Kemendikdasmen Dorong Terbangunnya Budaya Sekolah ASRI untuk Wujudkan Pendidikan Bermutu

Mendikdasmen Abdul Mu'ti, saat mengunjungi Sekolah Santo Fransiskus Jakarta, Rabu (15/7).

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong terbangunnya budaya sekolah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sebagai bagian dari upaya mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua melalui Partisipasi Semesta.

Semarak.co – Komitmen tersebut disampaikan Mendikdasmen Abdul Mu’ti, saat mengunjungi Sekolah Santo Fransiskus Jakarta, Rabu (15/7), bertepatan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS).

Bacaan Lainnya

“Tadi Romo sudah menyampaikan lingkungannya bersih, lingkungannya nyaman, lingkungan sosialnya membuat kita merasa damai dan tenang di dalamnya. Dan inilah yang ingin kita bangun di semua sekolah di Indonesia termasuk di sekolah Fransiskus ini,” ujar Abdul Mu’ti, dirilis humas melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Kamis (16/7/2026).

Mendikdasmen menjelaskan, upaya tersebut diperkuat melalui penerbitan Permendikdasmen tentang pembangunan budaya sekolah yang aman dan nyaman. Kebijakan ini mendorong sekolah menjadi ruang yang menghargai martabat setiap warga sekolah melalui interaksi yang dilandasi penghormatan, ketulusan, dan saling memuliakan.

“Ketika kita menjadikan pendidikan ini sebagai proses menjalankan misi kenabian, misi profetik, maka tentu saja kita berusaha bagaimana mewujudkan kemuliaan itu dalam cara kita menyapa sesama murid, menyapa sesama rekan pendidik, dan berinteraksi di lingkungan sekolah ini. Memuliakan berarti menerima semua dengan penuh ketulusan,” tuturnya.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa mewujudkan pendidikan bermutu tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Karena itu, Kemendikdasmen mengajak seluruh pemangku kepentingan berpartisipasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas bagi seluruh anak Indonesia.

“Karena kita berkomitmen bahwa pemerintah ini sebagai penyelenggara negara tidak bisa bekerja sendiri. Kami sangat membutuhkan dukungan dan partisipasi dari masyarakat, dari semua pihak. Karena itu visi Pendidikan Bermutu untuk Semua kami wujudkan dengan Partisipasi Semesta,” tegasnya.

Dalam semangat tersebut, pemerintah memandang sekolah swasta sebagai mitra strategis dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Kontribusi sekolah swasta selama ini menjadi bagian penting dalam memperluas akses pendidikan.

Karena itu, pemerintah membuka kesempatan yang sama bagi sekolah swasta untuk memperoleh program revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan sebagai upaya memperkuat pemerataan layanan pendidikan bermutu.

“Ketika pertama saya menjadi Menteri, saya ditanya, ‘Bagaimana Bapak memandang swasta?’ Jawaban saya sama, swasta adalah mitra. Karena itu kebijakan revitalisasi akan kami selenggarakan, tidak terbatas hanya untuk sekolah negeri saja tetapi juga untuk sekolah swasta,” ujarnya.

Dalam semangat tersebut, pemerintah memandang sekolah swasta sebagai mitra strategis dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Kontribusi sekolah swasta selama ini menjadi bagian penting dalam memperluas akses pendidikan.

Karena itu, pemerintah membuka kesempatan yang sama bagi sekolah swasta untuk memperoleh program revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan sebagai upaya memperkuat pemerataan layanan pendidikan bermutu.

“Ketika pertama saya menjadi Menteri, saya ditanya, ‘Bagaimana Bapak memandang swasta?’ Jawaban saya sama, swasta adalah mitra. Karena itu kebijakan revitalisasi akan kami selenggarakan, tidak terbatas hanya untuk sekolah negeri saja tetapi juga untuk sekolah swasta,” ujarnya.

Salah satu praktik baik dari semangat tersebut terlihat di Sekolah Santo Fransiskus. Ketua Yayasan Santo Fransiskus, Romo Vinsensius Darmnin Mbula, mengatakan sekolah menerima setiap anak tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi ekonomi keluarganya sehingga setiap murid memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan bermutu.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kebijakan pembiayaan yang berpihak kepada peserta didik. Setiap orang tua diberi kesempatan menyampaikan kemampuan ekonominya, sementara sekolah mengoptimalkan pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara efisien serta membangun dukungan dari para donatur dengan prinsip transparansi.

Selain itu, sekolah juga memberikan pendampingan yang lebih personal melalui keberadaan social worker yang melakukan kunjungan ke keluarga peserta didik untuk memahami kondisi setiap anak sehingga pendampingan dapat diberikan sesuai kebutuhan masing-masing.

