Oleh Prof. Didik J Rachbini *)
Semarak.co – Kasus korupsi Nadiem Makarim berangkat dari ide digitalisasi pendidikan. Ini adalah proyek besar nasional yang hendak mentransformasikan dunia pendidikan menjadi modern dan selangkah lebih maju dibandingkan dengan negara-negara emerging market lainnya.
Karena itu, biaya proyek pengadaan laptop Chromebook ini sangat besar hampir Rp10 triliun. Atau dua kali dari proyek e-KTP yang juga berantakan dan hasilnya nihil karena dikorupsi petinggi partai.
Proyek era Nadiem Makarim menjabat Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudsaintek) ini secara administratif dan kebijakan sudah salah kaprah sejak awal. Karena menganggap bahwa transformasi sistem pendidikan modern bisa disulap dengan cara tekno-solusi (tech-solutionism).
Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden saat itu begitu yakin merekrut orang hebat seperti Nadiem Makarim, maka gagasan besar digitalisasi pendidikan terjadi. Jokowi memang sejak awal silau dengan AI, teknologi informasi, survei, dan lain-lain. Karena itu, Jokowi yang endorse proyek tersebut dan menyampaikannya secara terbuka.
Di start-up, Nadiem sangat lincah menakhodai Gojek sampai besar seperti sekarang. Tidak ada yang membantahnya dan prestasi ini yang membuat Jokowi silau terhadap Nadiem kemudian memberinya tugas mentransformasikan sistem pendidikan menjadi modern melalui digitalisasi.
Masalah ini terjadi karena Nadiem tidak mempunyai modal sosial politik yang memadai masuk ke dalam birokrasi kelas atas. Meskipun memiliki akses langsung terhadap presiden dan presiden sendiri secara langsung mendukung proyek tersebut.
Tapi pertanggungjawaban publik terhadap anggaran publik dan hukum tetap harus dijalankan. Dalam hal ini akan adil jika Jokowi diminta datang ke pengadilan karena sudah disebut-sebut di dalam sidang.
Tetapi karena ada dimensi politik dari kasus ini, maka hukum dan pengadilan tidak juga mampu menghadirkan Jokowi. Kita sayang kepada Nadiem, pujian dan penghargaan luar biasa terhadapnya justru menjadi jebakan ketika masuk ke wilayah politik yang penuh onak dan duri.
Keputusan Jokowi memasukkannya ke dalam politik seperti memasukan ke dalam perangkap. Kita berharap di masa mendatang tidak ada lagi anak muda yang berprestasi di dunianya masuk ke dalam kubangan politik abu-abu, yang penuh ranjau dan jebakan.
Mark Zuckenberg, Elon Musk, Jensen Huang dan orang hebat lainnya tidak perlu masuk politik dan tetap besar namanya di dunianya sendiri.
*) Rektor Universitas Paramadina Jakarta dan Pengamat Ekonomi
Sumber: WAGroup Alumni Mistik (postJumat15/5/2026/ikram)





