Khidmat PKS di Titik Bencana Mencari Simpati? PKS Malang, PKS Sayang

Kolase gambar berbagai kegiatan PKS dalam terjun ke bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Foto: dok PKS

Oleh Tamarudin *)

Semarak.co – PKS hadir di dunia politik di Indonesia bukan dalam hitungan hari. Sudah melewati sekian kali peristiwa politik. Pileg, Pilpres atau Pilkada. Sudah sekian kali terjun di titik musibah di Wilayah Indonesia. Tsunami, Gempa, Banjir, Longsor, Kebakaran, dan musibah-musibah lainnya.

Bacaan Lainnya

Hampir di setiap musibah-musibah itu PKS selalu hadir. Tidak peduli dipuji atau dinyinyiri. Pokoknya aksi, aksi dan aksi. Baik dalam skala Nasional atau lokal. Lalu apakah aksi-aksi atau khidmat itu dalam rangka mencari simpati? Mengumpulkan insentif elektabilitas?

PKS MELEK DATA

Jika khidmat dalam rangka tujuan diatas, maka tidak akan berseleweran lagi seragam-ragam orange ini. Karena berdasarkan analisa-analisa data internal PKS, dari PEMILU ke PEMILU, khidmat-khidmat itu tidak terlalu berpengaruh signifikan kepada elektabilitas atau capai suara PKS di even-even politik tersebut.

Apalagi jika dikaitkan dengan hitung-hitungan cost yang dikeluarkan dan tenaga kader yang dimobilisasi. Jika PKS mau, kalau berdasarkan ukuran capaian suara PKS akan lebih memilih untuk tidak terlalu berlelah-lelah mengerahkan kader terjun untuk berkhidmat di titik-titik bencana.

KEMANUSIAAN DIATAS POLITIK

Namun PKS adalah rumah para aktifis-aktifis dakwah. Dibina berbasiskan nilai-nilai Islam universal.  Memilih berpolitik untuk memperluas kemashlahatan. Faham bahwa kemanusiaan  tidak boleh dikalahkan oleh pragmatisme politik. Karena Islam itu Rahmatan Lil ‘Alamin.

Kader-kader PKS yang terjun ke titik-titik bencana itu bukanlah kader-kader yang menunggu antrian sebagai calon pejabat publik yang dijanjikan oleh pempinan. Karena PKS tidak mengenal jenjang karir politik. Mereka adalah kader-kader dengan setumpuk tanggung jawab dan kewajiban atas diri atau keluarganya.

Tapi mereka tidak egois, meninggalkan urusan pribadi demi misi kemanusiaan. Mereka terpanggil untuk berbuat baik, karena mereka tahu Tuhan tidak tidur. Khidmatnya bukan untuk kemenagan PEMILU, tapi untuk kemenangan dihadapan Rabb kelak di akhirat. Amin Ya Allah.

PKS Malang, PKS Sayang

Di berbagai sudut negeri dari banjir bandang di Sumatra, longsor di Jawa Barat, hingga kebakaran pemukiman di perkotaan, warna oranye rompi relawan sering muncul lebih cepat daripada kamera media. Mereka datang bukan untuk kampanye, bukan pula untuk berdebat politik.

Mereka datang membawa logistik, tenaga, dan ketulusan. Fenomena ini sudah berulang selama bertahun-tahun, sehingga melahirkan satu pertanyaan besar dari publik, Jika PKS hampir selalu hadir dalam setiap bencana, mengapa saat pemilu mereka justru kerap dilupakan.

Bahkan tak jarang menjadi sasaran fitnah dan olok-olok? Pengamat politik dan sosiologi agama melihat pola yang unik dari kultur internal PKS. Spirit gerakan sosial partai ini berakar pada konsep khidmah, pelayanan yang diyakini sebagai ibadah.

Dalam tradisi dakwah, “amal tidak bergantung balasan manusia”sebuah prinsip yang secara ideologis menyuburkan keteguhan relawan PKS turun ke lapangan bahkan ketika angka elektabilitas tak selalu sejalan.

Dosen politik Islam dari salah satu universitas negeri menyebut fenomena ini sebagai “Etos pengabdian jangka panjang yang tidak berorientasi siklus lima tahunan. Sebagian kader memaknai kerja kemanusiaan sebagai jalan memperbaiki masyarakat, bukan sekadar jalan menuju kemenangan elektoral.

