Lebih Rp43 Miliar Bantuan untuk Guru dan Santri Aceh Terdampak Banjir Segera Cair

Penyerahan bantuan untuk guru dan santri terdampak bencana di Aceh oleh Wamenag Romo Muhammad Syafii didampingi oleh Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, Faisal Ali Hasyim.Foto: humas Kemenag

Ribuan guru pesantren dan santri di Aceh yang terdampak peristiwa hidrometeorologi akan segera menerima bantuan dari Kementerian Agama (Kemenag). Total dana yang disiapkan mencapai lebih dari Rp43 miliar. Bantuan ini dijadwalkan disalurkan pada pekan ketiga November 2026.

Semarak.co – Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i dalam pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kanwil Kemenag Aceh.

Bantuan diterima Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Aceh, Muntasyir, bersama Ketua Tim Lembaga Pendidikan Alquran (LPQ) Bidang PD Pontren, Muzakkir.

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, merinci bantuan untuk guru pesantren berjumlah Rp12,96 miliar bagi 4.321 penerima, atau Rp3 juta per guru. Untuk santri, dana yang disiapkan sebesar Rp31,92 miliar bagi 17.738 santri, atau Rp1,8 juta per santri. Seluruhnya ditujukan bagi penerima yang terdampak banjir akhir tahun lalu.

“Bantuan yang hampir Rp13 miliar ini disalurkan bagi 4.321 penerima, atau setara Rp3.000.000 per guru pesantren terdampak bencana banjir akhir tahun lalu,” kata Azhari, Kamis, (5/11/2026).

“Sedangkan bantuan untuk santri terdampak banjir akhir tahun lalu, sejumlah Rp31.928.400.000. Bantuan yang hampir Rp32 milyar ini disalurkan bagi 17.738  santri atau setara Rp1.800.000 per santri,” tambahnya.

Muntasyir menjelaskan bahwa saat ini panitia sedang membuatkan rekening bagi masing-masing penerima. Dana akan ditransfer langsung setelah tahap tersebut selesai.

Selain bantuan langsung, Azhari melaporkan perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas Kemenag yang rusak akibat banjir. Rehabilitasi kantor Kemenag di Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Kota Langsa masih berlangsung.

Untuk Kantor Urusan Agama (KUA), pekerjaan rehabilitasi dan pengadaan peralatan telah mencapai progres fisik 85 persen.

Pemulihan juga menyentuh layanan pendidikan dan keagamaan warga. Pembangunan kembali Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Pidie Jaya yang hanyut diterjang banjir telah mencapai 43,31%.

Bangunan baru itu mencakup ruang kelas, gedung kantor, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang UKS, dan kantin. Sementara itu, KUA Putri Betung di Gayo Lues yang hilang saat banjir akan dibangun di lokasi baru di atas tanah yang diupayakan bersama melalui kemitraan Kankemenag setempat.

Penanganan rumah ibadah dan pondok pesantren terdampak juga terus dilakukan melalui penyaluran bantuan secara bertahap. Meski demikian, Azhari mengungkapkan sejumlah kendala. Beberapa lokasi yang sebelumnya terdampak kembali dilanda banjir, sementara waktu efektif yang tersisa untuk merealisasikan program hanya sekitar tiga bulan.

“Percepatan realisasi perlu menjadi perhatian bersama, mengingat waktu efektif yang tersisa sekitar tiga bulan. Karena itu, diperlukan tim pengawasan di tingkat pusat, Kanwil, serta kabupaten/kota,” ujarnya dirilis humas usai acara melalui link resmi kemenag.go.id dilansir WAGroup Jurnalis PU, Jumat (6/11/2026).

Di tengah upaya pemulihan itu, Kemenag tengah menyiapkan struktur penanganan bencana yang lebih permanen. Wamenag Romo Syafi’i menyampaikan bahwa pembentukan tim ini sudah hampir selesai.

“Alhamdulillah, sudah hampir selesai. Jadi kan ada tim pusat koordinasi langsung bukan dengan garis putus-putus ke wilayah, sampai ke kankemenag dan ke KUA. Dan kita sebenarnya selama ini personil kita di bawah itu sudah dipakai oleh BNPB. Ke depan kita langsung menjadi tim tanggap bencana,” kata Wamenag.

Tim Koordinasi Penanganan Bencana tersebut akan dipimpin Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, Faisal Ali Hasyim, yang hadir dalam kegiatan di Aceh itu.

Dalam rapat koordinasi pematangan tim pada 2 November 2026, Faisal memaparkan bahwa tim berperan sebagai koordinator.

Tugasnya meliputi koordinasi bantuan tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi, pendataan wilayah dan korban terdampak, serta penghimpunan dan penyaluran dana melalui rekening Kemenag Peduli secara tertib dan akuntabel.(hms/nag/sam)