Kementrans Siapkan Salor Papua Selatan sebagai Pusat Pengembangan Pangan hingga Pendidikan Vokasi

Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara saat kunjungan ke Salor Papun Selatan. (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi / Antonius A. Giovanni)

Kawasan Transmigrasi Salor di Papua Selatan disiapkan sebagai pusat pengembangan pangan, riset pertanian, dan pendidikan vokasi, guna mendukung agenda swasembada pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Tanah Papua.

Semarak.co – Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan Salor memiliki posisi strategis, tidak hanya sebagai salah satu sentra pangan terbesar di Papua Selatan, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan baru yang akan menopang perkembangan wilayah sekitarnya.

Bacaan Lainnya

“Salor ini lokasi Ibu Kota Papua Selatan. Papua Selatan adalah salah satu contoh provinsi yang berkembang dari kawasan transmigrasi. Selain Papua Selatan, terdapat Sulawesi Barat dan Kalimantan Utara,” ujar Mentrans di Salor, dirilis humas usai acara melalui WAGroup FotWaTrans, Senin (8/6/2026).

Sebagai bagian dari pengembangan kawasan, Pemerintah Indonesia bersama Kedubes Tiongkok tengah menjajaki pembangunan pusat riset padi dan sekolah vokasi pertanian yang diharapkan dapat memperkuat produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kapasitas generasi muda Papua.

“Kami ingin kawasan sentra pangan ini tidak hanya menghasilkan produksi yang tinggi, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan pertanian. Karena itu, kami menjajaki dukungan hibah untuk pembangunan pusat riset padi dan sekolah vokasi pertanian di kawasan ini,” kata Mentrans.

Duta Besar RRT untuk Indonesia, Wang Lutong, menyatakan pihaknya melihat potensi besar Salor sebagai pusat pertumbuhan baru di kawasan timur Indonesia. Ini adalah pertama kalinya dia mengunjungi kawasan transmigrasi di Indonesia.

“Saya melihat potensi yang sangat besar di sini. Kami sedang menjajaki berbagai kemungkinan kerja sama, termasuk pusat pelatihan pertanian, pusat riset padi, dan pengembangan kapasitas masyarakat untuk mendukung pertumbuhan kawasan,” ujar Wang Lutong.

Pengembangan tersebut juga akan melibatkan berbagai perguruan tinggi mitra, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk mendukung penguatan riset, pendidikan, dan inovasi di sektor pangan.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat swasembada pangan nasional, tetapi juga menjadikan Salor sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menghadirkan pendidikan yang lebih baik, lapangan kerja yang lebih luas, dan kesejahteraan yang lebih tinggi bagi masyarakat Papua Selatan.

Jangan Sampai Anak Lokal Menjadi Penonton di Tanah Sendiri

Di tengah pesatnya pertumbuhan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia, Kementerian Transmigrasi menegaskan pentingnya memastikan masyarakat lokal menjadi bagian utama dari kemajuan yang sedang berlangsung.

Karena itu, penguatan pendidikan, pelatihan vokasi, dan keterampilan kerja menjadi salah satu fokus pengembangan kawasan transmigrasi di Manggarai Barat.

Komitmen tersebut disampaikan Mentrans Iftitah saat mendampingi Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Wang Lutong, meninjau pembangunan fasilitas pendidikan dan sanitasi di SD Inpres Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Menurut Menteri Iftitah, pembangunan kawasan tidak hanya diukur dari banyaknya investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat setempat.

“Saya membawa Pak Duta Besar ke kawasan transmigrasi ini karena kami ingin kawasan ini terus tumbuh. Tetapi yang lebih penting, manfaat dari investasi tersebut tidak hanya dinikmati oleh para pengusaha. Anak-anak yang ada di sini harus menjadi bagian dari masa depan itu,” ujarnya.

Mentrans menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci utama agar generasi muda Manggarai Barat mampu mengambil peluang yang lahir dari pertumbuhan sektor pariwisata.

Karena itu, Kementerian Transmigrasi tengah menjajaki pengembangan sekolah vokasi pariwisata yang dapat menyiapkan tenaga kerja terampil di bidang hospitality, layanan wisata, dan industri pendukung lainnya.

“Kami sedang menawarkan beberapa kawasan kepada investor untuk dikembangkan menjadi pusat pendidikan vokasi pariwisata. Tujuannya agar kualitas hospitality masyarakat lokal semakin baik dan mereka mampu menjadi pelaku utama dalam industri pariwisata,” kata Menteri Iftitah.

Selain pendidikan vokasi, Kementrans juga mendorong penguatan kemampuan bahasa asing, termasuk bahasa Mandarin, seiring meningkatnya jumlah wisatawan dan investor asal Tiongkok yang datang ke Labuan Bajo.

“Labuan Bajo sekarang sudah menjadi destinasi wisata dunia. Jangan sampai masyarakat lokal tertinggal. Karena itu pendidikan merupakan kunci terbaik untuk memastikan mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, pendapatan yang lebih baik, dan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Duta Besar RRT untuk Indonesia Wang Lutong menyambut baik gagasan tersebut. Menurutnya, pusat pembelajaran bahasa Mandarin dapat menjadi salah satu bentuk kerja sama yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.

“Saya percaya ke depan akan semakin banyak wisatawan dan investor Tiongkok yang datang ke Labuan Bajo. Karena itu kemampuan berbahasa Mandarin akan menjadi nilai tambah yang penting bagi masyarakat di sini,” kata Wang. (AAF/SMR)

Pos terkait