Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengajak Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong secara langsung meninjau industri dan hilirisasi kelapa di kawasan transmigrasi Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.
Semarak.co – Mentrans mengatakan, kawasan transmigrasi saat ini tidak lagi hanya sebagai lokasi produksi komoditas primer, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
“Dulu kawasan transmigrasi identik dengan produksi bahan mentah, sekarang sudah berkembang industri dan hilirisasi yang membentuk ekosistem ekonomi baru yang lebih baik,” kata Iftitah, saat kunjungan ke PT Natural Indococonut Organik (NICO) di Kabupaten Halmahera Utara, dirilis humas melalui WAGroup ForWaTrans, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, kehadiran industri pengolahan kelapa telah memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Jika sebelumnya harga kelapa di tingkat petani hanya berkisar Rp500 hingga Rp700 per butir, kini meningkat menjadi Rp2.500 hingga Rp3.000 per butir seiring meningkatnya permintaan dari industri.
Selain meningkatkan nilai ekonomi komoditas, industri kelapa juga menjadi sumber penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. Saat ini sekitar 85 persen tenaga kerja yang bekerja di industri tersebut berasal dari masyarakat lokal.
“Dengan adanya industri, permintaan terhadap kelapa meningkat sehingga harga di tingkat petani naik berkali-kali lipat. Selain itu, industri ini juga membuka lapangan kerja yang luas. Hampir 85 persen tenaga kerjanya merupakan masyarakat lokal dengan pendapatan yang berada di atas UMR,” ujarnya.
Iftitah menjelaskan, salah satu alasan mengajak Dubes Tiongkok adalah besarnya peluang pasar yang tersedia. Berdasarkan hasil komunikasi dan kunjungan sebelumnya ke Tiongkok, kebutuhan kelapa di negara tersebut mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun, sementara produksi domestiknya hanya sekitar 1 miliar butir.
“Kebutuhan kelapa di Tiongkok sangat besar, mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Sementara yang bisa dipenuhi dari dalam negeri mereka hanya sekitar 1 miliar butir. Artinya masih ada kebutuhan sekitar 3 miliar butir yang menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk Halmahera Utara,” ujarnya.
Potensi tersebut semakin terbuka dengan rencana pengembangan pabrik baru oleh PT NICO yang diproyeksikan mampu menggandakan kapasitas produksi. Jika terealisasi, pabrik tersebut diperkirakan dapat menyerap hingga 20 ribu tenaga kerja dan menghasilkan sekitar 570 juta butir kelapa per tahun.
“Jika pabrik baru itu terealisasi, produktivitasnya bisa mencapai sekitar 570 juta butir kelapa per tahun dan membuka lapangan kerja hingga 20 ribu orang. Dengan pasar yang besar di Tiongkok maupun negara-negara lain, kami optimistis pengembangan ini akan menjadi penggerak ekonomi baru di Halmahera Utara,” tambahnya.
Dubes Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong mengapresiasi potensi industri kelapa Indonesia, khususnya di Halmahera Utara. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia dan menjadi pemasok utama kebutuhan kelapa di Tiongkok.
“Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen kelapa dunia. Tiongkok masih sangat bergantung pada impor kelapa dari luar negeri dan Indonesia menjadi salah satu pemasok utama. Kami melihat peluang kerja sama yang sangat besar, tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga pengembangan industri pengolahan dan investasi,” ujar Wang Lutong.
Dirinya menambahkan bahwa hampir seluruh bagian kelapa memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari makanan, minuman, kosmetik hingga bahan bangunan.
Untuk memperkuat daya saing kawasan, Kementerian Transmigrasi juga akan mendorong penyelesaian sejumlah kebutuhan infrastruktur pendukung, termasuk peningkatan jalan produksi dan pengembangan pelabuhan khusus ekspor agar distribusi produk lebih efisien.
Selain itu, pemerintah juga melihat potensi hilirisasi lanjutan dari berbagai bagian kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk serabut kelapa yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan maupun produk industri lainnya. (RDP/SMR)





