Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau lokasi pembangunan Rumah Hunian bagi masyarakat terdampak bencana di Desa Napa, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Semarak.co – Peninjauan dilakukan untuk memastikan progres pembangunan rumah hunian berjalan sesuai dengan rencana yakni sebelum Ramadhan, serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sebelum hunian dimanfaatkan.
Dody berpesan pentingnya percepatan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya ketersediaan air bersih agar hunian benar-benar siap ditempati. Misalnya penyediaan air minum dapat segera diselesaikan dan dipastikan berfungsi sebelum masyarakat menempati hunian.
“Hunian harus siap secara menyeluruh. Air bersih tidak boleh menjadi persoalan ketika masyarakat mulai menempati,”pesan Dody, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis PU608, Jumat (23/1/2026).
Di lokasi tersebut, Kementerian PU membangun 252 unit hunian yang terdiri dari 21 blok modular diperuntukkan bagi 245 kepala keluarga terdampak bencana (sesuai kebutuhan). Setiap blok modular terdiri atas unit hunian dan unit sanitasi komunal, dengan total fasilitas 126 unit toilet dan 126 unit shower.
Kawasan hunian juga dilengkapi fasilitas umum berupa masjid, gedung serbaguna, dapur umum, area cuci, ruang komunal, pos jaga, TPS, area hijau, lapangan olahraga, serta area parkir guna mendukung aktivitas dan kebutuhan dasar penghuni.
Secara teknis, rumah hunian dibangun menggunakan sistem struktur modular dengan rangka baja ringan dan baja CNP, dinding sandwich panel, penutup atap metal, serta lantai GRC dengan finishing vinyl. Setiap unit dirancang memiliki ventilasi dan pencahayaan untuk mendukung kenyamanan penghuni.
Selain air bersih, Menteri Dody juga menekankan pentingnya sarana sanitasi yang layak serta sistem pengelolaan lingkungan yang baik untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan penghuni.
Percepatan pembangunan rumah hunian di Batang Toru tetap memperhatikan aspek keselamatan konstruksi, kelayakan fungsi, serta pemenuhan standar pelayanan dasar bagi masyarakat terdampak bencana.
Menteri PU Dody Tinjau Penanganan Banjir Aek Garoga
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo juga meninjau lokasi penanganan banjir di Sungai Aek Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, sebagai bagian penanganan darurat bencana di wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.
Sungai Aek Garoga menjadi salah satu titik prioritas penanganan pascabanjir yang terjadi pada November 2025, dengan fokus pada normalisasi alur sungai dan pengamanan infrastruktur di sekitarnya.
Dalam penanganan darurat, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan telah mengerahkan 8 unit excavator PC 200, 2 unit excavator long arm, dan 1 unit excavator capit untuk melakukan normalisasi sedimentasi sungai serta pembersihan material kayu dan debris yang menyumbat alur sungai.
Dody Hanggodo menegaskan bahwa penanganan di Aek Garoga tidak hanya ditujukan untuk pemulihan pascabanjir, tetapi juga untuk memastikan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan fungsi sungai dalam jangka panjang.
“Penanganan banjir ini tidak hanya bersifat sementara. Kita harus memastikan alur sungai kembali berfungsi dengan baik, sedimen dan debris dibersihkan, serta infrastruktur di sekitarnya, termasuk jembatan dan permukiman warga, benar-benar aman. Semua langkah yang kita ambil harus berbasis kajian teknis,” ujarnya.
Dody juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan aparat setempat dalam percepatan penanganan darurat. “Penanganan darurat ini terus dipercepat dan dikawal bersama. Keselamatan adalah prioritas utama, dan kehadiran negara harus dirasakan oleh warga yang terdampak,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BBWS Sumatera II Medan Feriyanto Pawenrusi menjelaskan bahwa strategi utama penanganan di Aek Garoga adalah membuka alur sungai yang tertutup oleh sedimentasi dan tumpukan kayu-kayu di sungai
Adanya alur sungai baru yang terbentuk akibat bencana banjir, disiapkan menjadi tempat menampung air apabila terjadi banjir di masa datang. BBWS Sumatera II juga tengah menyiapkan rencana pembangunan sabo dam sebagai bagian dari pengendalian sedimen di hulu sungai.
“Kalau sabo dam terbangun, jembatan akan lebih aman. Secara perhitungan, kapasitas sungai ini sebenarnya memadai untuk debit banjir, namun masalah utamanya jembatan tertutup debris sehingga aliran air mencari alur baru,” lanjut Ferry.
Kementerian PU berkomitmen terus melanjutkan penanganan darurat sekaligus menyiapkan solusi permanen pengendalian banjir di Aek Garoga guna meningkatkan ketahanan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi di masa mendatang. (hms/smr)





