Pemerintah terus melakukan pemulihan pascabencana setelah banjir melanda pulau Sumatra pada November 2025, salah satunya melalui Program Ekraf Peduli: Infrastructure Rehabilitation and Priority Profiling di Kabupaten Aceh Tamiang pada 14 sampai 16 Oktober 2026.
Semarak.co – Program ini memanfaatkan inovasi teknologi dalam melaksanakan pemetaan kondisi infrastruktur dan kebutuhan wilayah sebagai bahan pendukung dalam mengidentifikasi prioritas pemulihan.
“Melalui Program Ekraf Peduli, kami ingin mendorong inovasi teknologi dapat dimanfaatkan membantu jawab persoalan konkret yang dihadapi daerah,” ujar Direktur Kreativitas Teknologi Kemenekraf Dandy Yudha Feryawan.
“Pemetaan ini menjadi langkah awal untuk memperoleh gambaran kondisi dan kebutuhan di lapangan secara lebih komprehensif,” ujar Dandy Yudha Feryawan dirilis humas usai acara melalui WAGroup Kemenekraf Siaran Pers, Rabu sore (4/11/2026).
“Dengan demikian, hasilnya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam mengidentifikasi prioritas penanganan dan menjajaki solusi sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah,” ungkap Dandy.
Pemerintah memperkuat fondasi pemulihan sekaligus memfasilitasi pemanfaatan inovasi bersama startup teknologi dalam negeri, Niriksagara.
Kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi Kemenekraf yang terkoordinasi dengan lintas perangkat daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.
Mulai dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga yang memfasilitasi koordinasi, hingga pertukaran informasi teknis yang melibatkan Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan, serta dinas terkait sesuai karakteristik lokasi.
“Kami menyambut baik kegiatan pemetaan yang dilaksanakan Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang,” ujar Muhammad Farij sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Aceh Tamiang.
Dukungan perangkat daerah sesuai dengan tugas dan kewenangan menjadi penting untuk memberikan informasi mengenai kondisi wilayah serta kebutuhan yang perlu mendapat perhatian.
“Kami berharap hasil pemetaan ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan prioritas penanganan dan koordinasi lebih lanjut dengan para pemangku kepentingan,” harap Muhammad Farij.
Muhammad Farij menambahkan bahwa kolaborasi ini diharapkan dapat berkesinambungan melalui pembahasan hasil pemetaan dan tindak lanjut yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah serta kewenangan masing-masing pihak.
Kolaborasi di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi langkah strategis untuk memperkuat pemanfaatan inovasi berbasis kebutuhan nyata, sekaligus mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang lebih terarah dan responsif terhadap karakteristik wilayah menuju transformasi bangsa.
Dalam pemetaan tersebut, tim mengidentifikasi sejumlah titik strategis di Kabupaten Aceh Tamiang, mencakup Tamiang Sport Center, Gedung Amphiteater, area persawahan Paya Udang, akses jalan menuju Pantai Pulau Rukui dan Pemandian Dam Rengas, hingga kawasan pusat pemerintahan.
Program Ekraf Peduli menjadi bagian dari komitmen Kemenekraf dalam mendukung Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera.
Melalui pendekatan berbasis data, hasil pemetaan diharapkan memperkaya basis data pemerintah daerah dalam mengukur kebutuhan penanganan infrastruktur, aksesibilitas kawasan, serta potensi pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat.
Keterlibatan perusahaan rintisan Niriksagara juga menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan inovasi karya startup nasional untuk menjawab kebutuhan pembangunan, termasuk dalam situasi pascabencana.
Apalagi mereka sudah mampu mengembangkan teknologi pemetaan infrastruktur dan aktivitas ekonomi berbasis kecerdasan artifisial (AI) sehingga wujud perubahan dibuktikan dan dirasakan rakyat.(hms/kraf/sam)





