti jauh. Tapi dengan adanya penopang jaring pengaman sosial ini, pasti suasana desa akan sedikit tertolong,” ujarnya. (nov/smr)

LEAVE A REPLY