KAI Hadirkan Refleksi Kepemimpinan dan Transformasi Melalui Bedah Buku “Masinis yang Melintasi Badai”

Bedah Buku: “Didiek Hartantyo, Masinis yang Melintasi Badai”,  di Gramedia Makarya Matraman, Jakarta, Rabu (30/7/2025).

PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan ruang refleksi penuh makna melalui Bedah Buku: “Didiek Hartantyo, Masinis yang Melintasi Badai”,  di Gramedia Makarya Matraman, Jakarta, Rabu (30/7/2025).

Semarak.co – Buku ini tidak sekadar mendokumentasikan perjalanan seorang pemimpin, melainkan menjadi cermin dari bagaimana karakter, keberanian, dan nilai kemanusiaan dapat membentuk arah transformasi sebuah organisasi besar di tengah masa-masa paling menantang.

Bacaan Lainnya

Ditulis secara natural dan berdasarkan kejadian nyata, buku ini merekam bagaimana Didiek Hartantyo memimpin KAI melewati krisis pandemi tanpa satu pun pemutusan hubungan kerja. Ketika banyak perusahaan memilih efisiensi ekstrem, Didiek justru melindungi setiap Insan KAI dan mendorong inovasi secara berkelanjutan.

“Transformasi bukan soal sistem, ini soal karakter. Soal keberanian untuk tetap manusiawi di tengah badai,” ujar Didiek, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Pewarta KAI Pusat, Kamis (31/7/2025).

Bagi Didiek, setiap keputusan harus diambil dengan keyakinan, bukan ketakutan. “Kita tidak boleh lebih kecil dari masalah. Kita harus lebih besar dari tantangan. Karena setiap krisis menyimpan peluang,” tegasnya.

Zulfikar Akbar, penulis buku ini menjelaskan bahwa proses penulisan dilakukan secara natural dan mengalir. Tidak ada yang ditambahkan atau dikurangi, karena kenyataan itu sendiri sudah sangat kuat.

Ia menyebut Didiek sebagai pemimpin yang tenang, tidak suka menyalahkan keadaan, dan justru membangun mindset baru di saat krisis. Buku ini adalah bentuk apresiasi terhadap keberanian yang tidak bicara banyak, tapi memberi dampak besar.

Hal senada disampaikan Vice President Sustainability KG Media Wisnu Nugroho, yang menyebut Didiek sebagai pemimpin yang menjalankan dua peran penting sekaligus: pemimpin formal yang mengarahkan struktur, dan pemimpin informal yang membangun budaya kerja melalui keteladanan.

Menurut Wisnu, Didiek datang di saat yang paling sulit. Tapi justru dari situlah beliau menanam nilai. Kepemimpinan yang tidak mengeluh, tidak menyalahkan, tapi justru menghadirkan perubahan.

Transformasi yang dilakukan bukan slogan, tetapi nyata dan dirasakan. Inovasi seperti Panoramic Train, boarding face recognition, serta fitur carbon footprint diluncurkan bukan hanya untuk membangun citra, melainkan sebagai bagian tanggung jawab perusahaan terhadap masa depan.

Aplikasi Access by KAI diperkuat untuk menjangkau pelanggan secara digital, dan kepercayaan publik terus tumbuh. Di bawah kepemimpinan Didiek, KAI dipercaya mengoperasikan LRT Jabodebek dan Whoosh, serta mencatatkan laba Rp2,2 triliun pada 2024. Berbagai penghargaan pun diraih, seperti Gatra Award dan Marketer of the Year.

Didiek memimpin bukan untuk menjadi populer, melainkan untuk menjadi berdampak. “Saya tidak ingin dikenang karena jabatan. Saya ingin dikenang karena dampak. Karena kepemimpinan adalah soal nilai, bukan posisi,” ungkap Didiek.

Menutup acara, Didiek menyampaikan pesan penuh harapan bagi generasi muda. “Kalian lahir di era yang penuh ketidakpastian. Tapi jangan takut, buku ini adalah bukti bahwa bertahan dan berdampak itu mungkin,” ucapnya.

Ia meyakini bahwa dalam setiap tantangan, ada ruang untuk doa, keyakinan, dan keberanian untuk terus melangkah. “This will be done. Bukan janji, tapi komitmen, komitmen untuk terus bergerak meski jalannya tak mudah,” tutup Didiek. (hms/smr)

Pos terkait