Kemendikdasmen Canangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan

Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melaluiu pendidikan dengan tema “Pemberdayaan Perempuan: Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” di Kantor Badan Bahasa, Jakarta.

Semarak.co – Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan merupakan bagian penting dari visi besar pendidikan nasional. Menurutnya, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan sejalan dengan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Bacaan Lainnya

“Komitmen ini harus menjangkau anak perempuan di desa, kota, pesisir, pegunungan, serta  keluarga yang menghadapi berbagai keterbatasan. Pendidikan tidak boleh diskriminatif, tidak boleh membatasi cita-cita anak perempuan,” tutur Menteri Mu’ti, dirilis humas melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Rabu malam (1/4/2026).

“Kita ingin lahir perempuan Indonesia yang cerdas, sehat, tangguh, berkarakter, mandiri, rendah hati, dan mampu menjadi penggerak kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan perlu ditopang oleh literasi yang utuh,” lanjutnya.

Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin menjelaskan, tema tersebut dilatarbelakangi kesadaran bahwa pendidikan merupakan jalan utama membuka akses perempuan terhadap pengetahuan, membangun kepercayaan diri, mengembangkan keterampilan hidup, serta memperluas kepemimpinan.

“Melalui pendidikan, kualitas sumber daya manusia diperkuat, partisipasi perempuan dalam pembangunan diperluas, serta keluarga dan masyarakat didorong menjadi lebih berpengetahuan, berdaya, dan berkeadaban,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hafidz menyampaikan bahwa bahasa dan sastra memiliki peran strategis sebagai medium pembentuk kesadaran, pengasah daya pikir kritis, serta ruang refleksi atas posisi dan kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial, pendidikan, budaya, dan kebangsaan.

Oleh karenanya, pemberdayaan perempuan, penguatan literasi, serta penguatan nilai kebersamaan merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul, inklusif, dan berdaya saing.

Kegiatan ini yang bertepatan momentum Hari Kartini, dimaknai sebagai agenda pendidikan dan penguatan karakter bangsa yang berkelanjutan. Kemendikdasmen menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini perlu dihadirkan kembali melalui gerakan gemar belajar, penguatan literasi, kehidupan bermasyarakat, serta aksi nyata.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993—1995, Wardiman Djojonegoro menilai pendidikan adalah kunci utama pemberdayaan perempuan, perempuan sebagai subjek pembangunan, pelaku perubahan, dan kekuatan kemajuan bangsa. (hms/smr)

 

Pos terkait