Di tengah riuh gelombang informasi digital yang kian bising, daya pikat sebuah cerita yang menyentuh relung emosi manusia tetap tak gampang tergantikan.
Semarak.co – Berangkat dari pemikiran tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif merajut ruang perjumpaan bagi para pemikir dan penggerak industri global dalam gelaran hari ketiga World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang berlangsung hangat di CGV Grand Indonesia, Jumat (23/10).
Suasana akrab dan intim begitu terasa ketika Velvet Class CGV disulap menjadi panggung Creative Session bertajuk The Human Frequency: Where Stories Outlive the Noise.
Diskusi ini mengajak para peserta menyelami kembali esensi penceritaan (storytelling), di mana kejujuran rasa dan koneksi antarmanusia menjadi fondasi utama agar sebuah pesan mampu bertahan melampaui hiruk-pikuk tren sesaat.
Kegiatan ini juga menegaskan bahwa radio dan talenta suara (voice over) merupakan pilar ketahanan informasi yang krusial serta bagian tak terpisahkan dari subsektor Kementerian Ekonomi Kreatif.
Radio tidak hanya berfungsi sebagai media alternatif saat jaringan internet terputus, melainkan mengandalkan kekuatan storytelling dan kehangatan interaksi manusia.
Karakter serta keunikan suara para penyiar menjadi aset berharga yang mampu menggetarkan hati sekaligus membangun ikatan emosional yang kuat dengan para pendengarnya.
Radio bukan hanya soal frekuensi musik, melainkan kekuatan karakter suara yang mampu menggerakkan hati dan membuka peluang kerja di berbagai subsektor ekonomi kreatif lain seperti film dan animasi.
“Melalui penguatan subsektor televisi dan radio, kita mendorong integrasi ekosistem ekraf tanpa ego sektoral agar para voice talent radio terus terhubung dengan pasar global,” ujar Wamenekraf, Irene Umar, saat mengikuti diskusi.
Sesi ini menghadirkan jajaran praktisi media dan penyiar terkemuka dari Kis 95.1 FM. Masing-masing narasumber membagikan perspektif mendalam mengenai kekuatan narasi
“Radio adalah panggung kemanusiaan tempat cerita autentik didengar. Kejujuran narasi di dalamnya bahkan mampu melariskan usaha bubur lokal, membuktikan peran nyata radio dalam menggerakkan ekonomi kreatif,” Radio Announcer Kis 95.1 FM, Ivy Batuta.
“Dampak tersebut lahir dari kedekatan interpersonal yang menyatukan komunitas. Melalui suara dan cerita personal, nilai kemanusiaan yang disampaikan radio mampu terus membekas melampaui dinamika zaman (outlive the noise),” ujar Radio Announcer Kis 95.1 FM, Udjo Project Pop.
“Di tengah gempuran konten instan, konsistensi menyampaikan cerita yang bernyawa inilah yang menjaga relevansi radio. Keautentikan interaksi ini menggerakkan jiwa sekaligus memberi dampak sosial yang abadi,” Radio Announcer Kis 95.1 FM, Aldo Turangan.
“Koneksi sejati itu tercipta saat kita relevan dengan realita pendengar. Penceritaan yang baik bukan sekadar tentang apa yang kita ucapkan, tetapi tentang membuat pendengar merasa didengar,” Radio Announcer Kis 95.1 FM, Kai Soerja dirilis humas usai acara melalui WAGroup Kemenekraf siaran Pers, Sabtu sore (24/10/2026).
“Suara dan narasi memiliki daya magis untuk membangun imajinasi. Kehangatan personal inilah yang menjadi ruh siaran dan tak akan pernah bisa digantikan oleh AI,” ujar Radio Announcer Kis 95.1 FM, Sogi Indraduadja.
Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, Kementerian Ekraf menghadirkan fasilitas _B2B matchmaking_ selama penyelenggaraan WCCE 2026. Fasilitas ini dirancang untuk menghubungkan para _voice talent_ dan penyiar lokal secara langsung dengan para pelaku industri film, animasi, hingga gim dari skala nasional maupun internasional.
Rancangan program Kemenekraf selalu menuju ke persatuan dan memberikan market kepada pelaku ekonomi kreatif, salah satunya voice over, karena kekuatan voice over tidak bisa di-replace oleh AI. Di balik siaran radio terdapat kehangatan interaksi manusia dan potensi voice over luar biasa yang tidak dapat digantikan oleh teknologi AI.
Sejalan dengan semangat tersebut, penyelenggaraan WCCE 2026 diharapkan mampu memacu para pelaku industri kreatif Indonesia untuk melahirkan konten berkualitas tinggi yang berdaya saing global, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pelopor ekonomi kreatif dunia melalui kehadiran ruang-ruang diskusi inspiratif seperti Creative Sessions.(hms/kraf/sam)