Kenapa Tetap Diserang dan Dilupakan?

  1. Politisasi Identitas

Dalam lanskap politik Indonesia, narasi keagamaan sensitif. PKS sering dilekatkan stereotip tertentu, sehingga apa pun yang dilakukan, bahkan yang positif sering dibaca melalui kacamata prasangka politik.

  1. “Invisible Work” saat bukan musim politik

Kerja-kerja kemanusiaan adalah pekerjaan yang tidak selalu diliput media besar. Publik sering hanya melihat kerja partai lain saat panggung pemilu, namun lupa bahwa ada pihak yang bekerja sunyi di balik layar.

  1. Keberpihakan Politik Publik yang Emosional

Pilihan politik masyarakat sering tidak rasional dan tidak selalu berdasar rekam jejak. Emosi, citra, dan opini viral di media sosial kerap lebih membentuk preferensi.

  1. Resistensi terhadap kelompok yang konsisten

Ada fenomena sosial: pihak yang terlalu rajin berbuat baik justru lebih mudah disalahpahami. Ini bukan hanya dialami PKS, tapi banyak gerakan sosial di dunia. Konsistensi kadang mengundang kecurigaan, bukan apresiasi.

Lalu, Mengapa Tetap Tidak Lelah?

Dalam wawancara dengan sejumlah relawan, pola jawabannya hampir sama:

“Kami tidak datang untuk dipilih, kami datang karena manusia sedang butuh bantuan.”

Secara teologis, banyak dari mereka berpegang pada prinsip:

“Barangsiapa menolong saudaranya, Allah akan menolongnya.” (Jika diterjemahkan, maknanya sangat universal.)

Secara politis, partai juga memahami bahwa reputasi jangka panjang dibangun oleh konsistensi, bukan oleh marah atau kecewa ketika tidak dipilih. Ada bentuk kedewasaan politik yang jarang dibahas: tidak menjadikan rakyat sebagai komoditas, tetapi sebagai amanah.

Dalam kajian politik pelayanan publik (public service politics), partai yang kuat secara organisasi cenderung memiliki mesin sosial yang berjalan terus tanpa tergantung momentum pemilu. Ini menjelaskan mengapa relawan PKS turun bahkan ketika kamera tidak menyala.

Ironi dan Keindahan dalam Satu Kalimat

PKS membantu orang-orang yang mungkin tidak pernah memilih mereka, bahkan kadang memfitnah mereka. Secara akademis, ini disebut “charity without conditionality” amal tanpa syarat.

~~~~~

Secara agama, ini disebut ikhlas.

Secara politik, ini disebut keteguhan identitas gerakan.

~~~~

Siklus yang Terus Berulang

Pada akhirnya, keberadaan PKS di lokasi bencana bukan hanya catatan politik, itu adalah catatan budaya organisasi, doktrin spiritual, dan etos kemanusiaan yang tidak meminta imbalan.

Mereka mungkin dilupakan saat pemilu.

Mereka mungkin diserang saat debat publik.

Namun ketika sirene ambulan berbunyi dan tanah retak karena bencana,

yang datang pertama ke garis depan…

adalah mereka yang tidak pernah berhitung suara.

Sebuah ironi.

Sebuah keindahan.

Dan sebuah konsistensi yang tidak dimiliki banyak partai lain.

https://www.facebook.com/ProfRocky

#Banjir #MusimBanjir #SiagaBanjir #PantauBanjir

#UpdateBanjir #InfoBanjir #BanjirHariIni

#BanjirIndonesia #CuacaHariIni #HujanDeras

#WaspadaBanjir #BencanaAlam #MitigasiBencana

#DaruratBanjir #EvakuasiBanjir #RelawanBencana

#AksiKemanusiaan #RelawanIndonesia #PeduliSesama

#BantuKorbanBanjir #SolidaritasIndonesia

#DonasiBanjir #KemanusiaanTanpaBatas

#GerakCepat #SigapBencana #PeduliBanjir

*) penulis kader PKS

 

Sumber: WAGroup FBM Jakarta Barat (postSabtu6/12/2025/akram)

Pos terkait