Menteri PANRB Tjahjo Kumolo saat membuka Pekan Memori Kolektif Dunia dan Webinar Internasional Soekarno Mengguncang Dunia: To Build the World a New yang digelar Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) secara virtual di Jakarta, Senin (11/10/2021). Foto: humas PANRB

Lika-liku perjalanan sebuah negara dapat tercatat dengan baik dalam arsip sebagai informasi aktual atas peristiwa penting yang telah dilalui. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo menjelaskan, arsip negara merupakan memori kolektif yang berperan sebagai identitas dan jati diri bangsa.

semarak.co-Mengutip dari Bung Karno, Menteri Tjahjo menyampaikan bahwa presiden pertama Indonesia tersebut berkeinginan kuat untuk menciptakan peran arsip sebagai sumber pembelajaran sejarah perjalanan bangsa.

“Tentunya, arsip juga berperan sebagai pertanggungjawaban nasional atas perencanaan, pelaksanaan, dan penyelenggaraan pemerintahan,” ucap Menteri Tjahjo saat membuka Pekan Memori Kolektif Dunia dan Webinar Internasional Soekarno Mengguncang Dunia: To Build the World a New yang digelar Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) secara virtual di Jakarta, Senin (11/10/2021).

Sebagai memori kolektif, lanjut Menteri Tjahjo, arsip merupakan endapan informasi bangsa yang mengandung nilai-nilai mendasar bagi pendidikan karakter, jati diri bangsa, serta berperan dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme.

“Arsip, sebagai warisan dokumenter perjalanan sebuah bangsa dan negara juga berfungsi sebagai ingatan dunia yang perlu dilestarikan,” imbuh Menteri Tjahjo seperti dirilis humas melalui WAGroup JURNALIS PANRB, Senin malam (11/10/2021).

Sebagai khazanah sejarah bangsa, lanjut dia, arsip memainkan peran yang strategis untuk terus dapat menjaga identitas bangsa Indonesia bagi generasi yang akan datang. Melalui Pekan Memori Dunia: Memory of World, memori kolektif bangsa dapat didiseminasikan dengan baik.

Pada tahun ini, ANRI mengusung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok dan pidato Presiden Soekarno di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960 dengan judul To Build the World a New sebagai ingatan kolektif dunia atau memory of the world.