Oleh Muhammad Abudan *)
Semarak.co-Sebetulnya, kasus ijazah Palsu Jokowi dianggap sebagai suara Barisan Sakit Hati (BSH) yang belum terima keadaan bahwa group Jokowi yang menang dalam Pilpres 2024 dgn mengusung Prabowo (PS) dan Gibran (GR).
Padahal sebagian dari pendukung Anies (AB) sdh jelas² menyatakan menerima hasil Pilpres 2024 dan mendukung Pemerintahan PS, tapi diam² tdk mendukung GR sebagai Wapres karena disebut sebagai Anak Haram Konstitusi.
Pengamat Intelejen juga mengatakan bahwa kekuatan politik setelah Pilpres 2024, terbelah menjadi 3 poros sesuai Capres yg berkontestasi. Tapi perlahan tapi pasti, butiran kristal kekuatan massa bergerak kepada dua poros yaitu:
*) Group Jokowi, yaitu Presiden PS dan Wapres Gibran serta partai² politik pendukungnya yg termasuk dlm KIM dan kemudian meluas menjadi KIM plus, lalu berubah lagi menjadi KIM plus plus setelah partai lain mendukung PS sebagai Presiden.
Dari sisi kesehatan Demokrasi, sebetulnya ini menjadi wabah penyakit dgn ketiadaan Oposisi. Sekarang, soliditas Koalisi KIM plus-plus ini juga menjadi riskan dgn perpecahan. Malah banyak pengamat politik yg menyatakan sdh pecah sejak lama.
Parpol pengusung dan pendukung Capres yg kalah dlm Pilpres juga sdh secara terang²an mendukung Pemerintahan PS, tetapi tidak solid dlm mendukung Gibran sebagai Wapres.
*) Group Anies Baswedan (AB), yg kalah dlm kontestasi politik pada Pilpres 2024 tetapi tetap mendapat dukungan dari masyarakat, walaupun AB dan Muhaimin hanya memperoleh suara 26%. Seolah perolehan suara itu menjadi wajar (tidak curang dan tidak dicurangi).
Karena 26% itu diasumsikan sebagai gabungan perolehan suara dari 3 parpol pengusung AB, yaitu Nasdem, PKS dan PKB. Walaupun parpol pendukung Anies sdh lebur dan bubar tetapi sebagai kekuatan massa, pendukung AB belum bubar dan terus mendukung Anies.
Itu dibuktikan dgn dukungannya kepada Cagub & Cawagub DKI Jakarta, Pramono – Rano yg meraih sukses setelah di menit² terakhir kampanyenya dapat dukungan dari group Anies yg disuarakan Geisz Chalifah.
Secara tidak langsung, inilah kekuatan politik massa yg layak disebut Oposisi, walaupun Non Parlemen, dan menempatkan Anies sebagai tokoh oposisi. Dari situlah, apapun kegaduhan dan issu yg muncul di kalangan masyarakat, pasti pengamat politik dan intelejen selalu mengaitkannya dgn AB.
Karena filosofinya pengamat politik dan politikus serta pengamat intelejen, yaitu Tidak ada yg kebetulan terjadi di dunia ini, semuanya adalah hasil rekayasa politik (kekuasaan), baik secara langsung ataupun tidak langsung. (Kekuatan politik dan intelejen sdh seperti kekuatan Tuhan).
Dalam kaitan dgn kasus Ijazah Palsu Jokowi, siapa yg getol (intens) menyuarakannya? Semua sdh mafhum, itulah TPUA (Tim Pembela Ulama & Aktifis) yg didirikan FPI dan dilanjutkan Eggi Sudjana (Aktifis dan Alumni HMI) yang menjabat sebagai Ketua atau Presiden TPUA.
Belakangan, setelah ramai diperbincangkan khalayak dan media, lalu TPUA akan ke Yogya dan Solo pada 15 & 16 April 2025. Muncullah nama² baru yg melesat namanya ketika mereka hadir di Yogya, ke UGM dan mengadakan Konferensi Pers (Konpers) setelah diterima oleh pihak Rektorat UGM.
Mereka adalah Roy Suryo, Dr. Tifa dan Dr. Rismon Hasiholan Sianipar yang merupakan alumni UGM dari Fakultas yg berbeda. Mereka prihatin kepada Kampusnya (UGM) yg mau menerbitkan ijazah palsu bagi Jokowi.
Kali ini yg terpojok bukan hanya Jokowi, mantan Presiden RI, tetapi juga UGM sebagai institusi Pendidikan yg kredibel dan termasuk tertua di Indonesia. Tudingan politisi, buzzer, pendukung Jokowi dan pengamat intelejen bahwa kegaduhan ijazah palsu Jokowi ini adalah ulah sebagian ummat Islam garis keras pendukung AB, mulai goyah.
Karena tudingan dan tuduhan itu menjadi tidak obyektif setelah muncul ketiga orang Alumni UGM tsb. Sebagaimana kita tahu, Roy Suryo, pakar Telematika, mantan Anggota DPR dari partai Demokrat dan mantan Menpora pada era SBY.
Dr. Tifa, seorang wanita pintar dan cerdas yg tidak bisa tinggal diam ketika kejujuran diabaikan. Dr. Rismon Hasiholan Sianipar, pakar Digital Forensik yang memang ahli di bidangnya dan mendapat keahliannya di Jepang.
Tudungan dan Tuduhan bahwa isu ijazah palsu Jokowi adalah suara dari BSH yg tidak bisa menerima kekalahan AB pada Pilpres 2024 dan itu merupakan suara dari orang² Islam yang fundamentalis, radikalis, teroris dan intoleran itu adalah Bohong, Tipu dan Dusta besar.
Karena banyak orang Non Muslim sekalipun yg moralnya masih terjaga, tidak bisa menerima keadaan dimana kebohongan dipertontonkan dan kepalsuan dipamerkan di depan umum.
Apalagi kita lihat bersama ada Rocky Gerung dan Dr. Rismon Hasiholan Sianipar yg dgn ilmunya masing² menunjukkan walaupun keduanya NonMuslim tetapi suara hati nuraninya kepada kejujuran dan kebenaran begitu kuat dan menyala.
Tuhan mengirim mereka untuk menjawab tudingan dan tuduhan itu bahwa hal ini obyektif bukan berdasar pada subyektifitas atau kebencian seperti yg dilakukan pihak seberang. Kita prihatin terhadap negeri ini yg berusaha membungkam kejujuran dan kebenaran.
Apalagi setelah Bareskrim Polri mengumumkan hasil penyelidikannya, layaknya seorang Hakim yang membacakan Putusannya di depan Sidang Pengadilan. Wallaahu A’lam. Walhamdulillaah.
Rabel, Jkt, 24 Mei 2025
*) Mantan Dosen HTN di Jakarta
Sumber: WAGroup HMI-KAHMI MPO SeIndonesia (postSenin26/5/2025/)