Bagi Sekolah Santo Fransiskus, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menutup akses pendidikan bagi anak. Karena itu, sekolah memberikan ruang kepada setiap orang tua untuk menyampaikan kemampuan mereka dalam membiayai pendidikan anak.

“Prinsip kami, jangan sampai anak itu tidak sekolah karena dia tidak punya uang. Itu sudah bukan zamannya lagi sekarang,” ungkap Romo Vinsensius.

MPLS Menjadi Awal Membangun Sekolah yang Memuliakan Setiap Murid

Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) menjadi momentum membangun budaya sekolah yang ramah, aman, dan menghargai setiap murid.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat menghadiri pelaksanaan MPLS di Sekolah Santo Fransiskus, Jakarta, Rabu (15/7).

Di hadapan peserta didik baru, guru, dan tenaga kependidikan, Mendikdasmen mengajak seluruh warga sekolah menjadikan hari pertama sekolah sebagai awal menghadirkan lingkungan belajar yang menerima setiap anak serta mendukung mereka tumbuh menjadi generasi penerus bangsa.

Mu’ti menegaskan hari pertama sekolah bukan sekadar masa mengenal lingkungan baru, melainkan awal dari proses pendidikan yang akan membentuk karakter, menumbuhkan harapan, dan mengantarkan anak-anak menuju masa depan.

“Saya merasa sangat berbahagia sekali melihat keceriaan anak-anak yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap kali saya bertemu anak-anak SD terutama, anak TK, saya merasa memiliki energi baru. Saya merasa memiliki semangat yang lebih, karena saya melihat harapan bangsa ada pada mereka,” ujarnya.

Ia menuturkan bahwa setiap anak merupakan titipan Tuhan yang harus dibimbing agar tumbuh menjadi pribadi yang mampu melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya sekaligus menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, dan memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.

Semangat tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan MPLS RAMAH yang menempatkan sekolah sebagai ruang tumbuh bagi seluruh murid. Melalui pendekatan ini, peserta didik diharapkan datang ke sekolah dengan penuh semangat, memperoleh teman baru, serta merasakan sekolah sebagai rumah kedua yang menghadirkan rasa aman dan harapan.

Melalui “MPLS RAMAH, Kemendikdasmen ingin suasana sekolah yang penuh keceriaan sehingga anak-anak datang ke sekolah dengan semangat, dengan penuh cita-cita. Mereka akan mendapatkan kawan baru, mendapatkan suasana yang baru, serta menjadikan sekolah sebagai rumah kedua.

Lebih lanjut, Mendikdasmen menegaskan bahwa sekolah yang ramah tidak hanya diwujudkan melalui lingkungan belajar yang nyaman, tetapi juga melalui sikap seluruh warga sekolah dalam menerima dan mendampingi setiap murid dengan penuh penghormatan.

“Memuliakan berarti menerima semua murid dengan segala keadaan mereka, dan kita dampingi mereka karena sesungguhnya mereka yang berbeda-beda itu punya potensi yang besar untuk menjadi orang-orang yang besar,” tegasnya.

Menurut Abdul Mu’ti, semangat memuliakan setiap murid, diperkuat melalui pendekatan Deep Learning yang dikembangkan Kemendikdasmen. Menurutnya pembelajaran tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia yang tercerahkan, berkarakter, serta mampu menghadirkan kedamaian dan kemajuan di tengah masyarakat.

“Belajar yang tidak sekadar mengumpulkan pengetahuan, tapi belajar di mana kita berusaha untuk dapat menjadi manusia yang berilmu, manusia yang tercerahkan dengan pengetahuan, dan manusia yang dengan pengetahuannya menciptakan damai dan kemajuan di mana pun kita berada.,” ujar Abdul Mu’ti.

Ketua Yayasan Santo Fransiskus, Romo Vinsensius Darmnin Mbula, mengatakan bahwa sekolah menerima setiap anak sebagai pribadi yang berharga tanpa membedakan latar belakang maupun kondisinya. Menurutnya, setiap murid berhak memperoleh layanan pendidikan yang menghargai martabat manusia.

“Kami menerima mereka apa adanya, sesuai dengan prinsip pendidikan untuk semua tanpa mengecualikan. Pendidikan itu adalah memuliakan martabat murid melalui pembelajaran mendalam (Deep Learning) dan koding kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence),” kata Romo Darmnin.

Ia menjelaskan, tema MPLS Sekolah Santo Fransiskus tahun ini, “RAMAH dan Bukalah Pintu Gerbang Kemenangan”, selaras dengan semangat yang dibangun Kemendikdasmen melalui pelaksanaan MPLS RAMAH.

Sekolah, menghadirkan proses pembelajaran yang ramah, lingkungan sekolah yang ramah, serta akses pendidikan yang terbuka sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Pada tahun ajaran 2026/2027, Yayasan Santo Fransiskus menyambut 88 peserta didik baru yang tersebar pada jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. (hms/smr)

Pos terkait